Dari perkenalan nama hingga perkenalan kejiwaan, Ila dan Fara kemudian saling mencurahkan isi hatinya hingga mereka tahu satu sama lainnya. Semakin eratlah hubungan Ila dan Fara saat itu.
Mereka saling menghibur saat dalam perjalanan menuju Indonesia. Walau saat itu sudah ada pesawat yang langsung dari Bandara Internasional Kuala Lumpur ke Bandara Branti yang sudah berganti nama Bandara Radin Inten II di Lampung, Ila dan Fara memutuskan untuk menuju Batam terlebih dulu.
Di Batam, Ila menyarankan pada Fara untuk singgah di rumah Melda terlebih dulu.
Di sana Ila mendapat telepon dari Tanjung yang memberitahukan bahwa Yusuf telah menceraikannya dengan alasan yang Ila tidak mengetahuinya.
Dengan bersegera Ila langsung ingin mempertanyakan pada Yusuf perihal kebenaran kabar yang disampaikan Tanjung.
Berulang kali Ila menelepon Yusuf, namun tidak diterima oleh Yusuf. Bahkan setelah sekian kalinya, Yusuf kemudian menon-aktifkan handphonenya.
"Ade ape, La? Ai tengok awak kesal sangak cam tu?"
(Ada apa, La? Kok terlihat sedang kesal begitu?) Tanya Fara ketika melihat Ila berada di taman depan rumah Melda dengan muka beramarah.
"Tak de ape-apelah,"
(Tidak ada apa-apa,) jawab Ila setelah menoleh pada Fara yang datang tanpa sepengetahuannya. Dengan sedikit gugup, Ila menstabilkan dirinya yang semula sibuk dengan handphonenya dan kemarahannya.
Ila juga tetap merahasiakan statusnya sebagai istri Yusuf. Ila tidak ingin hubungannya dengan Fara putus gara-gara terbongkar rahasianya bersama Yusuf.
"Ooo, ai kire ade masaleh gi. Eh, jom sat petang kite pusing-pusing, La! Dah lame ai tak makan angin kat sini. Esok kite mulei jalan kat kampong awak. Cam mane, La?"
(Ooo, aku kira sedang ada masalah lagi. Eh, nanti sore kita jalan-jalan yuk, La! Sudah lama aku tidak berlibur ke sini. Besok baru lanjutkan perjalanan kita ke desamu. Bagaimana, La?) Dengan tidak lagi menghiraukan gelisah yang ada pada Ila, Fara mengajak dengan semangat.
"Iye. Sat gi kite bertige pusing-pusing,"
(Iya. Biar nanti kita bertiga jalan-jalan,) jawab Ila yang juga akan mengikutsertakan Melda yang berperan sebagai tuan rumah saat itu.
"Okey. Saat ni ai nak rehat petang."
(Okey. Sekarang aku mau istirahat siang
dulu).
Fara pun meninggalkan Ila yang masih duduk di taman.
Masih saja Ila mencoba menelepon Yusuf, tapi nomor yang dia telepon tetap tidak aktif. Ila pun semakin yakin jika pemberitahuan Tanjung adalah benar. Karena tidak mungkin Yusuf tidak mengangkat teleponnya bahkan sampai menon-aktifkan nomornya.
Kekesalannya tidak begitu tampak karena Ila tetap berusaha untuk menahan kesedihannya saat itu. Sudah kehilangan bapak, suami pun telah pergi menceraikannya.
"Baiklah kalau begitu. Mungkin aku sudah tidak dapat membahagiakanmu. Dan memang sudah aku sangka semenjak kamu memaksaku untuk menikah denganmu. Aku tidak yakin saat itu kamu punya cinta setia. Sudahlah, mungkin memang ini adalah alur jalan peta hidupku bersamamu hanya sampai di sini." Gumam Ila ketika duduk-duduk bersama Fara dan Melda di tempat hiburan bernama Pantai Marina dengan pemandangan pantai yang ramai pengunjung untuk menghibur diri di sana. Sore hari mereka berada di Pantai Marina sesuai dengan jadwal yang telah mereka sepakati.
"Kamu kenapa, La? Kok kamu menggerutu sendiri?" Tanya Melda saat melihat Ila tidak menikmti suasana yang ada. Terlihat olehnya juga ada sedikit airmata Ila membasahi tepi kelopak matanya di bagian bawah.
"Iye, La. Cakapkan je! Dah dari petang ai tengok awak tampak laen. Sepertinye sedang ade masaleh besak sehingge buatkan awak menanges cam tu,"
(Iya, La. Bilang saja! Sudah dari tadi siang aku melihatmu tampak aneh. Seperti sedang ada masalah besar sehingga membuatmu menangis begitu,) Fara menguatkan prasangkanya bahwa Ila memang benar-benar dalam kesusahan.
"Tak ape-apelah,"
(Tidak apa-apa kok,) jawab Ila dengan cepat mengusap sedikit rembasan airmatanya.
"Tidak apa-apa kok nangis begitu...?! Bilang saja, La. Mungkin aku bisa ngasih solusi ataupun saran jika kamu bersedia." Melda mendaratkan tangan kanannya di punggung Ila yang tidak tertutup rambut karena memang rambut Ila masih saja dipotong pendek.
"Ia dah dari petang cam tu, Cik."
(Dia sudah dari tadi siang begitu, Kak). Fara memberitahu pada Melda.
"Kayaknya kamu membutuhkan waktu untuk menghibur diri, La. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orangtua. Ya sudah ayo kita pulang. Kamu beristirahatlah dan tenangkan perasaanmu, La." Ajak Melda langsung berdiri dari duduknya yang merasa iba pada Ila.
Saat malam tiba, Ila tidak ikut serta keluar rumah. Sedangkan Fara melanjutkan keinginannya untuk menyerapi keindahan Kota Batam dengan Melda sebagai pemandunya.
Sehari singgah di Batam, Ila dan Fara mendapat energi baru untuk melanjutkan perjalanannya. Ke Lampung, ke desa tempat ibu tiri Ila bersama Zahrra dan Angga tinggal.
Dengan pesawat, Ila dan Fara dapat dengan cepat mendaratkan kaki di tanah Lampung dan menghirup udara Lampung. Karena Ila sebelum berangkat, selagi di Batam memberitahu pada ibu tirinya akan pulang, Ila dan Fara mendapati kerumunan tetangga ibu tiri Ila yang ikut menyambut dan ikut merasa senang atas kedatangan Ila dan Fara.
Ila dan Fara dengan wajah yang cantik dan kulit yang tampak sangat bersih dibanding orang-orang yang datang berkerumun menyambut kedatangan mereka berdua, menjadikan orang-orang itu terkagum-kagum dengan keberadaan Ila dan Fara. Ramai seketika di rumah ibu tiri Ila yang merupakan peninggalan Bapak Ila.
Sekitar satu jam Ila dan Fara diajak mengobrol oleh para tetangga yang hadir. Dan kemudian Ila dan Fara mendapatkan waktu untuk istirahat siang ketika orang-orang sudah kembali pulang.
Ila yang sangat bahagia dengan tangisnya menciumi kedua anaknya yang sudah bisa berbicara walau tidak begitu benar; pelo. Mereka tidak begitu tahu isi hati Ila saat itu yang berperan sebagai pejuangnya. Mereka justru tampak ketakutan saat Ila memeluki mereka dengan seduan tangis.
Ketika sore hari, Ila bersama Fara dan kedua anaknya diantarkan oleh ibu tirinya menuju pekuburan tempat jasad Bapak Ila disemayamkan untuk berziarah.
BERSAMBUNG....
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomanceCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
