They do not stand on anyone's suffering. They are not together to hurt anyone.
– Dian Nafi –
Malam hari, merupakan waktu istirahat panjang yang paling dinanti-nanti oleh para prajurit taruna. Setelah seharian penuh beraktivitas fisik tanpa henti, kini tibalah saatnya untuk mengistirahatkan sejenak tubuh yang lelah sekaligus mempersiapkan keperluan untuk esok hari.
"Mai, besok ngapain aja ya kira-kira?" tanya Sandra membuka percakapan dengan Maisa yang sibuk dengan brevet dan brasonya.
"Kalo dari cerita orang lain sih, cuma jalan-jalan aja sih. Kaya pawai kalo pas tujuh belasan gitu lho," jawab Maisa sekenanya. Ia itu kemudian beranjak mengambil kain lap kecil untuk mengelap brevetnnya yang berlumur braso.
"Emang itu acara apa sih?"
"Kirab."
***
Pagi harinya, seluruh taruna dan taruni Akademi TNI tingkat I sudah berkumpul di lapangan. Dengan mengenakan PDU I dan membawa kadga, mereka berbaris rapi sesuai dengan matra masing-masing.
"Segera lurusan barisannya. Lihat depan. Lirik kanan dan kiri masing-masing," perintah salah satu pengasuh.
Para taruna dan taruni ini akan mengikuti kirab menyusuri beberapa ruas jalan protokol di Kota Magelang. Sebelumnya, mereka mengikuti upacara di alun-alun Kota Magelang yang dipimpin langsung oleh Walikota Magelang.
"Saya harap nanti saat kirab tidak ada yang ketawa-ketawa. Tidak ada yang cengengesan. Pasang muka berak semua. Paham?"
"Siap, paham!" jawab mereka serentak.
"Ingat, akan tetap ada reward dan punishment untuk kalian. Kalau kalian bagus, maka akan ada reward untuk kalian. Dan apabila kalian jelek, elek-elekan, akan ada punishment untuk kalian," jelas pengasuh.
"Baik. Mengawali kegiatan pada hari ini, berdoa mulai."
Semuanya pun menundukkan kepala, memanjatkan doa kepada Sang Empunya Kehidupan, berharap agar acara hari ini berjalan lancar dan tanpa halangan.
"Berdoa selesai."
Kirab pun dimulai, diawali dengan penampilan grup drumband kebanggaan Akademi Militer Magelang, Genderang Seruling Canka Lokananta yang berarti suara merdu dari surga. Drumband yang beranggotakan para taruna tingkat III ini menyuguhkan penampilan yang atraktif. Dengan aksesoris kebesaran khas militer dan topi militer berhiaskan bulu-bulu, mereka secara luwesnya bergerak kesana kemari, mengatur barisan, formasi, dan variasi.
Menyusul di belakang drumband GSCL adalah barisan para taruni dan dilanjutkan oleh ratusan taruna dari ketiga matra.
"Lurusin barisannya. Lirik kanan kirinya," ujar senior taruna yang berjalan mendampingi barisan.
Perlahan-lahan mereka berjalan dari alun-alun Kota Magelang, lalu berjalan menyusuri Jalan Pemuda, Jalan Tidar, dan Jalan Gatot Subroto untuk kemudian memasuki Ksatrian Akademi Militer.
"Huh, akhirnya kelar juga kirabnya San," bisik Maisa dalam barisan yang belum dibubarkan.
"Iya Mai, udah pegel-pegel ini kaki," ujar Sandra. "Eh, habis ini harusnya dapat pesiar kan?"
"He eh."
Kini semua peserta kirab sudah berada di lapangan. Satu per satu barisan mulai membubarkan diri setelah mendapat perintah.
"Ya, untuk taruna tingkat satu, silahkan diistirahatkan terlebih dahulu."
Duh, kenapa lagi ya ini? Kok firasatku nggak enak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu Komandan
Ficção Adolescente[UNPREDICTABLE UPDATE] "Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan jika ada ratusan kata untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan." - Maisadipta Deepika Cadudasa "Terkadang dua orang harus berpisah unt...
