12

59 17 16
                                        

Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~

(❁´◡'❁)♡Thanks!

●●●


Langit mendung sejak Rain melangkahkan kakinya keluar dari rumah tadi pagi saat berangkat ke kampus, dan hingga kini matahari enggan menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti bersembunyi. Sepanjang hari ini, entah berapa kali Rain menatap iri ke arah Clara yang membiarkan rambut panjangnya memeluk tengkuknya yang kedinginan, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali ia memiliki rambut sepanjang itu. Bahkan

“Mungkin aku harus mencoba memanjangkan rambutku.” Ucap Rain, lalu meneguk tangerine latte di tangannya yang baru saja ia beli dari kantin kampus sebelum beranjak meninggalkan tempat itu.

Clara tertawa lalu dengan sengaja mengibaskan rambutnya. “Cantik, kan?”

Tentu saja ucapan itu mengundang Rain untuk menunjukkan kebiasaannya memutar bola mata.

“Tapi, kenapa tiba-tiba ingin memanjangkan rambut? Pasti…” Clara sengaja mengulur menyelesaikan kalimatnya. Ia justru tersenyum mengejek menatap Rain yang mulai mengantisipasi ucapan macam apa yang akan dilontarkan sahabatnya itu.

“Apa sih?” Tanya Rain kesal sekaligus penasaran.

Clara merangkul Rain, mengangkat-angkat alisnya. “Pastiiii… mau mencari perhatiannya Harsa ka- aww!

Gadis malang itu buru-buru mengusap-usap pinggangnya yang baru saja dicubit oleh Rain. Ia meringis sembari melemparkan tatapan sedih yang dibuat-buat. "Teganya..." ucap Clara.

“Bisa-bisa Harsa tersedak makanan setiap hari karena kamu selalu membicarakannya."  

Clara tertawa pelan. "Setidaknya aku tidak membuat dia jerawatan karena selalu memikirkannya?"

Rain menautkan alis. "Memangnya siapa yang memikirkannya?"

"Menurutmu siapa?"

"Entahlah! Mungkin neneknya?"

"Memangnya dia punya nenek?"

"Mana aku tahu! Lagipula kenapa aku harus tahu?"

"Kenapa tidak mau tahu?"

"Kalian sedang apa?" Ucap seseorang yang berdiri di belakang Rain dan Clara, berdiri mematung menatap kedua perempuan yang baru saja memperdebatkan hal yang tidal penting di tengah-tengah lorong kampus. Keduanya menoleh. Suara yang sangat mereka kenali itu tak lain berasal dari Sasha. Gadis itu terlihat kikuk.

"Boleh aku... bergabung?" Lanjutnya ragu-ragu

Rain tertegun, dalam hati mereka sedikit rindu pada sosok yang dulu pernah dekat dengannya itu, meskipun masih ada sisa rasa kecewa di hatinya, namun sebenarnya ia sudah tidak begitu peduli dengan mantannya. Baru saja ia ingin buka mulut, ketika Clara maju selangkah dan memasang senyum menghina di wajahnya.

"Apa rasa malumu sudah dikubur dalam-dalam sejak sukses jadi selingkuhan... Ups! Maksudku, sejak jadi pacarnya Hari." Clara sengaja menaikkan nada bicaranya hingga mengundang rasa ingin tahu orang-orang di sekitarnya.

Rain menyenggol pelan lengan Clara karena menyadari orang-orang mulai memperhatikan mereka. Sementara Clara terlihat tidak peduli karena sejak awal ia memang sengaja bersikap mencolok. Sasha yang terlihat merasa bersalah, berusaha tersenyum meskipun jelas sekali ia tengah merasa malu.

"Rain, aku..." Sasha menatap Rain lekat-lekat. "...apa ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki kesalahanku?"

Clara meniru kebiasaan Rain memutar bola mata, bersiap-siap ingin mengeluarkan sindiran lainnya untuk mantan sahabatnya itu, ketika Rain memegang erat pergelangan tangan Clara, mencegah gadis itu bertindak lebih jauh.

ORAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang