26. Saling Merelakan

472 39 8
                                        

Penyerangan terhadap Jenderal besar kepolisian itu membuat gempar bangsa. Seluruh stasiun televisi membahasnya. Keadaan yang sangat genting itu membuat Vika turut stop segala kegiatannya.

Selama kondisi tegang dan was-was itu Ibram tak pernah pergi dari sisinya. Lelaki itu menunjukkan dedikasinya dengan gagah berani. Dia memastikan keseluruhan keluarga Devon baik-baik saja. Bekerjasama dengan pihak kepolisian dan angkatan.

"Ibu Selima, pagi sudah tiba. Biar saya yang menjaga Bapak di sini." ujar Ibram lembut. "Silakan istirahat di kamar yang disediakan."

Selima menggeleng kecil. "Saya masih mau di sini, Bram."

"Ibu belum tidur sejak semalam, makan juga sedikit. Tolong perhatikan kesehatan Ibu juga. Bapak pasti baik-baik saja." bujuk Ibram.

Namun Selima tetap kukuh duduk di sisi suaminya yang sampai sekarang belum siuman meski kondisinya menurut Dokter tidak separah awal.

"Mah."

Selima menoleh pada putrinya, Vika mendekat dengan helaan panjang. Dia tampak lebih baik, tidak sekacau kemarin. Meskipun demikian, Selima tahu isi kepala putrinya tengah riuh.

"Udah waktunya gantian jaga Ayah."

Bujukan Vika sepertinya berhasil membuat Selima bersedia tukaran jaga. Ibram meminta keduanya untuk sarapan lebih dulu sebelum berpisah.

Di ruang rawat Devon memang sudah tersedia sofa. Berbagai jenis makanan dan minuman tersedia. Ibram berdiri di sisi mereka, memantau.

"Kamu sudah sarapan, Bram?" tanya Selima, ramah. "Kamu kelihatan lelah."

Ibram tersenyum, tangannya bergerak memperbaiki posisi earpiece, alat komunikasi rahasia yang dipakai pasukan pengawal. Bentuknya mirip-mirip dengan headset kecil yang biasa orang-orang pakai.

"Segera, Bu."

"Berarti belum?" Vika menarik tangan  kanan Ibram hingga lelaki itu jatuh di sisinya. "Makan, tugas lo berat, jangan sampai tumbang." Vika melanjutkan dalam hati. "Gue butuh lo soalnya."

Selima tersenyum melihat wajah terkejut Ibram. Lelaki itu tampak salah tingkah kala Vika membukakan salah satu makanan yang tersedia untuknya. Lantas dengan wajah kaku, Ibram mengucapkan terimakasih.

Melihat Ibram sangat kompeten menjaga Vika juga selalu lembut padanya membuat Selima paham dengan keputusan Devon. Suaminya hanya ingin keselamatan dan kenyamanan Vika terpenuhi.

"Perkembangan kasusnya gimana, Bram?" tanya Vika, terlihat tidak bernafsu untuk makan.

"Masih dalam penyelidikan."

Ibram menunjuk kotak makan Vika dengan senyum tipis, lantas memperagakan seolah hendak menyuap dengan sumpitnya, seolah menyuruh Vika untuk kembali memasukkan makanan tersebut dalam mulutnya.

"Makanannya nggak enak ah, udah dingin."

"Nggak boleh buang-buang makanan. Kamu kan chef, kamu tahu seberapa capeknya mengolah sesuatu. Hargai sesuatu yang dimasak dan dihidangkan padamu." Ibram tersenyum menyadari wajah merenggut Vika. "Kamu yang mengucapkan itu pada saya."

Selima kembali tersenyum, cara Ibram membujuk Vika menurutnya sangat lembut. Selima lantas pamit undur diri untuk beristirahat di kamar sebelah Devon. Usai kepergian Mamanya, Vika mulai membuka suara.

"Gue masih belum boleh ketemu siapa-siapa?" tanya Vika, dia sangat membutuhkan orang-orang terdekatnya saat ini.

Ibram terdiam sejenak. "Iya, maaf, Vika. Ini demi keselamatan kamu, kami sepakat untuk membatasi pertemuanmu dengan orang lain dalam situasi genting begini."

Gentle SoldierTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang