"Pak, alangkah baiknya jika Bapak sekarang beristri lagi. Dengan begitu Bapak akan ada yang melayani dan memanjakan," saran Ila pada bapaknya saat mengantarkan Ila ke terminal bus.
"Itu sudah aku pertimbangkan sebelum kamu menyarankannya. Aku kira, kamu bosan tinggal bersamaku dan nenekmu karena kamu tidak pernah mendapat perhatian dari seorang ibu. Dan sebenarnya aku sudah mendapatkan calon ibu barumu. Tapi apa gunanya aku beristri lagi tapi kamu sudah pergi. Niatku beristri lagi tak lain hanya untuk bisa membahagiakanmu, La. Kamu itu bukan istriku dan bukan juga ibuku, tapi kamu telah melayaniku layaknya seorang istri atau ibu.
Kamu mau memasak untukku, mencuci pakaianku, membersihkan rumah, bahkan mau menjaga dan merawat ibuku hingga akhir hayatnya. Aku merasa bersalah telah memperlakukanmu begitu. Mungkin gara-gara hal itulah yang membuat kamu jenuh tinggal bersamaku. Maafkan aku, La." Tutur Bapak Ila dengan suara lemah di saat dia dudukkan dirinya di samping Ila yang mendahului duduk di halte Terminal Bukit Kemuning, Kota Sukabumi, Lampung Utara.
"Nah, dari itu Bapak mesti beristri lagi. Kan Ila sudah tidak bersama Bapak lagi. Dengan begitu istri Bapak nanti akan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik dari Ila, Pak."
"Biarlah aku pikirkan lagi masalah itu. Mmm, kamu sekarang naik bus yang langsung ke terminal bus di Jakarta saja. Biar kamu tidak repot naik-turun untuk gonta-ganti bus," Bapak Ila mengalihkan pembicaraan agar perpisahan itu tidak bernuansa haru.
"Iya, Pak. Ila memang disuruh teman untuk naik bus yang langsung ke Terminal Jakarta, Terminal Rambutan katanya."
Setelah beberapa menit berbincang, Bapak Ila pun mengajak Ila untuk merapat ke bus yang sudah akan berangkat. Namun Bapak Ila masih menyempatkan bertanya pada salah satu kondektur bus yang melintas di dekatnya.
"Mas, mau nanya." Tanya Bapak Ila dengan sopan.
"Iya, Pak." Sahut kondektor bus menghentikan langkah kakinya.
"Bus yang langsung ke Jakarta yang mana, Mas?"
"Di sini jarang, Pak. Naik saja bus ini dulu. Nanti berhenti di Terminal Rajabasa. Di sana kemungkinan besar ada bus yang langsung jurusan ke Jakarta." Jelas si Kondektor yang berpakaian seragamnya.
"Terimakasih, Mas." Bapak Ila berterimakasih setelah mendapatkan penjelasan dan saran dari seorang kondektor bus.
"Iya, Pak." Jawab si Kondektor yang lantas melanjutkan langkah kakinya menuju sebuah kantor yang di sana teman-temannya banyak berkumpul.
Tanpa berbicara atau bertanya, Ila juga bapaknya melangkahkan kakinya lagi untuk tetap naik ke bus yang sudah siap diberangkatkan itu.
Tidak ada pesan dan nasihat lagi dari bapaknya kecuali Ila terus mendapat himbauan agar Ila hati-hati di tiap perjalanannya.
Dan saat bus sudah semakin dikuatkan rontaan mesinnya oleh sopir yang juga sudah siap menguasai gerak laju bus, Bapak Ila melepas Ila dengan rembasan airmata. Ila yang masih berusia muda, masih belum mengerti dengan perasaan yang sedang berkemelut duka pada bapaknya. Ila hanya menunduk setelah mencium punggung telapak tangan bapaknya yang agak kasar. Setelah ibunya meninggal, Bapak Ila juga ditinggal pergi oleh anak satu-satunya hanya untuk bekerja.
"Aku pulang dulu, La. Jaga dirimu baik-baik, ya?" Lagi-lagi Bapak Ila berpesan pada Ila yang sudah duduk di jok depan bus, di belakang sopir.
"Iya, Pak." Jawab Ila singkat karena memang Ila juga tidak kuasa menahan harunya ketika melihat wajah bapaknya yang bermurung rasa bak kehilangan sesuatu yang sangat disayanginya.
Mereka pun berpisah wajah, berpisah tatap, berpisah atap, dan berpisah keluh-kesah.
Dengan gagahnya bus yang ditumpangi Ila bergerak setelah menggeliatkan roda-roda depannya dan dengan erangkan mesinnya. Namun tidak pada perasaaan Ila yang sebenarnya tidak gagah. Ila hanya memberanikan diri, tidak segagah anggapan tetangganya yang dia pamiti. Mereka menyanjung Ila dengan keberanian dan ketekatan Ila yang akan bekerja ke Jakarta.
Tidak ada pilihan lain, kata Ila dalam hati, "Aku harus tetap mewujudkan niatku. Malu jika aku harus mundur."
Melajulah bus menuju Terminal Rajabasa. Sesampainya di sana, Ila ganti bus untuk jurusan akhir ke Terminal Rambutan, Jakarta Timur.
Suasana baru terus Ila dapati. Perjalanannya masih jauh.
Di Pelabuhan Bakauheni, Ila terpesona dengan keramaian dan pemandangan yang ada. Wajahnya yang sudah berminyak dan meletih tergugah untuk menangkapi suguhan aneka pemandangan. Terlihat manusia sibuk dengan apa yang diusahakannya. Sedang laut yang ada, bergerak tenang. Langit dan segala hiasannya juga tampak rapi dengan keelokan-Nya. Apalagi dengan dermaga yang kokoh menahan singgungan-singgungan air laut. Dia diam tak mau sibuk dengan tugasnya.
Saat bus menunggu antrean untuk badannya diatur-bariskan di perut kapal, Ila membeli es kelapa muda yang ditawarkan oleh penjajah makanan saat bus berhenti. Perjalanan Ila yang sudah berjalan sekitar tujuh jam dari awal pemberangkatan membuat Ila menegang batin dan menegang raganya. Dingin es dan segarnya kelapa muda yang berpaduan itu membuat syaraf tegang di otak dan di seluruh tubuh Ila menjadi bangkit dari lesu. Matanya yang semula meredup, saat itu berubah terang memandang. Bibir yang semula kering, saat itu menjadi merah bak bunga mawar merah mekar di pagi hari dengan bercak-bercak embun di kelopak-kelopaknya sebagai penyegar.
Menjelang senja yang sudah tua, bus yang ditumpangi Ila barulah mendapatkan giliran untuk menempatkan badannya di perut kapal yang sudah sesak oleh badan-badan kendaraan beroda lainnya.
Berangkatlah kapal dengan perlahan ketika nahkodanya sudah mendapat perintah untuk meninggalkan pelabuhan yang akan segera diganti kapal lain menempati tempatnya singgah sejenak beristirahat.
Di perjalan laut itu, Ila tidak lagi menahan rasa inginnya membuang air kecil.
Dicarinya toilet umum untuk dia bisa menunaikan hajatnya. Juga dia sempatkan bersujud pada yang telah memberikannya hidup hingga saat itu.
Di samar-samar jelang malam, Ila juga menyempatkan diri menerpakan wajahnya
pada angin laut di geladak atas kapal. Di sana, Ila dapat melihat titik-titik cahaya lampu yang ada di Pelabuhan Bakauheni dan di pemukiman warga tepi pantai yang baru saja ditinggalkannya.
Disangkanya masih lama perjalanan laut, sekitar empat jam, Ila sudah dapat melihat kembali pelabuhan yang lebih sibuk lagi daripada di Pelabuhan Bakauheni. Ila menerka bahwa itu adalah Pelabuhan Merak. Dan memang benar,
pelabuhan yang disandari kapal yang ditumpanginya adalah Pelabuhan Merak.
Lantas bergegaslah Ila menuju ke bus yang akan membawanya untuk melanjutkan perjalanan.
Perut kapal pun ramai dan sibuk oleh suara mesin-mesin kendaraan yang akan keluar dari tempatnya diam semula. Beriliran satu per satu kendaraan keluar bagai dilahirkan oleh kapal yang mengandungnya, yang hanya empat jam di rahimnya. Di jalan raya, setelah melewati gerbang pelabuhan, beradu-cepatlah kendaraan yang seoalah sudah terasa kaku berada dalam perut kapal. Jika pun bisa, mungkin sopir bahkan para penumpang ingin kendaraan yang mereka tumpangi bisa bersayap dan bisa terbang ketika gas diinjak kuat-kuat oleh sopir. Mereka ingin cepat sampai pada tujuannya masing-masing.
Dan tibalah Ila menginjakkan kakinya di Terminal Rambutan setelah sekitar dua jam dibawa bus tumpangannya dari Pelabuhan Merak. Di terminal itulah Ila diwanti-wanti oleh temannya agar berhati-hati jangan sampai tertipu pada calo-calo nakal yang sangat banyak berebut calon korban. Karena sudah larut malam, Ila memutuskan untuk naik taksi menuju alamat rumah kontrakan temannya.
Hanya sehari Ila tinggal bersama dengan temannya karena ternyata di restoran tempat teman Ila bekerja tidak lagi membutuhkan tenaga kerja. Dan untuk menutupi rasa malu dan rasa bersalahnya, teman Ila terus berusaha mencarikan hubungan agar Ila bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya. Akhirnya teman Ila mendapatkan tawaran pekerjaan dari temannya yang berada di Batam. Lantas disampaikan tawaran pekerjaan itu pada Ila. Dan tanpa banyak tanya dan bantah, Ila menerima tawaran temannya itu. Ila pun melanjutkan perjalanannya dalam mencari pekerjaan yang dia rasa akan dapat memberikan kelegaan dan kebanggaan di hatinya.
BERSAMBUNG....
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomansaCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
