Chap 4 - Malam part 2

134 16 5
                                        

Gun POV


Malam ini, ya, hanya malam ini aku korbankan harga diriku.

.

Dengan terpaksa aku makan dengan dia yang membayar makananku dan aku pulang naik mobilnya. Oh, Gun semurah itukah dirimu, meminta tolong pada saingan terberatmu??

Aku duduk, dengan sedikit tidak nyaman karena baru kali ini kami berada dalam jarak yang dekat.

Jika kalian bertanya ada apa antara aku dan Mark, kenapa aku sangat membencinya? Karena semenjak dia ada aku sama sekali tidak bisa mendekati Jane.

Anak itu selalu berada di dekat Jane, sebenarnya baru kali ini aku melihat Jane tanpa seorang kekasih. Jane adalah gadis idaman banyak lelaki. Setelah dia putus dengan kekasihnya selalu ada pria lain yang mendekatinya.

Semester ini Jane selalu berkata kalau dia sedang tidak bersama siapapun, tapi kenyataannya dia selalu bersama Mark.

Jika orang-orang bertanya apakah Mark kekasihnya, dia selalu menjawab "Tidak, dia adikku." dengan senyum manisnya.

Sayangnya semua orang tau bahwa dia adalah anak tunggal, dan Mark yang selalu berada disisinya selalu melihatku seolah-olah merendahkanku.

Aku tidak peduli bagaimana dia menatapku, tapi.... itu membuatku sedikit tidak nyaman.

"Hei, kau tidak keberatan jika aku mampir ke suatu tempat?" tanyanya.

"Y-y-ya, silahkan..."

"Oke."

Hening tidak ada percakapan sama sekali diantara kami.

Jika ini sebuah radio, bisa dibilang kami sama sekali tidak sefrekuensi.

"Hmm, Mark, kau ada charger? hpku mati dan sepertinya aku perlu menghubungi orang rumah karena aku belum pulang sampai jam segini."

"Ah, sorry, aku enggak bawa charger."

"Oh, oke."

....

....

....

F*ck, kenapa suasananya jadi canggung sekali.

Yah, kurasa lebih baik seperti ini, lagi pula tidak ada percakapan yang nyambung antara aku dengan Mark.

===

Entah dari mana aku seperti mencium bau laut, dan .... aku juga mendengar suara laut.

"Eh!"

Aku membangunkan tubuhku, "A-aku?" Dengan cepat aku melihat sekelilingku.

"Aku ketiduran..?" dan aku masih berada di dalam mobil Mark.

Dari dalam mobil aku bisa melihat Mark sedang duduk di pinggir pantai dan aku keluar menghampirinya.

"Aku baru tau kau merokok, Mark?"

Mark sedikit terkejut, respon yang tidak aku duga mengingat dia selalu tanpa ekspresi, "Ya." Jawabnya singkat.

Aku mendudukkan diriku di sampingnya, "Disini lumayan dingin, apa yang kau lakukan tengah malam disini?" tanyaku.

"Menunggu sunrise." jawabnya lagi singkat, sambil menyesap rokoknya.

"Hah? jam berapa sekarang?"

"Jam 3"

"A-apa? jam 3? kenapa kau tidak membangunkanku?" tanyaku mulai panik tapi Mark tetap membalasku dengan wajah tenangnya.

"Mungkin kau bisa tanya pada dirimu sendiri kenapa tidak bangun saat kubangunkan?"

Wajahku sedikit memerah saat tau kesalahan ternyata ada di diriku "So-sorry"

"Gakpapa, aku gak tau dimana rumahmu, jadi aku bawa kesini."

"Kau tidak keberatan dengan asap rokok?" tanyanya dan Mark menaikkan kedua alisnya, menunggu jawabanku.

"Aaa...gak, it's ok."

It's not Ok btw, aku benci asap rokok karena sangat tidak menyehatkan.

Tapi karena malam ini  dia sudah sangat baik denganku, jadi lebih baik dia tidak tahu.

.

Kupikir disini hanya ada aku dan Mark, melihat sekeliling kami ada beberapa orang mendirikan tenda disini, sepertinya tujuan mereka sama, melihat sunrise.

"Aahh, kurasa tidur lagi disini nyaman juga" ucapku sembari membaringkan tubuhku di atas pasir pantai.

"Hei, apa yang kau lakukan, bajumu bisa kotor?" respon Mark, bisa kulihat wajahnya sedikit panik.

"Wow, kurasa kau takut kotor ya tuan pecinta kebersihan."

"Jelaslah, aku gak mau mobilku kotor!!!" sebelum Mark menyelesaikan ucapannya, aku menariknya hingga tubuhnya jatuh di atas pasir pantai.

"Hei!!!"

"Sstt! Mark, diamlah, kau yang membawaku kesini."

"Hei, ak-!!" aku menghalangi tubuhnya bangun dengan lengan kananku agar dia berbaring lagi sepertiku.

"Lihat, kau harus melihat bintang sepeti ini."

"....."

Tidak ada pergerakan dan jawaban dari Mark, aku rasa dia akan diam saja mengikutiku.

"Tidak ada lampu perkotaan, tidak ada kebisingan, hanya ada cahaya dari bintang-bintang, dan suara ombak...."

"Dan.... Ya! Sentuhan udara dingin di kulit kita!" tambahku dan entah kenapa aku menyukai suasana ini.

"Kurasa aku akan kembali lagi kesini"

Aku mengarahkah tubuhku menghadap Mark, "Terima kasih sudah mengenalkan tempat ini, Mark..."

Entahlah mungkin karena hari yang masih gelap, atau karena suasana yang hening, aku sungguh tidak tahu apa penyebabnya.

"Mark..?"

Seseorang yang selama ini kuanggap sebagai saingan terberatku, entah kenapa memandangku dengan tajam. Pandangan yang biasa merendahkanku berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

"Hei, kau tau kapan Jane pertama kali mendapatkan ciuman pertamanya?" pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga akan muncul dari Mark.

"Saat Jane berumur 15 tahun, dia baru saja menginjak masa SMA, seorang kakak kelas menembaknya."

Aku tidak tahu dari mana Mark mengetahui kisah itu, walaupun sebenarnya aku tidak mau mendengarkan hal tersebut. Tapi tatapan Mark seolah menyuruhku untuk mendengarkan semua ucapannya.

"Kakak kelas itu menyatakan perasaannya di gedung belakang sekolah, tanpa berfikir panjang Jane menerimanya, karena kakak kelas itu terkenal tampan dan idaman banyak siswi."

Deg Deg Deg

F*ck, kenapa jantungku berdetak kencang!

"Setelah Jane menerimanya, kakak kelas itu menciumnya saat itu juga. Jane terkejut, tapi dia menikmatinya. Dia sangat menikmatinya hingga dia mengacuhkan seorang anak lelaki yang bersembunyi di belakang pohon, melihat mereka berdua berciuman."

Udara di pantai saat ini entah kenapa semakin menghangat, kurasa sunrise sebentar lagi muncul.

"Anak laki-laki itu kau'kan, Gun."

.

.

.

TBC


(S)he's Mine! Really?Stories to obsess over. Discover now