Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~
(❁´◡'❁)♡Thanks!
●●●
Matahari sudah menampakkan sinarnya sejak tadi. Bertamu perlahan melewati sudut-sudut jendela yang tidak tertutup gorden, sementara si penghuni kamar masih enggan menyambut pagi. Melewati malam minggu dengan video call bersama Rain rupanya cukup menguras energi Harsa untuk bangun pagi. Pasalnya, Harsa bukan tipe orang yang bisa begadang. Jika tubuhnya menyentuh kasur, maka otaknya akan segera memberi sinyal kantuk pada si pemilik tubuh, hingga semalam ia harus bersusah payah mondar-mandir di kamarnya yang tidak begitu luas agar ia tidak terlelap saat Rain tengah bicara panjang lebar.
Suara langkah kaki terdengar, dan semakin lama semakin dekat dengan kamar Harsa. Pintu kamar itu tidak terkunci, dan tepat saat suara kenop pintu yang terbuka terdengar, ayah Harsa muncul, sambil melangkah pelan. Dilihatnya Harsa yang masih terlelap di atas kasur dengan tubuh dalam posisi tengkurap. Pria itu berdecak sambil menggelengkan kepala. Ia melangkah masuk, melihat-lihat sekitar sambil mengingat kapan terakhir kali ia menjejakkan kakinya di sana. Dilihatnya tumpukan beberapa lembar kertas di atas meja belajar milik Harsa. Rasa penasaran muncul di kepalanya, bertanya-tanya seperti apa pekerjaan rumah seseorang yang tengah berasa di semester akhir---mengingat pria itu tidak kuliah seperti anaknya.
"Untuk Ayah"
Tulisan singkat itu tertera di sudut halaman dari buku catatan Harsa yang terbuka dan dilihat oleh sang ayah. Sementara di bawahnya tertulis berbagai macam kalimat yang masih banyak coretan di sana sini. Dalam waktu singkat, ayah Harsa langsung tahu bahwa buku itu berisi lagu-lagu ciptaan Harsa. Ia menggeser tubuhnya, hingga tak sengaja menyentuh mouse yang tergeletak di atas meja. Alisnya bertaut kala benda itu menyala, lalu ia menatap ke arah laptop yang rupanya belum sempurna dimatikan. Meskipun dirinya tidak begitu paham tentang gadget, setidaknya ia punya cukup pengetahuan tentang dasar-dasar komputer.
Mata pria itu melebar kala menyadari bahwa semalam anaknya tidak mengerjakan apapun yang berkaitan dengan skripsinya. Layar laptop milik Harsa menampilkan berbagai situs yang justru membahas tentang hal-hal seputar perkebunan jeruk. Sejenak pria tua itu merasa bersalah karena seringkali menganggap anaknya tidak peduli dengan perkebunan miliknya. Lantas, ia balik kanan, meninggalkan Harsa dan melupakan tujuan awalnya masuk ke kamar itu. Ia bahkan melangkah dengan pelan, takut aksinya beberapa detik yang lalu diketahui oleh seseorang.
"Harsa sudah bangun?" Ucap Ibu Harsa tepat ketika ia melihat suaminya baru saja keluar dari kamar anaknya, hingga tubuh pria itu tersentak karena terkejut. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap-usap dadanya. Ibu Harsa pun mulai bingung melihat tingkah pria itu. "Ada apa?"
Ayah Harsa menggeleng, "Tidak ada apa-apa. Kamu saja yang membangunkan Harsa." Pria itu pun melangkah pergi, meninggalkan Ibu Harsa yang masih terheran-heran menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Ada apa, Tante?"
Ibu Harsa menoleh ke asal suara, mendapati Yenny yang rupanya menyaksikan obrolan singkat tadi dari jauh. "Entahlah. Padahal Tante hanya minta tolong untuk membangunkan Harsa, tapi pamanmu itu malah pergi begitu saja."
Yenny tertawa hingga matanya membentuk garis lurus. "Biar aku saja yang membangunkannya, Tante!" Ucap Yenny seraya berjalan cepat dengan langkah kecil menuju kamar Harsa. Sementara, Ibu Harsa mendadak teringat ucapan suaminya beberapa hari yang lalu. Tentang Yenny yang menyimpan rasa terhadap Harsa. Wanita itu pun menghela nafas, lalu beranjak menuju ke dapur.
Harsa masih tidur dengan posisi yang sama saat Yenny tiba di kamarnya. Gadis itu berjalan mengendap lalu duduk di tepi kasur, tertawa iseng. Hampir saja ia menggelitik pinggang Harsa, ketika fokusnya teralihkan pada layar ponsel Harsa yang tiba-tiba menyala.
KAMU SEDANG MEMBACA
ORAIN
Romance[HwangShin] Gadis itu bernama Rain. Ia menyukai langit senja. Ia menyukai buah jeruk. Ia menyukai warna jingga. Ia menyukai dirinya, meski pun ternyata cukup banyak yang merasa sebaliknya, memilih menyakiti perasaannya. Berulang kali dikecewakan ole...
