DEMI SAHABAT

8 3 0
                                        

"La, ai sangak butoh same awak. Dah tige bulan ni awak tak same kat ai. Dan jangan lupe pesan ai, bawe Bang Faruk kat sini. Sebab ternyate ia yang dapek sembohkan penyakek ai. Awak kan tau cam mane ai?"
(La, aku membutuhkanmu. Sudah tiga bulan kamu tidak bersamaku. Dan jangan lupa pesanku, ajak Bang Faruk ke sini. Karena ternyata dialah yang dapat menyembuhkan penyakitku. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana aku?) Kata Fara meminta pada Ila melalui telepon.

"Akan saye usahekan. Moge-moge je Bang Faruk nak buat saye bawe kat Malaysie."
(Akan saya usahakan. Semoga saja Bang Faruk mau untuk saya ajak ke Malaysia). Jawab Ila yang merasa kurang begitu rela ketika Fara mengungkapkan perasaannya bahwa dia juga menyukai Faruk. Namun di sisi lain Ila merasa senang karena kejiwaan Fara dapat kembali normal dengan hadirnya Faruk di dalam kehidupannya. Kemurnian jiwa kewanitaannya kembali normal oleh cinta yang bersemian kepada Faruk.

"Teos terang semenjak ai kenal Bang Faruk, ai tak de gi rakso buat berlesbi. Entah kenape ai sangak jijik. Yang ade dalam benak ai adaleh nak kawen je dengan Bang Faruk. Ai nak berkeluarge dengan dinormal, La."
(Terus terang semenjak aku kenal Bang Faruk, aku tidak lagi bergairah untuk berlesbi. Entah kenapa aku sangat jijik. Yang ada dalam pikiranku adalah keinginan untuk menikah dengan Bang Faruk. Aku ingin berkeluarga dengan normal, La).

"Eloklah jike macam tu, Far. Saye sangak setuju dengan niat awak tu. Semoge aje Bang Faruk dapat mengerti dan nak kawenkan dengan awak,"
(Bagus kalau begitu, Far. Saya sangat setuju dengan niatmu itu. Semoga saja Bang Faruk dapat mengerti dan mau menikahimu,) masih dengan rasa berat hati Ila memberikan dukungan pada Fara.

"Jadi, bile saye dapat pi ni?"
(Jadi, kapan saya harus berangkat?) Tanya Ila melanjutkan perkataannya.

"Secepatnye, La. Awak pi je kat KL. Sebab ai saat ni dah pindah rumah kat sane. Tu sebeb ai akan banyek sebok kat Malaysie. Tu, mulae aktif oroskan proyek yang mase tu dibincangkan kat temu janji."
(Secepatnya, La. Kamu datang ke Kuala Lumpur saja. Karena aku sekarang sudah berpindah rumah ke sana. Itu dikarenakan aku akan banyak urusan di Malaysia. Itu lho, mulai aktif mengurus proyek yang dibicarakan waktu lalu di pertemuan).

"Baeklah, Far semoge je tak de masaleh."
(Baiklah, Far. Semoga saja tidak ada halangan).

"Terimakasih, La."

"Same-same, Far."
(Sama-sama, Far).

Setelah merasa cukup dengan apa yang ingin disampaikan, kemudian Fara menutup teleponnya.
Ila tersenyum dengan iming-iming Tuhannya akan Faruk. Sesuatu yang akan diterimanya ternyata tidak terwujudkan. Faruk yang sudah akan menjadi suaminya, kini mesti ia lepas demi sahabatnya.

Malam itu, malam setelah menerima permintaan dari Fara, Ila mengatur rencana. Dan Ila pun mendapatkan cara. Dia teringat pernikahannya dengan Yusuf. Dengan cara yang diterapkan oleh Tanjung dan Yusuf, saat itu Ila juga ingin mencobanya. Dia ingin mencobanya pada Faruk. Ila ingin mengajak Faruk ke Malaysia dengan alasan ada lowongan kerja yang sangat menjanjikan dengan gaji yang besar. Akan tetapi tujuan intinya adalah untuk menjodohkan Faruk dengan Fara.

Setelah dirasa matang rencananya, Ila pun tidur. Tentang kedua anaknya, Ila sudah merasa puas memanjakan mereka. Dan sudah saatnyalah Ila kembali menegakkan tulang punggungnya lagi untuk mencari nafkah. Ya, menafkahi kedua anaknya dan ibu tirinya sebagai pengasuh.

Pagi yang sudah menua, Ila menelepon Faruk untuk menjalankan rencana awalnya.

"Bang, boleh tidak aku ngasih saran?" Tanya Ila memancing Faruk.

"Boleh saja, Dik. Memang apa saran yang akan adik berikan?" Jawab Faruk yang dengan senang hati menerima telepon dari Ila.

"Mmm, bagaimana kalau kita kerja ke Malaysia dulu sebelum kita menikah? Aku ingin kita punya rumah yang bagus dan bekal yang cukup untuk kita hidup bersama nanti," Ila mengungkapkan apa yang direncanakannya dengan meyakinkan.

"Memang mau kerja apa di sana, Dik? Mau jadi kuli illegal? Aku tidak mau, Dik. Aku tetap ingin di sini. Di sini lebih tenang. Lagian aku kan sudah punya pekerjaan," jawab Faruk.

"Bukan, Bang. Di sana sudah ada teman yang mau menanggung pekerjaan kita. Pokoknya jangan khawatir Bang. Pasti kita akan kembali ke Lampung dengan bangga atas jerih payah kita di Malaysia. Tadi malam temanku di Malaysia meneleponku. Dia sedang membutuhkan tenaga kerja. Dan ini bukanlah bekerja secara illegal kok, Bang. Tidak akan berurusan dengan polisi. Aku rasa upah Bang Faruk bekerja di kebun kelapa sawit itu tidak begitu mencukupi. Apalagi nanti yang akan Bang Faruk nafkahi bukan saja aku, tapi juga kedua anakku."

"Tapi aku tidak punya keahlian dan pengalaman di luar negeri, Dik. Kan seharusnya belajar dulu bahasa-bahasa yang sering digunakan di sana, Dik."

"Tidak usah Bang. Kita tinggal berangkat dan bekerja di sana. Bahkan untuk ongkos dan semua biaya pembuatan surat-surat berupa paspor dan permit kerja akan ditanggung oleh teman. Jadinya, Abang tenang saja."

"Ya sudah kalau maumu begitu. Aku akan memikirkannya terlebih dulu. Mungkin nanti malam aku akan kasih kabar, Dik."

"Cepat lho ya, Bang...?! Karena teman membutuhkan tenaga kerja secepatnya," desak Ila untuk tidak memberikan kesempatan pada Faruk berpikir panjang.

"Iya-iya...."

"Ya sudah, aku tunggu keputusanmu Bang. Dan perlu Abang ketahui, walaupun Abang tidak bersedia ikut kerja ke Malaysia, aku akan tetap berangkat lho Bang." Lagi-lagi Ila memberikan tekanan yang seolah memang memaksa Faruk untuk ikut serta ke Malaysia.

"Iya, Dik." Jawab Faruk lepas.

"Sudah dulu ya, Bang? Aku mau pergi sama anak-anak. Aku ingin mengajak mereka bersenang-senang dulu sebelum aku berangkat meninggalkan mereka lagi."

"Iya, Dik."
BERSAMBUNG....

Menara - Menara CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang