26

89 11 10
                                        

Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~

(❁´◡'❁)♡Thanks!

●●●

Saat melihat pantulan wajahnya di cermin, Rain seolah tak lagi mengenali dirinya sendiri. Terakhir kali gadis itu menangis hingga matanya bengkak adalah saat ia baru berpisah dengan ibunya. Setelah itu, Rain tumbuh menjadi gadis yang jarang menangis. Namun, lima hari ini air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya. Lesung pipi yang biasa menghias senyum gadis itu, kini enggan muncul barang semenit.

Rain menghela nafas, berusaha menata hatinya. Gadis itu baru saja keluar dari kamar tempat ayahnya tengah terbaring tak berdaya dalam kondisi koma, dengan sejumlah alat elektronik yang biasa digunakan medis yang Rain belum begitu paham apa fungsinya---selain alat yang merekam pergerakan detak jantung. Melihat ayahnya yang tak sadarkan diri, Rain berulang kali mengutuk diri, bersumpah bahwa ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika ia kehilangan pria yang selalu menjadi tempat ia membuang semua rasa kesalnya selama ini.

Rain selalu berpikir bahwa menyalahkan ayahnya, melampiaskan segala kemarahannya pada pria itu, adalah cara terbaik dalam mengobati kekecewaannya atas perpisahan kedua orang tuanya. Rain mengira bahwa dengan membenci ayahnya, maka semua bebannya akan hilang. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, Rain merasa dirinya memaksakan diri untuk selalu memperlihatkan kekecewaannya, sementara ayahnya tak henti-hentinya berusaha memaklumi sikapnya, terutama sejak pria itu menikah lagi.

Seolah mendapat hukuman yang pantas, Rain kini dihadapkan pada fakta bahwa pria yang membuatnya menutup hati, serta pria yang membuatnya membuka hatinya kembali berada di tempat yang sama, tengah terbaring di ranjang di kamarnya masing-masing dalam keadaan tak sadarkan diri.

Saat keluar dari toilet, Rain berjalan melewati lorong dan melihat seorang dokter dan dua orang perawat berjalan terburu-buru menuju kamar yang juga tengah menjadi tujuannya. Rain berlari kecil melewati sejumlah orang yang juga lalu lalang di sana, berharap langkahnya tidak mengusik pasien lainnya.

Setibanya di kamar tempat Harsa dirawat, jantung Rain berdebar kencang hingga nafasnya mulai sesak. Kedua orang tua Harsa juga ada di sana. Ibunya melambaikan tangan ke arah Rain, memintanya untuk mendekat, sementara sang ayah terlihat fokus menatap ke arah Harsa. Rain mendekat, saling berpegang tangan dengan Ibu Harsa. Keduanya terlihat gugup. Pria itu akhirnya sadarkan diri setelah tiga hari menyiksa batin keluarganya.

Jari-jari tangan Harsa bergerak perlahan, meskipun gerakannya begitu kaku. Sejumlah luka memar memenuhi wajah dan tubuhnya, sementara lehernya mengenakan alat penyangga akibat cedera yang dialaminya. Selain itu, tangan kanan Harsa mengalami retak pergelangan dan jarinya, membuat pria itu juga harus mengenakan penyangga di tangan kanannya.

Dokter mencoba memeriksa kondisi Harsa, dibantu oleh dua orang suster yang tadi tiba bersamanya. Sementara itu, ibu Harsa terlihat mencoba memperhatikan wajah Harsa. Pupil matanya bergerak perlahan menatap sang ibu. Rain berdiri di sisi bawah ranjang sementara ayah Harsa berdiri di belakang istrinya.

"Harsa, apa kamu bisa mendengarku?" tanya sang dokter. "Jika ya, kedipkan matamu satu kali."

Harsa mengalihkan pandangannya ke arah dokter, mengedipkan matanya satu kali. Rain dan kedua orang tua Harsa tersenyum lega sembari mengelus dada. Ibu Harsa bahkan meneteskan air mata. Kantung matanya menunjukkan bahwa wanita itu sangat kurang tidur.

"Tubuhnya berfungsi dengan normal." Ucap sang dokter, menyadari bahwa Rain dan yang lainnya sejak tadi menatap Harsa dan sang dokter secara bergantian. "Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut. Untuk saat ini, usahakan jangan membiarkan pasien terlalu banyak berinteraksi, terutama jika melakukan hal yang bisa membuat pasien terlalu banyak bergerak."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 21, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ORAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang