22. Masih Ada Rasa

553 41 7
                                        

Kejutan! Ada Mayor One di sini Wkwkw

***

Vika belum menjawab Devon yang terus menatapnya lekat. Ia tercekat dengan segala ucapan dalam mulutnya, alih-alih menemukan keberanian membalas Devon seperti biasanya, Vika malah menangis.

Berita yang dibawa Sabiya menghantam dadanya dengan telak, Vika tak berani berangan-angan mengenai kondisi Rehan saking takutnya.

Devon berbalik arah mendapati putrinya terus mengeluarkan air mata. "Ayah panggil Ibram, biar dia yang antar kamu." katanya.

Tubuh Vika mematung, memandangi punggung belakang Devon yang perlahan menjauh dengan rasa kejut tak terhingga. Menyeka air matanya, Vika menghampiri Devon namun tak sampai pada laki-laki itu. Hanya untuk mengucapkan terimakasih dengan suara serak.

Terbiasa cepat dan dilatih untuk ulet, Ibram muncul dengan siap di depan Vika. Dia sempat terkejut mendapati Vika masih sesekali menyeka air mata, Pak Devon sudah menceritakan garis besarnya tadi.

"Bram, tolong anterin gue ya." Vika tersenyum tipis. "Maaf ya, jadi ganggu tidur lo."

Menggeleng berulang, lelaki itu menghela nafas berat sebelum memberikan sebuah sapu tangan.

Vika mendengus geli, namun tetap mengambilnya. "Sialan! Malu banget gue ketahuan belum move on." cicit Vika, mengusap wajahnya.

"Rehan bakal baik-baik aja. Dia pria yang tangguh." Ibram mengedip dan menjadi diam.

***

Sebagai pemilik Rumah Sakit, Rian jelas membawa anaknya ke ruang VVIP paling nyaman. Istrinya—Nayla, tak henti-henti menangisi kondisi Rehan setelah operasi usai.

Fania—istri Hamdan, yang tak lain adalah sepupunya—berusaha membujuk Nayla untuk istirahat.

Hal itu tentu tak berguna, Nayla kekeh duduk di sisi Rehan dan terus menangisinya. Kondisi Rehan yang cukup parah membuat jantungnya hampir lepas.

Satu tangannya patah, tulang paha-nya untung masih bisa ditangani. Wajah dan tubuh baret semua, kepalanya turut kena. Hal yang sangat Rian cemaskan.

Alman masuk dalam ruangan Rehan yang terdapat ruang tunggu luas, ia melirik Rian yang wajahnya kelihatan lelah. "Pah, ada Vika di depan."

Tersentak dalam duduknya, Rian mengedip heran. "Kenapa nggak disuruh masuk?"

Senyum canggung Alman tumbuh, dia buru-buru kembali untuk menyusul gadis yang merasa tidak enak hati untuk nyelonong masuk begitu saja setelah apa yang terjadi di antara mereka.

"Saya di sini saja."

Ibram tahu diri, namun Alman menariknya paksa. Lelaki itu beralasan lorong Rumah Sakit bisa sangat mengerikan saat sepi.

Sabiya yang turut berada di sana langsung bangun. Wajahnya basah oleh air mata, menyambut tangis Vika sama derasnya.

"Kok bisa sih, Bi?" bisik Vika dalam dekapan sahabatnya. "Dia nggak apa-apa kan?"

Menggeleng pelan, Sabiya membersut hidung dengan tangan. Dia pasrah saja ketika Alman menarik wajahnya dan mengusap wajah kembarannya itu dengan sapu tangan.

Rian mengangguk pada Ibram sebagai tanda sapanya, Ibram pun dengan sopan menyalami Rian. Lelaki itu berdiri bingung di sana, sampai seorang Ibu menawarkannya minum.

Gentle SoldierTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang