28. Hijab dan Iman

561 28 7
                                        

"Akhirnya bisa juga jenguk Om Devon." ujar Sabiya, merangkul kedua sahabatnya.

Saat ini mereka telah sampai di rumah sakit Zaki Iskandar. Tempat Sabiya koas sekaligus Om Devon dirawat.

"Libur pun elo tetep ke rumah sakit ya." celetuk Diandra, terkekeh kecil.

Sabiya mengangguk. "Kayaknya rumah sakit ini nggak mau Biya tinggalin."

Vika mencibir. Sok penting sekali gadis kecil ini. Tetapi, baru juga Vika membuka mulut, Sabiya menarik tangannya kuat-kuat hingga membuat Vika dan Diandra kompak mundur terkejut, nyaris terjengkang malah.

"Apaan sih lo?!" semprot Vika langsung.

Sabiya meringis. "Itu...," Tangannya lalu menunjuk ke arah depan. "Ada awak media."

Sepasang mata Vika membulat. Dia lagi-lagi ditarik secara paksa, kali ini Diandra pelakunya. Membuat Vika berakhir bersembunyi di lorong sebelah.

"Nariknya biasa aja bisa nggak sih? Kucel baju gue nanti!" Vika berdecak, mengusap-usap lengan bajunya yang dari tadi kena tarik. "Ini gosoknya nyaris 30 menit tahu nggak!"

Diandra memutar bola matanya malas. Lalu kepalanya mengintip sedikit di ujung lorong. Menghitung beberapa wartawan lengkap dengan alat kameranya itu tengah berjejer di depan pintu masuk utama rumah sakit. Wah, bahkan ada yang tengah duduk selonjoran di pinggir.

"Kok mereka masih di sini? Pihak kepolisian udah buat pernyataan resmi terkait kondisi Bokap lo kan?"

Kepala Vika turut muncul di atas kepala Diandra. Mengangguk-angguk sembari menyipitkan matanya. "Apa mereka masih belum puas ya dengan info itu?"

"Kayaknya iya." Sabiya menyambar, berdiri di belakang Vika dan turut meletakkan kepalanya di atas kepala para sahabatnya. "Ih lucu banget posisi kita, kayak lagi ngintip orang."

Vika dan Diandra kompak melongokkan kepalanya ke atas dengan wajah datar. Ingin sekali menjitak Sabiya yang malah cengar-cengir kegirangan.

Salah satu wartawan tidak sengaja melirik ke arah ketiganya. Spontan Diandra dan Vika menarik wajahnya. Tetapi Sabiya sebaliknya, dia masih diposisi sebelumnya. Mengerjapkan mata ketika bersitatap dengan wartawan yang turut menunjukkan wajah heran. Sampai kemudian bahunya ditarik oleh Vika.

Vika terlihat gregetan. "Kenapa elo nggak cepet-cepet ngumpet?!"

"Bukan Biya yang dicari." sahutnya enteng.

Sempat membuat Diandra ternganga sebenar. Kalau dipikir-pikir, Sabiya benar juga. Ngapain dia ikutan paranoid? Kan wartawan itu pasti mencari sumber informasi akurat. Dan targetnya pasti Vika, anak Jenderal Kapolri yang tengah gencar jadi topik hangat.

Vika melenguh gusar. "Terus ini gimana caranya kita masuk? Kalau lewat pintu itu, mereka pasti ngepung gue!"

Diandra sependapat. "Ada jalan pintas lain nggak, Bi?"

"Ada sih, tapi kayaknya nggak bisa dilewatin, kata Rehan semua akses masuk lagi dijaga ketat."

Itu benar. Pihak kepolisian berjaga-jaga di sekitar rumah sakit agar tidak ada penyerangan lanjutan kepada Jenderal Kapolri yang sebelumnya sampai koma diserang orang tak dikenal. Banyak Intel berkeliaran di sekitar, berbaur seperti orang-orang biasa. Bisa saja mereka menyamar menjadi tukang sapu, pasien atau malah Dokter.

Penyerangan pada Jenderal tertinggi Kepolisian itu menjadi fokus utama di mana-mana.

Bagaimana bisa seorang Jenderal diserang?

Apakah kepolisian tidak menaruh penjagaan?

Siapakah pelakunya?

Adakah konflik internal di markas kepolisian hingga bisa memicu penyerangan pribadi?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 29, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gentle SoldierTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang