6. New Friend

1.4K 199 7
                                        

"Kamu duduk sini aja dulu. Oh iya, udah makan belum? Kebetulan habis dari warung tadi, aku emang mau masak."

"Aku udah makan, kok!"

"Yah... Kalo gitu, makan kue aja mau gak? Aku tadi habis nyoba resep baru."

"Umm, boleh deh!"

Eirlys tersenyum lalu pergi mengambil beberapa kue dari ruang makan.

Sementara menunggu gadis itu kembali, tangan Feby merogoh saku celananya dan mengambil benda "itu". Ia menatapnya sejenak, memegang bagian besinya dan memastikan bahwa ini tak terlalu tajam maupun terlalu tumpul. Ia hanya ingin benda itu bisa melukai kulit namun dengan luka goresan yang tentunya akan lebih terasa sakit.

Matanya beralih menatap ke mana Eirlys berjalan tadi. Ia berdiri, lalu menghampiri ambang pintu yang memisahkan ruang tamu ini dengan ruang keluarga. Dari sini, ia bisa melihat Eirlys yang sedang memasukkan kue ke dalam toples di ruang makan sana. Toples itu sudah hampir terisi penuh, menandakan bahwa gadis itu sebentar lagi pasti akan kembali menghampirinya sembari membawa kue tersebut.

Feby memperhatikan sekitar. Rumah ini terasa sangat sepi, dan dengan mudah ia menyimpulkan bahwa tak ada siapapun di sini selain dirinya dan Eirlys.

Mulutnya menyunggingkan senyuman. Ia kembali mengingat niat awal dirinya pergi sejauh ini untuk apa. Dan kesempatan ini sangat langka ia dapatkan. Ini tak akan berjalan sulit. Bahkan di tempat ramai pun, ia bisa dengan mudahnya menangkap target buruannya.

Nampak Eirlys yang hendak berjalan ke sini. Feby pun dengan segera kembali ke ruang tamu lalu berdiri di balik pintu sembari memegang erat pisau di tangan kirinya.

Matanya sudah menangkap bayangan Eirlys yang akan memasuki ruangan ini. Ancang-ancang semakin ia kuatkan. Ini pasti akan berjalan dengan mudah, cepat, dan tentunya menyenangkan.

Ceklek!

Matanya membulat saat pintu menuju luar di depan sana terbuka. Nampak seorang wanita dengan raut kelelahan memasuki rumah ini.

"Eh, udah pulang, Kak?"

Sontak Feby menoleh ke samping, di mana Eirlys berdiri dengan toples penuh kue kering di tangannya. Gadis itu berdecak dalam hati. Entah mengapa hal ini lagi-lagi gagal untuk dilakukannya. Mengapa jadi seperti ini? Tak pernah sebelumnya ia mendapat hal tak terduga seperti ini yang membuatnya mengurungkan niat untuk "bermain".

Eirlys ikut menoleh, mendapati Feby berdiri dekat pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Kamu ngapain di situ? Ayo ini kuenya di makan."

"Ah, i-iya."

"Temen kamu, Lys?"

"Iya, Kak! Namanya Feby." Gadis itu beralih menatap teman barunya itu. "Feb, ini kakak aku."

"Halo, aku Feby. Salam kenal, Kak!"

"Iya halo... Nama aku Alicia. Um, tapi maaf ya aku ke kamar dulu, soalnya hari ini capek banget. Kalian lanjut main aja. Kamu kalo mau nginep di sini juga boleh, takut pulangnya kemaleman."

"Enggak, kok. Aku nanti mau pulang aja. Makasih Kak tawarannya."

"Iyaaa. Lys, kamu udah masak belum? Kalo udah, maaf banget Kakak gak akan makan sekarang. Tadi Kakak habis makan-makan soalnya sama temen."

"Belum, kok, Kak. Yaudah Kakak istirahat aja, gih. Keliatan capek banget soalnya."

"Iya." Alicia akhirnya pergi dari hadapan mereka, setelah sebelumnya memberi senyuman pada Feby untuk sekedar menghormatinya sebagai tamu.

"Ayo dimakan, Feb, kuenya!"

Feby mengangguk sembari tersenyum lalu memakan kue tersebut. "Enak!"

"Hihihi, makasih!"

Ending My EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang