11

51 17 13
                                        

Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~

(❁´◡'❁)♡Thanks!

●●●


Sarapan pagi ini terasa hambar di lidah Rain. Padahal, Bunda tak sengaja menabur garam dua kali lebih banyak dari biasanya pada telur dadar buatannya karena lupa. Rain memang menyantap makanan itu dengan indera pengecapnya, hanya saja pikirannya sibuk teralihkan oleh beban yang timbul karena hari ini ada jadwal latihan untuk konser amal, yang tentunya akan membuat Rain kembali bertemu dengan pria yang saat ini sangat ingin ia hindari, Harsa.

Rain menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya sejak ia bangun dari tidur. Ayah Rain yang duduk di kursi makan yang berhadapan dengan anaknya, mau tak mau bertanya-tanya dalam hati melihat anaknya yang sarapan dengan pose bertopang dagu. Padahal pria itu menunggu Rain berseru, mengatakan pada ibunya bahwa telur dadar buatannya terlalu asin---karena biasanya Rain yang melakukannya setiap ia merasa ada yang tidak beres dengan makanan yang dimakannya. Namun, melihat Rain makan dalam diam sembari menghela nafas sejak tadi, pria itu justru mulai meragukan fungsi indera pengecapnya sendiri, menduga bahwa hanya dirinya yang merasa bahwa telur dadar itu begitu asin.

"Aaargh! Bodohnya aku!" Seru Rain sembari menggebrak meja makan. Seolah tak sadar bahwa ada kedua orang tuanya yang juga sedang sarapan dan tersentak kala mendengar seruan gadis itu.

Pasca berteriak, Rain kembali menghela nafas, lalu melanjutkan makan dalam diam dengan wajah yang masih terlihat gusar. Kedua orang tuanya saling lirik satu sama lain, tidak berani bertanya, hingga akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Rain telah menghabiskan sarapannya. Gadis itu bangkit dari kursi, berjalan malas menjauhi meja makan, lalu mendadak balik kanan perlahan, menatap kedua orang tuanya.

"Rain berangkat kuliah dulu ya Bunda, Papa." Kata gadis itu dengan suara yang begitu pelan, terlihat gundah, sebelum akhirnya kembali menghela nafas sambil berjalan meninggalkan ruang makan.

●●●


"Mau sampai kapan kamu menyeret ku seperti kereta belanja, Rain?" Protes Clara pada Rain yang sejak tadi tak mau melepaskan tangannya yang melingkari lengan Clara.

"Ssshh!" Rain melotot ke arah sahabatnya. "Pokoknya kamu harus selalu di sampingku. Jangan banyak protes. Sahabat harus saling tolong menolong."

"Menolongmu dari apa? Perkara bertemu Harsa saja sampai harus bawa bodyguard segala. Memangnya Harsa ma-"

"Ssssssshhh!!!" Rain mendesis panjang sambil menguatkan pegangannya pada lengan Clara, menggeleng cepat, memaksa gadis itu turut berhenti melangkahkan kaki, seolah takut ucapannya didengar bahkan oleh semut sekali pun.

Clara menautkan alisnya. "...ssakit rainnn..." Bisiknya.

"Jangan sebut nama Harsa! Bagaimana kalau ada yang dengar? Atau lebih parahnya, dia sendiri yang mendengar!" Bisik Rain.

Buru-buru Clara membebaskan tangannya dari belenggu, lalu menatap sebal ke arah sahabatnya itu. "Kenapa tidak? Sudahlah, Rain. Kamu sudah tertangkap basah. Harsa sudah tahu bahwa kamu menyukainya, jadi tidak perlu susah payah menghindar lagi. Justru kamu terlihat lucu kalau bersikap seperti ini."

"Aku malu! Kamu paham kan betapa konyolnya posisiku saat ini?" Rain mengacak-acak rambutnya sendiri. "Setidaknya kalau ada kamu, aku tidak perlu bicara dengannya. Aku bisa berpura-pura sibuk mengobrol denganmu."

Clara memasang ekspresi sedih yang sengaja dilebihkan. "Aku cuma ada di sini sebagai pengalihan sementara ya? Nanti kalau kalian ternyata malah pacaran, pasti aku diusir."

ORAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang