03

74 21 13
                                        

Support Author dengan memberi Vote ☆ dan Komentar~
(❁´◡'❁)♡Thanks!

●●●

Rain bingung kenapa sejak ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong kampus, setiap pasang mata yg berbaris dari ujung ke ujung terus bergerak mengikutinya, sesekali para pemiliknya berbisik. Ketika Rain tiba di kelas, orang-orang yang sedang asyik mengobrol dalam circle -nya masing-masing pun serentak terdiam, menatap ke arah gadis itu.

Rain memutar bola mata, memiliki firasat bahwa dirinya tengah menjadi topik hangat, meski pun ia tak mengerti hal semacam apa lagi yang dibicarakan orang-orang setelah hebohnya kasus putusnya Rain dengan Hari beberapa minggu yang lalu.

Clara menatap gadis itu sejak tiba di depan pintu kelas, hingga Rain tiba dan duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Clara.

“Rain, kamu ta-”

“Tahu kok. Pasti aku sedang jadi bahan pembicaraan orang-orang lagi. Kali ini kenapa?” Potong Rain cepat, karena sudah kesal dengan tatapan para penghuni kelas yang menyebalkan baginya.

Clara berdeham. “Memangnya benar kamu pacaran dengan tukang antar jeruk keliling?”

Rain hampir tersedak air liurnya sendiri. Ia melotot menatap Clara. “Maksudnya?”

Clara meraih ponselnya, lalu memperlihatkan Instagram story milik Hari. “Kamu belum melihat ini?” Gadis itu menyodorkan ponselnya pada Rain. Dilihatnya video rekaman ketika Rain menggandeng tangan Harsa saat mereka berada di tempat parkir mall kemarin sore. Lantas, wajah Rain memerah seperti kepiting rebus, terutama karena melihat kata-kata yang tertulis di sana.

---
Bertemu dengan Rain dan kekasihnya di @edelweisscitymall

Aku turut berbahagia untukmu
---
 

“Dia pasti sengaja menulis ini. Padahal dia pasti tahu bahwa Harsa bukan pacarku.”

“Siapa Harsa?” Tanya Clara, sedikit berbisik.

“Pria yang ada di video bersamaku. Dia anak pemilik kebun jeruk yang biasa menyuplai jeruk ke kafe yang beberapa kali aku datangi akhir-akhir ini. Harsa yang mengantar jeruk ke sana, tetapi aku baru berkenalan dengannya kemarin.” Rain menjelaskan.

“Lalu, kenapa kamu menggandeng tangannya?”

Rain menghela nafas, mengangkat bahu. “Aku menariknya menjauhi Hari dan Sasha. Aku muak melihat wajah Hari yang menjijikkan.” Rain mencibir, membuat Clara tertawa kecil ketika melihat gadis itu meniru ekspresi orang yang ingin muntah.

“Apa yang kamu lakukan bersama Harsa di sana? Orang-orang membicarakanmu, mengatakan seolah kamu terlalu patah hati karena kehilangan Hari, lalu mencari penggantinya dengan terburu-buru hingga berpacaran dengan sembarang pria. Mereka bilang, seleramu tu-”

“Rain! Daripada kamu berpacaran dengan kurir jeruk seperti ini, lebih baik jadi pacarku. Setidaknya, aku bisa membawamu jajan ke tempat yang lebih baik.” Salah satu pria yang sekelas dengan Rain berseru, kemudian tertawa diiringi teman-temannya.

“Benar juga, Rain. Jangan merendahkan seleramu hanya karena butuh seseorang untuk dipeluk dan dicium. Sayang sekali jika anak pasangan musisi terkenal malah bermain-main dengan pria seperti ini. Lebi-”

“Seleraku rendah? Aku butuh pelukan dan ciuman?” Rain tertawa menghina, menatap tajam ke arah orang-orang yang mengusik ketenangannya di hari yang masih pagi. “Apa saja yang kalian lakukan selama sekitar dua puluh tahun kalian hidup di dunia ini? Kalian terlihat bodoh karena mengatakan hal yang kalian simpulkan dengan hanya melihat dari satu sudut pandang. Sebegitu sempit kah ruangan di kepala kalian?”

ORAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang