(Completed)
Mereka menyebutnya gadis yang cantik, baik, sopan dan penyayang. Mungkin memang benar. Tapi, ada satu fakta yang tidak mereka ketahui. Entah dengan atau tanpa alasan, diam-diam dirinya sering melakukan hal yang membuat seseorang kehilang...
Buat yang masih inget, gue udah kasih cast Feby di part sebelumnya. Tapi, gue mutusin bua ganti cast-nya, karena yang satu ini kayaknya lebih cocok dan lebih mirip sama Feby pas kecil. (psst, yg pengen tau masa kecil Feby, bisa baca di Why Can't I Hold You)
. . . . .
Pagi yang sedikit mendung, dihiasi dengan daun yang berguguran akibat tertiup angin. Ini bukan musim gugur seperti di negara empat musim. Tapi angin yang cukup kencang, memang membuat daun-daun di atas pohon sana, lepas dari ranting, lalu akhirnya jatuh ke atas aspal.
Eirlys berjongkok, mengambil salah satu daun yang menurutnya indah. Ia memandangi daun tersebut sembari tersenyum. Lantas, ia pun kembali berjalan menuju sekolahnya, dengan daun yang masih ia pegang.
Sementara di lain tempat, ada seorang gadis yang juga sedang berangkat menuju sekolahnya. Namun, yang membedakan adalah dirinya yang berangkat menggunakan sepeda.
Jangan ditanya kenapa ia tidak menggunakan motor atau mobil. Ia tentu punya dua jenis kendaraan itu. Malah keduanya, termasuk kedalam jenis kendaraan yang terbilang mahal. Tak heran, sebab orang tuanya adalah orang yang berada. Mereka pekerja keras, sehingga bisa menghasilkan cukup banyak uang setiap bulannya.
Rhea, Mommy dari Feby itu kini bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan. Sementara Salwa Ibunya, memiliki toko kue yang cukup besar. Sejak kecil, Salwa memang sudah membantu sang Ibu--Nenek Feby untuk berjualan kue. Jika dulu kehidupannya jauh dari kata kaya, karena berjualan kue pun masih berkeliling. Tapi sekarang, yang perlu ia lakukan hanya memantau para karyawannya, tak perlu repot turun ke dapur hanya untuk ikut membuat kue. Para karyawannya itu juga sudah tau resep dan cara apa saja yang biasa Salwa gunakan.
Ya, sebut saja mereka adalah keluarga yang sangat berkecukupan. Tapi mereka, memlilih untuk menyimpan semua hartanya, dan menjalani hidup layaknya keluarga sederhana. Jarang berfoya-foya dan menghamburkan uang hanya untuk hal yang tak penting.
Contohnya saja Feby yang berangkat hanya menggunakan sepeda. Selain didikan dari kedua orang tuanya untuk hidup sederhana, ia juga lebih nyaman saat harus berangkat menggunakan sepedanya itu.
"Anginnya kenceng banget sekarang." Ucapnya sembari menghentikan kayuhannya, lalu meresleting jaketnya hingga menutupi leher, dan menutupi kepalanya menggunakan kupluk jaket tersebut. Hari yang masih sangat pagi dengan angin yang berhembus kencang, memang membuat udara terasa sangat dingin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.