It's not more time you need. It's more quality use of the time you already have.
― Alan Cohen ―
Aroma khas biji kopi beradu dengan suara grinder yang ditenggerkan di atas bar menghiasi coffee shop yang didatangi Juna dan Maisa. Bar yang seharusnya diisi oleh beberapa barista nampak lengang, hanya ada satu yang bertengger di sana.
"Hei, Jun, Mai, lama banget nggak kelihatan," sapa barista itu sembari tangannya meracik biji kopi yang sudah ia siapkan.
Ariel, ialah owner yang menyambi sebagai barista di coffee shop miliknya. Ia adalah teman akrab Juna semasa sekolah menengah atas.
"Hei, bro. Kegiatan akhir-akhir ini lagi padet-padetnya, nih. Sampe mau pesiar sama IB (izin bermalam) aja males. Bawaannya kalo weekend mager aja di asrama, nggak mau ke mana-mana," jawab Juna mendudukkan tangannya di atas meja. "Aku seperti biasa, ya."
"Maisa?"
"Aku lagi pengen es kopi alpukat, gulanya separo aja. Nggak usah pake topping whipped cream."
"Tumben?" goda Juna.
"Diet!" kata Maisa ketus.
"Baik tuan dan nyonya. Pesanan akan segera dibuat."
Tak berselang lama, Ariel kembali dengan membawa secangkir cappucino dan avocado coffe. "Silahkan diminum, tuan dan nyonya. Selamat menikmati."
Dua sejoli itu perlahan menyeruput minuman yang ada di depannya.
"Gimana rasanya? Masih sama? Apa ada yang kurang?" tanya Ariel.
"Top! Espressonya kerasa, nggak terlalu milky, dan foam-nya tebel. Delicioso!"
"Yosh! Apalagi kalau minumnya sama ayang. Enaknya nembus sampe langit ketujuh," celetuk Ariel yang sukses membuat Maisa tersedak.
"Bisa aje lu," gumam Juna.
Suasana kafe itu semakin sore semakin ramai dipenuhi anak muda. Obrolan dari meja lain pun kedengaran, layaknya dengungan-dengungan lebah. Sesekali, terdengar suara tawa terbahak-bahak.
Juna nampak mengamati gadis yang duduk di hadapannya itu. Dia diam, telapak tangannya mengitari gelas es kopi alpukat yang hanya tersisa setengah dan mulai berembun. Sudah sejak dua menit yang lalu ia melamun seperti itu.
Lewat ekor matanya, Juna mengamati matanya yang bulat indah dengan manik hitam gelap dan bibir merah mudanya yang merekah. Membuatnya ingin menyentuh dan membelainya.
Perlahan Maisa mulai bisa mengangkat wajah. Ia heran kenapa Juna melihatinya seperti itu. "Kok gitu amat lihatnya? Ada yang salah?"
"Eh, enggak, bukan gitu. Lagi terpesona aja sama kamu, sambil inget-inget waktu jatuh cinta dulu."
Juna mengingat pertemuan pertamanya dengan Maisa yang terasa sangat menyenangkan. Kepribadiannya hangat dan hal-hal tak terduga sanggup membuatnya tertawa. Ia gadis yang menggemaskan.
Dan Juna mulai menunjukkan perubahan ketika sedang jatuh cinta seperti semakin memperhatikan penampilan, bersikap menyenangkan, dan menunjukkan versi terbaiknya, dari yang sebelumnya sangat berantakan dan cuek dengan banyak hal.
"Kalau diinget-inget dulu lucu ya, apalagi pas bucin-bucinnya," ujar Juna.
"Kalo nggak nelpon sampe jam dua belas malem nggak bisa tidur. Nggak ngucapin i love you nggak bisa tidur. Nggak mau makan kalo nggak diingetin ayang," ucap Maisa
"Dulu yang bucin kan bukan cuma aku doang."
"Ih, enggak ya. Aku mah nggak sebucin kamu."
"Ah, masa? Nggak inget waktu aku mau berangkat dikjur di Akmil? Kamu nangis-nangis nggak mau aku tinggal? Hahaha," terang Juna sembari menggoda. "Mau aku ceritain lagi bentuk-bentuk kebucinanmu yang dulu?
"Ih, enggak!"
"Wuuu, dasar bucin tapi gengsi."
***
Pagi ini, Gubernur Akademi Angkatan Udara mengukuhkan Sermadatar Arjuna Mahesa Wirabrahmasatya sebagai Komandan Wing Korps Taruna (Danwingkorps) yang baru menggantikan Sermatutar Indra Bagus dalam upacara serah terima jabatan yang berlangsung di Stadion Sasana Krida AAU. Selain pengukuhan Danwingkorps Taruna, juga dilaksanakan serah terima jabatan Ketua Lembaga Musyawarah Taruna (Kalemustar) serta Penatarama Drum Band Gita Dirgantara.
Dari dalam barisan, Maisa menamatkan pandangannya pada Juna sedang melakukan sertijab dengan seniornya. Sermatutar Indra Bagus menanggalkan tanda jabatannya dan tongkat komandonya yang kemudian diberikan oleh Gubernur AAU kepada Juna.
Dalam posisi siap, Maisa menahan rasa haru dan bangganya. Hampir saja air mata jatuh dari pelupuk matanya, namun masih bisa ia tahan. Dari awal ia memang yakin kalau Juna akan berhasil meraih salah satu mimpinya menjadi Danwingkorps. Dan laki-laki itu nampak sangat gagah dengan tali kur merah oranye dan gondon bintang tiga serta tongkat komando yang dibawanya.
Ketika makan siang pun, Juna yang telah berganti pakaian dari PDU menjadi PDH sudah berada di kursi mewahnya. Singgasana tertinggi tempat di mana ia bisa melihat dengan leluasa seisi Handrawina. Dan pertama kalinya juga ia membunyikan lonceng sebagai tanda dimulainya kegiatan makan.
Teng...
Di singgasana atas sambil menyantap makannya, Juna terus menerus memandang ke satu arah dan terfokus pada satu orang. Ya, Maisa. Saat Juna melihat ke bawah melirik ke arah Maisa, Maisa kebetulan juga menoleh ke arahnya. Dua pasang mata itu saling bertemu, berakibat timbulnya senyum tipis nan manis dari keduanya.
Malam hari, kantin AAU terlihat cukup ramai. Banyak taruna yang berkumpul untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan jajanan yang telah mereka beli. Apalagi setelah sertijab tadi, banyak taruna tingkat IV yang berkumpul dan nongkrong dengan taruna tingkat III yang kini memegang jabatan atau biasa dikenal dengan kelompok komando (pokdo) di AAU.
Di situ Juna duduk dikerumuni oleh para seniornya. Terlihat ia dihujani ucapan selamat dari para taruna tingkat IV ditambah dengan sedikit tamparan kasih sayang. Sementara Maisa yang duduk cukup jauh dengan Juna hanya bisa menunggu sampai suasana sepi, atau paling tidak sampai senior-seniornya pergi. Butuh perjuangan untuk mencuri-curi waktu hingga mereka bisa menyempatkan diri hanya untuk sekedar mengobrol.
"Huft, lama kali para mayor ini, keburu habis deh waktunya," keluh Maisa dalam hati.
Dengan sedikit kesal, Maisa hanya bisa memandanginya sambil menyeruput es teh yang ada di depannya. Juna yang menyadari kekesalan Maisa hanya bisa diam. Pasalnya, ia tak bisa berbuat apa-apa karena banyak senior yang mengelilinginya.
Maisa dan Juna tidak akan bisa leluasa untuk mengobrol selama masih ada taruna tingkat IV. Selalu akan ada yang mengawasi mereka. Tak jarang Juna terus-terusan menyuruh Maisa bersabar hingga para Sermatutar lulus. Ketika sudah lulus, tentu Juna sebagai Danwingkorps akan lebih leluasa untuk memanfaatkan momen yang ada.
Setelah hampir setengah jam, para senior sudah mulai meninggalkan kantin untuk persiapan jam malam. Lagi-lagi Maisa gagal mendapatkan waktu ngobrol dengan Juna karena jam kantin sudah habis. Gadis itu akhirnya berjalan menuju ke arah kekasihnya dan menaruh hadiah kecilnya itu di meja. Ia hanya memberi kode agar Juna menerima pemberiannya dengan mengangkat alis dan langsung pergi.
Juna meraih sepucuk surat kecil yang Maisa sertakan di mejanya bersama Sari Roti sandwich cokelat dan susu Ultra Milk full cream, kemudian membacanya.
"Selamat atas jabatan barunya kasuh tersayang. I love you."
"Manis sekali," batin Juna. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.
Entah ini sudah surprise ke berapa yang diberikan oleh Maisa pada Juna. Kejutan-kejutan kecil semacam ini memang selalu menjadi mood booster dalam hubungan mereka. Tak perlu mahal, yang terpenting adalah bentuk perhatiannya. Mungkin ini yang menjadi salah satu kunci hubungan mereka tetap awet dan jarang terjadi pertengkaran.
==========
Akhirnya, cerita ini terbit lagi. Mohon maaf sekali harus menunggu sangat lama, sekian bulan bahkan sekian tahun, hehehe... Terima kasih yang sebesar-sebesarnya untuk kalian yang sudah sabar menunggu cerita Maisa dan Juna.
Jangan lupa vote + comment ya ✨💕😆
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu Komandan
Teen Fiction[UNPREDICTABLE UPDATE] "Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan jika ada ratusan kata untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan." - Maisadipta Deepika Cadudasa "Terkadang dua orang harus berpisah unt...
