Pagi indah Diandra berubah sial kala Vika muncul di teras rumahnya. Alisnya sukses naik melihat penampilan cetar sahabatnya itu.
Kaus lengan pendek yang dibalut cardigan dengan rok mini yang begitu menggoda. Belum lagi, rambut Vika digerai begitu indahnya. Tas serta sepatu cewek itu terlihat mahal. Satu yang Diandra sesali, mengapa Vika memakai kacamata dengan lensa yang besar?
"Mau ngapain lo rapi begini?"
Vika melirik Diandra malas. "Mau ngelonteh!" ketusnya, tangannya terulur pada Diandra. "Ambil, cepet!"
Diandra menahan dongkol kala Vika menggoyangkan kunci mobil berisik itu di depan wajahnya. Dia sudah bisa menebak nasibnya kedepan.
"Temenin gue cari Abi Sugar. Bosen gue sama Daddy Sugar." ucapnya seolah bos. "Lo yang nyetir ya, gue nggak boleh keliatan dekil soalnya."
Astaga! Patah hati bikin otak Vika makin deras begonya. Diandra menghela nafas berat kala Vika tengah memiringkan kepalanya, dia bisa melihat samar-samar mata cewek itu bengkak. "Gue ganti baju dulu."
Vika hanya mengangguk dan sesaat Diandra mendengar cewek itu membersut hidung. Bukannya dia sudah tidak sedih lagi putus dengan Rehan? Kok balik gagal move on lagi sih!
Bahkan saat di dalam mobil sekalipun, vika menolak melepas kacamatanya. Diandra lagi-lagi cuma bisa menyerah, dia melirik Vika yang tengah duduk menatap jendela.
"Kita mau ke mana, vik?"
"Nonton yuk, gue udah lama ngga nonton." sedetik kemudian dia melirih. "Dulu sama Rehan juga susah buat nonton."
Diandra menaikkan alisnya, enggan menanggapi ocehan menyedihkan Vika. "Oke, langsung ke tempat biasa ya." dia tak mau Vika makin banyak mengingat kenangannya itu.
"Iya, mbak. Tolong pelan-pelan bawa mobilnya, anda lagi membawa Princess." balas Vika sekoyong-koyong membuat Diandra mengumpat.
Namun Diandra yang pemarah tidak jadi ngamuk mendengar tawa serak-serak Vika, sepertinya sahabatnya ini menangis semalaman suntuk.
Film yang sedang tayang di bioskop ternyata hampir semua tentang roman picisan. Diandra terdiam sejenak, memilah-milah film yang kemungkinan akan membuat Vika kejer di bioskop.
Dan benar saja, film bahkan belum tuntas namun Vika sudah menyeret Diandra menuju toilet. Di dalam sana, tangisnya meledak begitu saja.
Diandra meringis kecil, sambil melihat pintu takut-takut ada pengunjung lain masuk. Vika tengah berdiri didepan kaca besar, menghapus air matanya cepat-cepat dengan tisu.
Bola matanya terus menatap ke atas, menahan untuk tak terus mengeluarkan cairan itu. "Kenapa sih ada yang ngelamar ceweknya di sana? Nggak tau apa gue lagi patah hati!"
Diandra mengeluhkan hal yang sama, dia sama sekali tak tau akan ada adegan menggelikan itu. Namun dia salut karena keberanian laki-laki yang entah siapa itu. Memang nasib Vika saja yang sedang sial.
"Ya udahlah, mending kita makan aja. Itu mata lo tolong dikondisikan, vik. Ngeri banget gue liat mata lo lama-lama putih semua! Kenapa sih harus gitu?" tanya Diandra tepat dibelakang Vika.
Cewek itu menoleh dengan wajah kesal. "Maskara gue terlalu mahal untuk luntur gara-gara nangisin Rehan sialan itu, tau nggak?!"
Hampir saja Diandra terjungkal karena Vika yang tiba-tiba berteriak didepannya. Belum selesai, vika turut mengeluh.
"I messed up my lipstick, uh!" Vika mencari lipstick di dalam tasnya. "Its a fucking Dior!"
Sepasang mata Diandra membesar, raut wajahnya tak bisa ditahan. Dia menganga bego mendengar gerutuan Vika. "Lipstik lo dari Dior?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gentle Soldier
SpiritualSOLDIER SERIES 2 "Saat patah hati, membawamu pada ilahi."--J. S Row ________________________________________ Ravika Bilqis Adityaswara, Chef yang mempunyai pacar tampan seorang Dokter bernama Rehan. Hubungan keduanya tidak berjalan mulus, ketika Vik...
