21. Kepelet, kue kering!

463 39 2
                                        

"Enak, nak. Kamu beli di mana kuenya?"

Ibram tersenyum dengan wajah sedikit merona mendengar komentar sang umi, Hamidah. "Dikasih sama anak jenderal Ibram, umi."

Hamidah masih asik menguyah kue-kue tersebut. "Pinter masak ya anaknya?"

"Dia buka kafe juga. Jual kue-kue kering lewat online, nanti Ibram beliin ya."

Terbiasa hidup mandiri tanpa sang suami yang telah wafat, Hamidah jadi pintar menggunakan ponsel genggam meski sudah berumur. "Umi beli sendiri aja, nama tokonya apa?"

Ibram memainkan ponselnya sebentar sebelum mendangak kepada sang umi yang memang duduk di atas sofa, sementara ia bersimpuh di bawah. "Ibram kirim link-nya, ya."

Hamidah mengelus rambut Ibram dengan lembut. Anaknya tengah menonton berita. "Kamu betah tinggal sama mereka, Ibrahim?"

Mengangguk, Ibram paham betul mengenai kecemasan Uminya. "Bapak orangnya tegas, tapi sangat welcome dan menghormati orang lain, bahkan Ibram. Ibu baik banget, selalu kasih kami cemilan kalau senggang dan begadang. Putrinya sendiri asik dan nggak pernah mandang status kalau berteman, walaupun agak bar-bar tapi Vika itu hatinya lembut. Dia juga pinter masak, umi."

"Alhamdulillah ya, nak." Hamidah mengecup kening Ibram. "Umi pengin ketemu Vika deh kapan-kapan, mau nggak ya anaknya?"

Ibram melirik Hamidah dengan dahi berkerut. "Emang kenapa, umi?"

"Mau minta resep kue nya." sahut Hamidah, lalu terkekeh. "Boleh nggak ya?"

Senyum Ibram muncul, lalu dia membisikkan sesuatu hingga membuat tawa Hamidah menguar dengan bebas. "Nanti Ibram curi resep rahasianya."

"Ada-ada aja kamu!" Hamidah lalu menepuk dahinya tiba-tiba. "Ya ampun, umi lupa."

"Kenapa, umi?" tanya Ibram, spontan.

"Irwan nitip sesuatu buat kamu."

Ibram mengedip. "Irwan?"

"Iya, dia sering ke sini lho. Umi heran banget kamu nemu temen kayak dia di mana? Anaknya baik banget."

Hamidah sering kali dijenguk oleh kawan anaknya tersebut. Memang setiap Irwan datang, Ibram tak pernah ada. Lelaki itu tak pernah lupa  mendatanginya jika sedang cuti dinas.

Sudah begitu, Irwan kalau datang tidak pernah dengan tangan kosong. Kadang Hamidah merasa tidak enak hati, apalagi Irwan selalu memberinya amplop berisi uang.

"Cuma dia lho yang tiap pulang tugas nggak lupa sama Ibu temannya." kata Hamidah beranjak mengambil barang pesanan untuk Ibram. "Umi beneran sayang banget sama dia. Agak mirip Jalasga, ya? Keliatannya dingin tapi perhatian."

Ibram menerima sebuah kotak yang diberikan, lalu membiarkan Hamidah beranjak untuk memasak. Ia memang sering mendengar Irwan sering mampir ke rumah untuk menjenguk uminya.

Bukan hanya padanya, Rangga—salah satu sahabat sekaligus rekan dekat Irwan yang juga merupakan temannya turut menceritakan hal yang sama. Irwan itu memang sangat memuliakan ibu temannya seperti ibunya sendiri, terlebih mereka yang sudah tidak memiliki suami.

"Mayor One, ya ampun." Ibram menghela nafas. "Hadiahnya mahal banget."

Jam tangan dengan merek ternama, ada lima buah. Di sana tertulis pesan singkat.

Misi yang lalu sukses!
Terimakasih, tetap hidup, Elang Nusantara!

From 1

Ibram tersenyum tipis, lalu membalikkan kertas tersebut dan jadi terkekeh. Ada tulisan lain yang lebih baik, tidak seformal tadi.

Gentle SoldierTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang