BERTASYAKUR DI LAMPUNG

28 1 0
                                        

Setelah acara pernikahan dan pesta pernikahan usai, Ila, Fara, dan Faruk memulai hidup berumahtangganya di Kuala Lumpur. Zahrra dan Angga juga tinggal bersama di sana. Sedangkan ibu tiri Ila memutuskan kembali ke Lampung untuk merawat rumahnya.

"La, aku ingin tinggal di Lampung saja. Aku ingin menjaga rumah peninggalan bapakmu. Sudah cukup lama aku meninggalkan rumah," kata Ibu tiri Ila saat makan malam bersama di restoran di dekat rumah Fara. Sudah menjadi kebiasaan warga Kuala Lumpur yang kaya, tiap kali makan, mereka makan di restoran.

"Kan baru satu bulanlah Mak Cik. Diamlah kat sini lebeh lame gi,"
(Kan baru satu bulan, Mak. Tinggallah di sini lebih lama lagi,) sambung Fara memberikan jawaban karena dia sedikit mengerti dengan apa yang diutarakan Ibu tiri Ila. Dia juga ikut-ikutan memanggil Mak seperti Ila memanggil ibu tirinya. Sedangkan Ila saat itu hanya terdiam ketika mendengar penuturan ibu tirinya.

"Satu bulan bagaimana Dik Fara ini...? Sudah empat bulan lho Dik Fara. Otot-otot Mak sudah terasa kaku," Ibu tiri Ila bersikukuh, mengingatkan.

"Hehehehh. Lhoh, kaku kenape Mak Cik?"
(Hehehehh. Lhoh, kaku kenapa Mak?) Tanya Fara.

"Ya karena Mak sudah terbiasa kerja keras di rumah, sedangkan di sini Mak hanya makan-tidur saja. Jadinya, otot-otot Mak terasa kaku." Jelas Ibu tiri Ila sambil tersenyum.

Ila dan Faruk yang tidak ingin memaksakan kehendak, mereka tidak begitu memberikan komentar pada keinginan Ibu tiri Ila yang sangat menginginkan untuk bisa pulang ke Lampung. Mereka menghormati hak Ibu tiri Ila walau nanti setiada Ibu tirinya, Ila tidak lagi mendapat bantuan dalam merawat kedua anaknya.

Karena Ibu tiri Ila terus meminta ijin untuk pulang, pada akhirnya Fara, Ila, dan Faruk mengijinkan dan merelakannya untuk pulang ke Lampung.

Sehari sebelum kepergian Ibu tiri Ila, Ila dan Faruk memberikan uang sebagai tanda terimakasih. Begitu pula Fara, dia memberikan uang pada Ibu tiri Ila agar digunakan untuk memperbarui rumah.
Fara juga berpesan pada Ibu tiri Ila agar dia diberitahu ketika pembaruan rumah sudah selesai. Karena Fara ingin mewujudkan keinginan Faruk yang ingin mengadakan tasyakuran di Lampung.
Ibu tiri Ila pun mengiyakan permintaan Fara tersebut.

Sementara Zahrra dan Angga saat akan ditinggal pergi oleh pengasuhnya dari semenjak kecil, mereka berbisu kata dengan wajah yang tampak murung seolah tidak mau untuk berpisah dengan pengasuhnya.
Ibu tiri Ila yang melihat kemurungan Zahrra dan Angga tidak berani untuk lelehkan kesenduan di kedua matanya. Dia tidak ingin kepergiannya dijadikan bahan tangisan pada kedua anak asuhnya. Dia kuatkan untuk mengembangkan senyumnya ketika ciuman dan telapak tangannya telah menyentuh kepala Zahrra dan Angga yang masih tetap berbisu kata seolah mereka sedang sibuk berpikir dan menimbang-nimbang antara dua pilihan; apakah mau ikut pengasuhnya ataukah mau ikut ibunya yang belum lama dikenalnya memberikan pemanjaan.

Setelah empat bulan kepergian Ibu tiri Ila, Ila, Fara, dan Faruk pun mendapatkan kabar bahwa pembaruan rumah di Lampung sudah selesai. Mereka kemudian pergi ke Lampung. Zahrra dan Angga juga diikutsertakan.

Sesuai dengan keinginan Faruk dan rencana Fara, acara tasyakuran pun dilaksanakan di rumah Ila yang sudah diperbarui.
Seluruh warga Dusun Tanjungbaru diundang dalam acara tasyakuran tersebut. Tidak lupa pula Ila mengundang ibu kandungnya yang tinggal di Desa Sidokayo. Paman dan bibinya juga ia undang.
Dalam sehari acara tasyakuran terselesaikan.

Ila yang bertemu dengan ibu kandungnya tidak begitu banyak berkomunikasi. Mungkin rasa bersalah dalam diri ibu kandungnya membuatnya banyak berdiam diri ketika menghadapi Ila. Begitu pula Paman dan Bibi Ila yang juga menghadiri undangan acara tasyakuran tersebut. Mereka kaku untuk menggerakkan mulutnya berbincang. Tatapan mata mereka sayu.
Ila yang inginkan semua tamu undangannya merasa senang, dia terus dengan gamah menemui satu persatu tamu undangan yang hadir pada acara tasyakuran tersebut, terutama pada tamu wanita.

Faruk yang tidak kalah sibuk melayani teman-temannya yang hadir di undangannya tersebut, dia tampak ceria dengan perawakan yang semakin gagah dan bersih serta rapi dalam berpakaian.

Sedangkan Fara yang tidak begitu mengerti bahasa tamu-tamu yang hadir, dia hanya memperbanyak senyum. Walau begitu dia tampak sangat bahagia karena telah dapat mewujudkan keinginan Faruk yang ingin mengadakan tasyakuran di tanah kelahirannya.

Selama satu bulan, Ila, Fara, dan Faruk tinggal di rumah ibu tiri Ila. Fara yang masih aktif dalam bisnisnya, dia mengajak Faruk dan Ila untuk kembali ke Kuala Lumpur.
Ila yang menghadapi dua pilihan yang begitu berat untuk diambilnya, pada akhirnya merelakan kedua anaknya untuk tinggal di Lampung bersama ibu tirinya.
Kedua anaknya tiba-tiba tidak mau untuk diajaknya kembali ke Kuala Lumpur. Zahrra dan Angga menangis ketika diajak kembali ke Kuala Lumpur. Mereka merangkul wanita yang semenjak kecil mengasuh dan merawatnya. Ila yang memahami kejadian itu, dia pun dengan berat hati merelakan kedua anaknya untuk tetap tinggal di Lampung bersama ibu tirinya.

Waktu demi waktu pun berlalu hingga mengusiakan Zahrra dan Angga menjadi remaja. Kini mereka menjadi penjaga dan perawat bagi wanita yang selama itu memberikan kebaikan kepada mereka. Ibu tiri Ila telah melansia. Dan ketika ibu tiri Ila telah meninggal, Zahrra dan Angga tetap tidak ingin ikut dengan ibunya yang tinggal di Kuala Lumpur.

"Bunda, biarkan kami tinggal di Lampung saja. Kami ingin tetap menjadi warga Indonesia. Kami lebih merasa senang tinggal di sini," pinta Angga pada Ila ketika Ila mengajak Zahrra dan Angga untuk ikut serta ke Kuala Lumpur.
Mendengar permintaan Angga yang juga mewakili Zahrra, Ila tidak kuasa untuk memaksakan kehendaknya. Faruk dan Fara yang menyaksikan perbincangan antara Ila dan kedua anaknya, juga tidak bisa memberikan paksaan terhadap Zahrra dan Angga untuk ikut serta ke Kuala Lumpur walau mereka saat itu juga sudah menjadi orangtua Zahrra dan Angga.

Zahrra dan Angga pun diijinkan tetap tinggal di Lampung walau tanpa pengasuh lagi karena saat itu Zahrra dan Angga sudah dewasa. Mereka sudah bisa menjaga diri sendiri bahkan mereka sudah mulai bekerja dengan modal yang diberi oleh ketiga orangtuanya.

Ketika suatu saat, saat Zahrra bersih-bersih kamar yang memang diketahuinya bahwa dulu kamar itu adalah kamar ibunya, dia menemukan buku dengan tampilannya yang cantik di dalam bufet dipan. Namun ketika telah membaca tulisan di dalamnya, Zahrra linangkan airmata. Sekitar satu jam, Zahrra membaca seluruh tulisan buku itu.

"Bunda, sungguh malang nasib Bunda dulu." Kata batin Zahrra selesai membaca tulisan buku yang dipegangnya.
Masih duduk di dipan dengan sambil memandangi buku cantik yang dipegangnya, Zahrra membayangkan nasib perjalanan cinta ibundanya dahulu yang terlunta-lunta hingga semakin memperbanjir pipinya oleh senduan airmata.

Hal itu pun Zahrra beritahukan kepada Angga. Angga yang saat itu memang sedang menggeluti pekerjaan di bidang percetakan yang sekaligus dia memang menyukai bidang sastra tulis, akhirnya Angga membukukan buku yang diterimanya dari Zahrra itu. Dia kembangkan dan dipercantiknya isi buku tentang perjalanan cinta ibundanya itu. Lantas buku yang telah dia ramu itu diberinya judul 'Menara-menara Cinta'.

Kemudian Angga juga mengirimkan hasil buku yang telah dicetaknya kepada ibundanya di Malaysia dengan nama pengarang anonim. Senyum beriring tangis ketika Ila membaca buku pemberian dari anaknya. Bangga beraduk malu pada kedua anaknya. Keinginannya pun tertunai jua. Kedua anaknya pada akhirnya mengetahui juga sedih pilu perjalanan cintanya yang menderita hingga buahkan buah hati dari dua sperma yang berbeda.


* SELESAI *


Menara - Menara CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang