Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own.
– Robert A. Heinlein –
Barak calon taruni. Pukul sepuluh lewat tiga puluh malam. Terlihat seorang gadis dengan piyama berwarna biru sedang duduk di atas kasurnya. Gadis itu terlihat serius menorehkan coretannya di atas sebuah kertas.
Sandra, teman satu barak Maisa, sesekali menoleh melihat gadis di sebelahnya. Matanya tertuju pada ekspresi gadis itu. "Nulis apa sih, Mai? Serius amat. Udah mau tengah malam lho," ucapnya.
"Lagi nulis daftar makanan-makanan yang mau dibeli pas nanti dapat libur wisjurit."
Tanpa komando, Sandra langsung merebut kertas itu dan membaca satu per satu daftar makanan yang ditulis oleh Maisa. Ada sekitar lima puluh jenis makanan di daftar itu.
"Silverqueen, Kitkat, Toblerone, Kinderjoy, ..." Sandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat nama-nama makanan telah ia baca. "... Mie Sedap Kari, ABC Gulai Pedas, Indomie Ayam Bawang, Indomie Goreng, Samyang. Serius mau beli ini semua? Yakin juga bakal kemakan semua?"
"Nggak mau tau, pokoknya besok libur wisjur wajib beli lah," kata Maisa ngeyel.
"Bayangin deh, Mai. Libur wisjur nggak sampai seminggu. Paling juga di rumah yang ada cuma tidur-tiduran sama main HP. Kalau nggak gitu palingan kelonan sama Mama."
Maisa mendesis. Sambil memasang wajah sebal ia berkata "Lihat aja besok pas libur wisjurit. Bakal aku kirimin foto-foto aku lagi makan, biar kamu ngeces."
"Terserah kamu aja deh, Mai." Sandra pun akhirnya menyerah berdebat dengan teman sebaraknya itu. "Eh iya, ngomong-ngomong berapa hari lagi wisjuritnya?"
Ketika mendapat pertanyaan seperti itu, Maisa langsung membuka lembaran kalender yang ia buat secara manual.
"Dua puluh hari lagi!" ucapnya antusias.
Setiap hari gadis itu memang selalu mengecek kalendernya untuk melihat kurang berapa lama lagi ia akan bertemu dengan keluarganya. Selesai melewati setiap malam, gadis itu akan mencoret angka-angka yang terdapat di kalendernya.
Tanpa terasa kedua gadis itu melanjutkan obrolannya hingga pukul setengah dua belas. Mereka memang sudah mengantuk, tapi entah kenapa mata mereka sulit untuk dipejamkan.
Pukul dua belas malam.
Wi... Uww... Wi... Uww... Wi... Uww...
Bunyi sirine tiba-tiba menggema di seluruh barak calon taruna. Sebuah panggilan alam telah membangunkan para remaja ini dari istirahat malam mereka.
Maisa langsung menghentikan aktivitasnya bersama Sandra. Buru-buru para mereka mengganti pakaian mereka dengan baju kebesaran: Pakaian Dinas Lapangan. Dalam kegelapan, dua gadis itu secepat mungkin berganti kulit menjadi PDL. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar, mereka berhamburan keluar dari kamar.
"Ya, lama-lamain aja!"
"Lima hitungan semuanya wajib sudah di lapangan!"
Lagi-lagi suara kompor itu muncul lagi. Membuat tingkat kepanikan Maisa dan para calon taruna semakin berlipat ganda. Sudah panik, diburu-buru pula.
"Satu!"
"..."
"Lima!"
Pada hitungan kelima, semuanya sudah berkumpul di lapangan. Tentu dengan penampilan yang ala kadarnya.
"Siap, grak!"
"Lencang kanan, grak!"
Danton masing-masing pleton menyiapkan pasukannya. Tak lupa mereka juga merapikan barisannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu Komandan
Teen Fiction[UNPREDICTABLE UPDATE] "Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan jika ada ratusan kata untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan." - Maisadipta Deepika Cadudasa "Terkadang dua orang harus berpisah unt...
