07 : RASA KECEWA DAN KEBAIKAN HATI

4.1K 384 8
                                        

Pagi ini Kaluna sudah merasa lebih baik, menangis semalaman membuatnya merasa lelah dan lemas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi ini Kaluna sudah merasa lebih baik, menangis semalaman membuatnya merasa lelah dan lemas. Dia memilih duduk di teras rumahnya dengan segelas susu hangat yang menemani. Tangannya dengan lembut mengelus perut, Kaluna membiarkan sinar matahari menyengat kulitnya.

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pagar rumahnya, Kaluna menelisik orang yang turun dari mobil. Wanita cantik yang tersenyum pada sopirnya, wanita itu berjalan mendekati pagar dan membukanya.
Kaluna berdiri di depan teras dengan wajah polosnya. Dia penasaran dengan tamu yang datang di pagi hari ini.

"Kaluna," panggil wanita itu dengan senyumnya.

Kaluna tersenyum tipis dan mengangguk. "Ada perlu apa, ya? Mungkin ibu salah rumah," ujar Kaluna merasa tidak mengenal orang ini.

"Mencari kamu, saya Ananta. Boleh saya naik?"

Kaluna mengangguk. Ananta tersenyum, matanya tak lepas dari Kaluna.

"Cantik sekali," ujar Ananta tanpa sadar.

"Kenapa, tante?" tanya Kaluna.

Ananta menggeleng.

"Silahkan masuk, tante. Saya buatkan minum dulu."

Ananta mengikuti Kaluna, dia berjalan menuju sofa sedangkan Kaluna menuju dapur. Ananta memperhatikan setiap sudut rumah Kaluna, untuk wanita usia tujuh belas tahun, Kaluna termasuk wanita yang rapih dan bersih. Mengingat dia tinggal sendirian membuat Ananta kagum pada kebersihan rumahnya.

Kaluna datang dengan secangkir teh, dia ikut duduk di hadapan Ananta dengan canggung. "Silahkan di minum."

"Kamu pasti bingung karena gak kenal saya," ujar Ananta.

Kaluna tersenyum tipis. "Tante ini siapa sebenarnya? Apa teman ayah? Kaluna gak kenal soalnya."

Ananta tersenyum, dia tidak mengangguk dan tidak menggeleng. "Bagaimana kabar ayah kamu?" tanya Ananta memancing pembicaraan.

"Ayah dan ibu Kaluna sudah meninggal, tante."

"Jadi kabar itu benar," gumam Ananta memainkan peranannya. "Saya turut berduka cita, ayah dan ibu kamu pasti sudah bahagia di surga."

Kaluna tersenyum tipis.

"Kamu tinggal sendirian? Kenapa pindah, bukannya di Jogja lebih bagus?" tanya Ananta lagi.

"Kaluna gak bisa di Jogja lagi, tante." Kaluna menjawab sambil mengelus perutnya membuat Ananta mengangguk mengerti. "Teman-teman Kaluna sudah tau, para tetangga juga. Kaluna cuma mau hidup tenang setelah semua masalah yang datang."

"Kenapa gak minta pertanggung jawaban laki-laki itu?"

Kaluna menggeleng. "Kaluna gak mau, dia laki-laki jahat," jawab Kaluna membuat Ananta terhenyak. "Dia sudah menghancurkan masa depan Kaluna, menerima dia sama aja menerima kehancuran yang kedua kalinya."

Bad Seventeen [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang