BAGIAN 30 (SI SUPER SIBUK)

842 37 5
                                        

No one told me you can love someone and still be miserable. How is that possible?

― Krista Ritchie ―

Menjelang akhir masa pendidikan taruna tingkat IV, Juna menjadi super sibuk. Sebagai Danwingkorps, ia harus membantu mempersiapkan berbagai acara dan tradisi bagi taruna tingkat IV jelang kelulusan. Mulai dari kegiatan mandi suci, kirab pamitan, hingga wisuda.

Bahkan setelah para seniornya lulus, Juna masih harus berkutat dengan junironya, para taruna baru. Ia harus mempersiapkan penerimaan, penyambutan, hingga orientasi. 

Sudah lebih dari tiga bulan ia berkutat dengan kesibukannya. Biasanya ia selalu menyisihkan waktu untuk menghabiskan waktu dengan Maisa di akhir pekan. Namun tiga bulan ini nihil. Dan akhirnya di minggu ini, ia punya waktu luang untuk melepas penat dan beban pikiran dengan kekasihnya itu.

Pada saat jam kantin, ia melihat Maisa duduk berdua dengan Sandra sambil menikmati jus. Perlahan ia berjalan mendekat. Dan dengan lirikan mata, ia mengode Sandra untuk bergeser.

"Hai," sapa Juna yang langsung mengambil alih tempat duduk Sandra.

Kekasihnya diam, tak membalas.

"Mai, Minggu kita jalan yuk. Ngadem ke Punthuk Setumbu. Kita healing berdua. Mau nggak?"

"Tumben, ngajak jalan. Kirain udah lupa kalau punya pacar," jawab Maisa ketus sambil mengaduk-aduk jusnya dengan sedotan. Tiba-tiba ia menjadi cuek.

"Kok gitu sih jawabnya. Jangan judes-judes, atuh."

"Giliran capek pikiran aja larinya ke mana. Huu..."

"Salah lagi."

Maisa menghela nafas. Ia bersiap mengeluarkan unek-unek yang sudah ia pendam hampir tiga bulan.

"Ya gimana nggak salah. Tiga bulan ini nggak sekalipun kita keluar bareng-bareng buat pesiar. Bahkan saling nyapa di akademi aja nggak sampai sejumlah sepuluh jariku ini. Padahal apel tiap hari kamu ada aku ada, jam kantin pun ada. Dilihat kek, ajak ngobrol kek, jajanin kek. Tapi apa kenyataannya? Kamu malah sibuk dengan semua urusanmu, tanpa sedikitpun inget aku. Apa kamu nggak sedikitpun punya pikiran seperti itu?"

Juna pun ikut menghela nafas. Ia tahu perkataan Maisa benar adanya.

"Kamu kira aku nggak capek nungguin kamu punya waktu luang?"

Mendengan pertanyaan itu, Juna diam sesaat.

"Mai, aku sebisa mungkin akan berusaha menyediakan waktu buat kamu," ucap Juna perlahan. Kata demi kata ia ucapkan dengan penuh penekanan.

Juna membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman berbicara dengan Maisa.

"Kalaupun terpaksa karena aku benar-benar sibuk dan nggak bisa diganggu sama sekali, ya aku minta maaf. Aku nggak janji selalu bisa nemenin kamu tiap jam kantin ataupun jam pesiar. Sekali lagi aku akan berusaha."

Maisa tetap diam.

"Aku bener-bener minta maaf, Mai. Aku yang salah."

"Dasar si super sibuk. Siapa suruh jadi Danwingkorps. Siapa suruh jadi yang paling-paling di sini. Hih, kesel banget sumpah. Tapi ya gimana, mau marah ga tega," gumam Maisa dalam hati.

Maisa sendiri juga tahu betapa sibuknya Danwingkorps sebagai pemimpin organisasi, rapat di sana sini, belum lagi tugas dan kegiatan belajar.

"Mai..."

"Mai..." Juna semakin memelas, berharap permintaan maafnya diterima.

"Sehari ada waktu dua puluh empat jam. Masa dalam sehari, kamu nggak bisa menyisihkan waktu buat aku? Aku nggak minta waktu lama. Lima menit aja. Oh nggak, semenit aja, itu udah cukup. Lagipula aku tahu dan paham gimana sibuknya kamu di sini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 07, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rindu KomandanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang