Minggu ini, Rehan sudah berencana untuk mengajak Papa—Rian untuk berbincang. Biasanya Papa nya itu bakal berada full di rumah seharian jika hari Minggu tiba.
Benar saja, kala siang tiba. Rehan mendapati Rian tengah memanjakan ikan-ikannya di taman belakang.
Di gazebo, sang Mama tengah membaca sebuah buku dengan pisang goreng di sampingnya.
"Siang bestie-bestieku sayang!"
Rian melirik anaknya tanpa minat, kembali melempar makanan ikan dengan wajah datar. Sementara sang istri, terlihat mendengus mendapati kedatangan putranya sendiri.
"Reaksi macam apa itu?!" jerit Rehan merasa tersinggung. "Sambutlah paduka dengan wajah sumringah wahai bestie-bestieku!"
"Kamu ngapain sih hari Minggu di rumah? Biasanya juga ilang dari pagi!"
Rehan terkekeh geli mendengar gerutuan Mama. Tiba-tiba dia menjatuhkan kepalanya di paha sang Mama, lalu rebahan dengan nyaman.
"Kan sekarang Rehan jones mah, nggak ada yang Rehan apelin."
"Jangan sok ngenes gitu kamu, Rehan." sambar Rian. "Kamu lagi deketin pasienmu kan? Papa lihat kedekatan kalian lebih dari sekedar dokter dan pasien."
Ajaib amat Papanya! Kok bisa tahu sih? Tapi Rehan dengan tenang menyangkalnya, karena memang dia dan Kevara belum ada kemajuan apa-apa.
"Gosip darimana itu, pah? Memfitnah putra papa yang suci ini dengan kejam."
Rian mendepak kaki anaknya setelah ikutan duduk bersama. "Mata-mata Papa di rumah sakit tuh banyak!"
Rehan mendengus, mengusap pahanya. Ia bangkit duduk dengan wajah masih cemberut. "Melawan hukum kedokteran tangan Papa tuh!"
Sang Mama hanya geleng-geleng kepala menyaksikan suami dan anaknya bertengkar. Sudah teramat sering dan ia menjadi kebal.
"Beneran, pah. Rehan nggak ada apa-apa sama Kevara, cuma agak perhatian aja. Maklum, baru putus nih."
"Jangan main-main kamu, Rehan. Dia lagi berjuang dengan nyawanya." Rian melirik tajam sang putra. "Jangan kamu bikin tambah sakit!"
"Astagfirullah, papa. Ya enggak lah, Rehan juga nggak tega kali."
Rian meminta pisang goreng dari tangan istrinya. Tiba-tiba, hening menyelimuti mereka cukup lama. Rian yang merasa aneh oleh kediaman Rehan menatap anaknya penuh selidik. Apalagi ia mendapati Rehan tengah duduk serius dan seakan ingin mengungkapkan sesuatu yang buruk karena wajah Rehan mendadak tegang.
"Kenapa kamu? Cepirit?"
"Enak aja!"
Mama turut memandangi Rehan lekat-lekat. "Abis gagal operasi?"
Rehan menggeleng pelan, dia menunduk sekilas sebelum menatap Rian penuh keseriusan. Membuat Rian cukup ngeri juga dengan apa yang akan dikatakan Rehan.
"Pah—"
"Kamu nggak ngehamilin anak orang kan?" sela Rian tak sabar, hanya itu yang kini berseliweran di kepalanya.
"ASTAGFIRULLAH PAPA?! BERDOSA BANGET NUDUH ANAK LUGU KAYAK REHAN!" teriak Rehan sejadi-jadinya.
"Tau ih, kamu!" Mama membela, tak terima anaknya dituduh. "Inget, cuma Rehan yang baiq!"
"Siapa tau kan? Muka kamu tegang banget soalnya. Kayak takut Papa gebukin aja." Rian menyahut santai.
Sejenak Rehan diam, dengan senyum lebar dia bertanya. "Emang kalo Rehan ngehamilin anak orang, nggak di gebukin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gentle Soldier
SpiritualSOLDIER SERIES 2 "Saat patah hati, membawamu pada ilahi."--J. S Row ________________________________________ Ravika Bilqis Adityaswara, Chef yang mempunyai pacar tampan seorang Dokter bernama Rehan. Hubungan keduanya tidak berjalan mulus, ketika Vik...
