Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~
(❁'◡'❁)♡Thanks!
●●●
"TIDAK BISAKAH AKU MERASA SENANG SEHARI SAJA???" Rain berteriak sembari menatap langit, merasa begitu kesal. Tak peduli pada orang-orang sekitar yang kini memperhatikannya.
Ia menghela nafas dengan kasar kala menatap ban mobilnya yang bocor. Dalam kondisi kesal, Rain berusaha mengingat jalan seperti apa yang ia lalui hingga menyebabkan ban mobilnya berada dalam kondisi seperti itu.
Padahal, sebelumnya ia hanya pergi ke rumah Clara sepulang kuliah, kemudian singgah sejenak di mall terdekat karena belum mau pulang ke rumah. Setibanya di tempat parkir, malah kejutan tak terduga yang ia dapatkan.
"Lebih baik aku menghubungi Paman Deri." Gumam Rain sambil membuka tasnya, berniat menghubungi sopir keluarganya yang bernama Deri.
Rain melotot, kemudian mengacak-acak isi tasnya, hingga beberapa menit berlalu, dan akhirnya Rain menyadari kecerobohannya. Ia meninggalkan kantong tempat ia menyimpan ponsel dan uang cash -nya di rumah Clara.
Rain memang punya kebiasaan yang sedikit unik. Ia menggunakan dompetnya hanya sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam kartu, sementara uang cash dan ponselnya ia simpan di dalam kotak pensil kanvas yang tadi ia keluarkan dari tasnya saat berada di rumah Clara.
Rain menepuk jidatnya, bibirnya bergerak berkata "aduh" tanpa mengeluarkan suara.
"Kenapa kamu begitu ceroboh, Rain!" Rain memarahi dirinya sendiri.
Akhirnya setelah cukup lama berdiri sambil melipat tangan, termenung memandangi ban mobilnya, Rain memutuskan untuk berjalan kaki menuju jalan umum, berniat mencari taksi untuk mengantarnya pulang.
Lima belas menit berjalan kaki, Rain tiba di halte tempat orang-orang tengah menunggu bus datang. Tiba-tiba ia bertanya-tanya, bagaimana rasanya naik bus. Sayangnya, ia tidak memiliki uang untuk membayar sopir bus nantinya saat turun di halte terdekat ke rumahnya.
Rain menghela nafas. "Hari ini, naik taksi dulu. Jadi setelah sampai di rumah, aku bisa ambil uang dulu di kamar untuk membayar." Gumam Rain.
Berdiri mematung, menunggu ada taksi yang lewat, Rain justru menangkap pemandangan lain dari seseorang yang hendak melintas. Rain menatap matanya, kepalanya bergerak seiring pria itu berkendara melewatinya, ia turut membalas tatapan Rain.
Entah kenapa, pria itu menghentikan motornya tidak jauh dari halte bus, kemudian membalikkan tubuh dan menatap Rain. Tanpa diduga, ia memundurkan motornya, mendekat ke arah Rain yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Apa kamu mengingatku? Kita bertemu di kafe ORAIN sekitar tiga atau empat hari yang lalu."
Rain menautkan alis, lalu mengangguk ragu. "Kamu pria yang mengantar jeruk ke sana kan?"
Pria itu tersenyum. "Iya. Kenapa berdiri di pinggir jalan? Padahal ada kursi kosong di halte. Mau naik bus kan?"
Rain menggeleng. "Aku menunggu ada taksi yang lewat."
"Mau ke mana?"
"Aku mau pulang. Ban mobilku bocor. Aku meninggalkannya di sana." Kata Rain sambil menunjuk ke arah mall yang tadi ia kunjungi dengan ujung bibirnya.
"Tidak bawa ban cadangan?"
"Apa aku terlihat seperti orang yang bisa mengganti ban?" Sahut Rain dengan wajah kesal.
Pria itu tertawa. "Baiklah. Mau aku bantu?"
Rain melirik ke arah motor yang dikendarai pria itu, lalu melirik ke arah jaket bergambar jeruk yang dikenakan pria itu. "Kamu tidak sibuk? Tidak ada jeruk yang perlu diantar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ORAIN
Romance[HwangShin] Gadis itu bernama Rain. Ia menyukai langit senja. Ia menyukai buah jeruk. Ia menyukai warna jingga. Ia menyukai dirinya, meski pun ternyata cukup banyak yang merasa sebaliknya, memilih menyakiti perasaannya. Berulang kali dikecewakan ole...
