Pernahkah kau merasakan sesuatu, semacam kedekatan batin atau yang seperti itu?
- Sam Umar -
Sepertinya aku pernah melihat Sermatutar Indra dan Sermatutar Tama. Tapi di mana ya? Sek, sek, sek.
Maisa membatin. Wajah mereka tak asing dilihat. Nampaknya dua senior itu pernah ditemuinya. Sambil berusaha mendengarkan arahan, ia berusaha untuk mengingat-ingat kapan dan di mana mereka pernah bertemu.
"Ambil satu potong martabak yang ada di depan kalian," perintah Sermatutar Indra. "Makan satu gigit terlebih dahulu. Rasakan, nikmati, jangan buru-buru."
Semua sersan taruna mengikuti perintah sang kepala keluarga asuh.
Maisa pun sangat menikmati gigitan pertamanya. Rasanya nikmat sekali saat secuil martabak manis rasa coklat menyentuh lidahnya. Sudah cukup lama ia tak menikmati jajanan-jajanan yang ada di luar karena harus menjalani pendidikan.
Tiba-tiba Maisa teringat sesuatu.
Oh iya, aku ingat sekarang. Pestakor.
"Sekarang geser martabaknya ke sebelah kalian. Makan di bekas gigitan teman kalian. Rasakan lagi, nikmati lagi."
Tanpa rasa jijik, para sersan ini memakan martabak milik temannya. Mau bagaimana lagi, rasa itu masih kalah dengan rasa lapar dan ngidam yang melanda. Toh, itu juga milik teman sendiri. Ya, begitulah pelajaran pertama di keluarga asuh Angkasa. Korsa, satu rasa untuk kebaikan. Satu senang, semua senang. Satu susah, semua susah.
"Saya harap kalian semua yang masuk ke keluarga asuh ini, tidak ada yang sepele. Jangan sampai tidak kenal sama sekali sama seniornya. Apalagi sama kakak asuhnya. Mengerti?"
"Siap, mengerti!"
Maisa melirik Juna sekilas. Ia masih tak percaya, Tuhan memberi kejutan yang sangat luar biasa. Cara mendekatkannya sungguh tak bisa diduga. Dan rasa rindu yang selama ini Maisa tabung berbuah manis. Tak hanya dipertemukan begitu saja, kini mereka menjadi sepasang kakak dan adik dalam satu keluarga asuh. Dua orang sejoli itu hanya berani lirik-lirikan dan menyunggingkan senyum setipis mungkin.
"Ehm."
Saat menyadari Sermatutar Kanawa memandanginya, Maisa berhenti tersenyum. Wajahnya kembali datar. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
Dasar, senior satu ini. Ganggu deh. Nggak bisa apa ngelihat orang seneng dikit aja.
***
Ratusan kursi sudah berjejer rapi di Gedung Sabang Merauke. Dengan dekorasi minimalis namun tetap elegan, tak lama lagi gedung ini akan menjadi saksi masuknya para sersan taruna dalam jajaran keluarga besar Akademi Angkatan Udara.
Para sersan sedang bersiap di belakang, dengan pakaian dinas upacara (PDU) lengkap dengan kadganya. Masing-masing dari mereka membawa sebuah lilin yang akan dinyalakan nanti. Dan para sersan mayor dua pun juga ikut bersiap membentuk sebuah barisan gordon. Mereka berbaris berhadap-hadapan membentuk sebuah gapura untuk menyambut adik-adiknya.
Upacara passing in parade dimulai.
Seluruh Sersan Taruna dengan membawa lilin yang menyala di tangan, melintasi barisan gordon yang dibentuk oleh Sersan Mayor Dua Taruna selaku senior sebagai ungkapan penyambutan selamat datang bagi Sersan taruna di AAU. Dengan langkah yang tegap, para sersan dengan penuh keyakinan membawa lilin menyala di tangan.
Tubuh lilin tersebut melambangkan pengabdian dan pengorbanan tanpa pamrih. Nyala api lilin itu akan padam bersamaan dengan lenyapnya bentuk fisiknya. Nyala lilin itu, hendaknya dapat menginspirasi semangat pengabdian bagi setiap Taruna AAU sejak bertekad memilih menjadi prajurit TNI AU sebagai jalan hidupnya. Pengabdian dan pengorbanan prajurit pejuang Sapta Marga, baru akan berakhir apabila hayat sudah tidak dikandung badan.
Juna yang berada di tengah-tengah barisan gordon nampak begitu bahagia ketika melihat Maisa melintas di depan matanya. Rasa haru, senang, bangga, semua bercampur menjadi satu. Gadis itu akhirnya berhasil melewati tantangan demi tantangan dalam tahapan awal sebagai seorang taruna.
Setelah melewati barisan gordon, para sersan taruna ini berbaris rapi kemudian mengambil sikap jongkok komando. Pandangan mereka pun tertuju pada Ibu Asuh Taruna yang berada tepat di tengah.
"Selamat datang di kesatrian Akademi Angkatan Udara. Ibu berharap dengan kehadiran kalian, semoga bisa menjadi taruna yang berprestasi, tidak saja di lingkungan Akademi Angkatan Udara tetapi juga antar taruna Akademi TNI, Polri, dan lainnya," ujar Ibu Asuh Taruna.
Wejangan demi wejangan diberikan. Seperti seorang ibu kepada anaknya, Ibu Asuh Taruna memberikan nasihat-nasihat dan kata-kata penyemangat untuk para sersan yang seusai acara ini resmi menjadi keluarga besar Akademi Angkatan Udara.
"Setiap prestasi yang kalian ukir, pastinya tidak hanya membanggakan Akademi Angkatan Udara saja tetapi juga TNI Angkatan Udara secara keseluruhan."
Setelah sambutan dari Ibu Asuh Taruna, rangkaian kegiatan passing in parade dilanjutkan dengan hiburan band taruna, tari Kecak, fashion show, dan pertunjukan opera.
Usai acara, para senior langsung berhamburan menghampiri adik-adiknya untuk mengucapkan selamat. Ada yang sekedar bersalaman, ada juga yang memeluk sampai erat.
Maisa yang sedang berada di dekat pintu juga mendapat ucapan selamat dari senior-senior taruni yang lain.
"Selamat, dek."
"Jangan lupa nanti malam mampir ke kamar, ya."
"Jangan lupa ngadep dulu, ya."
"Jangan bandel-bandel."
Usai para senior taruni pergi, datanglah sesosok senior yang beberapa hari lalu berhasil membuat dirinya dongkol.
"Besok Minggu kamu pesiar sama saya," perintah Sermatutar Kanawa. Entah apa yang merasuki pikiran laki-laki berahang tegas itu sehingga berani melontarkan ajakan pesiar bersama secara tiba-tiba.
Apaan deh ini. Ngucapin selamat dulu, kek. Eh malah langsung nyelonong aja ngajak pesiar. Bar-bar sekali. Gimana ya? Mau bilang nggak, takut salah. Mau bilang iya, nanti Juna gimana.
Maisa menggerutu dalam hati. Antara iya dan tidak. Padahal ia sudah berjanji kalau pesiar pertamanya di AAU akan dihabiskan bersama Juna. Rasanya ia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama
Tak tahu harus berbuat apa atau mengatakan apa, hingga selama sekian saat ia hanya bisa diam.
"Mau nggak?" tanya Sermatutar Kanawa kemudian. "Kalau nggak mau, ya udah. Setiap keputusan ada konsekuensinya."
Wah, bahaya ini. Benar-benar mengintimidasi pernyataannya. Asli, ini bar-bar banget.
Dengan terpaksa dan berat hati, Maisa hanya bisa mengangguk. Ini demi keselamatan bersama; keselamatan teman seangkatannya dan senior satu tingkat di atasnya.
"Oke, baguslah. Sampai jumpa lagi."
Sermatutar Kanawa melambaikan tangan tak tahu malu ke arah Maisa. Kemudian ia langsung berlalu meninggalkan Maisa yang masih membatu di tempatnya berdiri. Sungguh, ingin sekali Maisa mengumpat dan mengeluarkan seisi kebun binatang kepada seniornya itu.
Sabar, Mai. Sabar. Ini baru cobaan pertama. Masih banya cobaan-cobaan lain kedepannya. Harus kuat, Mai. Harus!
Tak berselang lama, Juna datang menghampiri. Kemudian ia menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah dirasa aman, dengan gestur sedikit menjurus mesra, Juna mendekat untuk membisiki Maisa. Tangannya pun ikut mengelus pelan punggungnya.
"Selamat, sayang."
==========
Akhirnya, cerita ini update lagi. Terima kasih yang sudah sabar menunggu cerita Maisa dan Juna.
Jangan lupa vote + comment ya biar semakin semangat update ✨💕😆
Tetap #dirumahaja ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu Komandan
Teen Fiction[UNPREDICTABLE UPDATE] "Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan jika ada ratusan kata untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan." - Maisadipta Deepika Cadudasa "Terkadang dua orang harus berpisah unt...
