Mark POV
Tepat pukul 8 malam Gun baru saja membuka mata, anak itu tertidur dengan pulasnya. Kurasa waktu berjalan dengan sangat cepat karena tiba-tiba sudah hampir pagi, dan aku menghentikan aktifitas kami karena Gun sudah tidak membuka matanya lagi.
Aku mendengar benda terjatuh di dalam kamarku, kurasa itu bukan benda karena setelah itu aku bergegas dan mendapati Gun terjatuh dari tempat tidur.
"Gun!? Kamu gak papa?" ucapku panik, Gun hanya terdiam tertegun, dan sedetik kemudian air mata jatuh di pipinya. "Mark?" panggilnya dengan suara serak, aku hampir tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ya? Kamu gak papa? Badanmu ada yang sakit?" aku yang khawatir mencoba membopong Gun ke atas kasur lagi, tapi ia hanya terdiam dan menarik lenganku dengan erat.
"Mark? Sakit..." aku bisa melihat air matanya mengalir semakin deras.
.
"Hu hu hu, badanku sakit, aku gak bisa berdiri, gimana nanti dengan masa depanku? Orang tuaku pasti akan membenciku karena aku sudah jadi anak tidak berguna? Hiks" racaunya berkali-kali, aku mencoba menenangkannya tapi imajinasi Gun semakin liar.
"Tenanglah, Gun. Kamu gak akan kenapa-napa." Gun menatapku marah dan dengan tiba-tiba menarik rambutku dengan kedua tangan kurusnya, "Ini semua gara-gara kamu, BEGO!! Aku udah bilang berhenti!!! Kamunya malah keenakan! Gimana sama aku? Brengsek! Aku akan membalasmu nanti, Bajingan Mesuummm!!!"
"Aw! Aw! Sakit, Gun!"
"Aduh! Ughh..." gumamnya kesakitan, Gun kemudian melepaskan tangannya dari rambutku, memposisikan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
"Sakit'kan? Udah jangan banyak gerak." aku mengusap punggungnya, mencoba membantu menghilangkat rasa sakit di badannya, "Kamu mau apa? Mau kumasakkan sesuatu? Kamu belum makan dari tadi pagi?" tanyaku mengecup belakang leher putihnya.
"Pagi?"
"Hmm?"
"Sekarang jam berapa, Mark?"
"Jam 8 lebih."
"Pagi?"
"Malam, Gunn..."
".........."
"Gun?"
Gun membalikkan badannya dengan tiba-tiba dan mulai menarik rambutku lagi, "Aw! Gun! Sakit, Gun!"
"Kamu janji mau nganterin aku nanti jam 10! Kamu sendiri yang ijinin aku buat ikut acara klub fotografi!!!"
"Gun, lepasin! Rambutku bisa rontok, Gun!"
"Gue gak peduli!!! Kamu udah bohongin aku! Kamu sengaja semalem gak mau berhenti biar aku gak ikut acara hari ini'kan!! Brengsek!!!!"
.
"Hiks hiks hiks"
Gun masih saja terus menangis. Entah kenapa melihatnya menangis dengan es krim yang ia masukkan terus menerus ke dalam mulut kecilnya malah membuatku gemas melihatnya.
"I hate you, Mark"
"Yea, I know..."
"Kau bajingan mesum! Manusia brengsek! Aku gak mau tidur denganmu lagi, Mark!!!"
"Love you more, Gun."
BUG
Gun melemparku dengan bantal yang sebelumnya ia gunakan untuk menyangga punggungnya. "Kau maniak sex! Psikopat!! Aku mau kita putus!!"
"You shouldn't have said that." Ia diam saja, tidak menjawab ucapanku tapi aku tahu kekasihku itu masih sangat marah denganku.
Aku mengambil sekotak es krim yang dipegangnya dan sendok yang masih ada di mulutnya, "Hei, kubuatkan sup, makanlah." Dia masih tidak mau menurutiku, Gun mengambil es krim dan sendok yang kupegang dan mulai memakannya lagi dengan lahap. Tentu saja dengan wajahnya yang masih ditekuk.
YOU ARE READING
(S)he's Mine! Really?
RomansaGun, mahasiswa tingkat dua yang sedang dimabuk cinta. Tittle, sepupu sekaligus sahabat Gun. Seorang yang sangat bertolak belakang dengan Gun. Jane, mahasiswa tingkat tiga. Hanya dengan senyuman sanggup membuat hati seseorang berbunga-bunga. Earth, m...
