Galaksi dan Kaluna tengah bersantai di rumah, tidak ada kegiatan lain membuat mereka memilih menghabiskan waktu untuk menonton film.
"Kakak kapan mulai kerja?" tanya Kaluna.
Galaksi mengelus rambut Kaluna yang bersandar di dadanya. "Saya baru dapat libur sehari, Kaluna. Kamu sudah tanya kapan saya kerja?"
Kaluna terkekeh. "Ya kan cuma tanya, biar Kaluna bisa siapkan segalanya."
Kening Galaksi mengerut. "Segalanya?"
"Baju kakak, sarapan, bekal kakak juga."
Galaksi tersenyum. "Bekal?" tanya Galaksi tidak percaya.
Kaluna mengangguk. "Kaluna gak mau kakak makan di luar sembarangan, harus makan makanan yang sehat. Nanti Kaluna siapin bekal untuk kakak."
"Kalau untuk makan siang, pasti dingin, Kaluna. Saya suka makanan hangat," ujar Galaksi.
"Kalau gitu Kaluna yang antar ke kantor, kakak."
"Jauh, Kaluna. Nanti kamu kenapa-kenapa di jalan, saya gak mau."
Kaluna diam, membuat Galaksi menunduk untuk melihat wajah Kaluna. "Saya cuma gak mau kamu lelah, lagi pula saya biasanya makan sama Rendra. Dia selalu ada di dekat saya. Jangan ngambek."
"Gak ngambek, Kaluna lagi pikirin gimana caranya biar kakak bisa makan makanan hangat tapi dari Kaluna. Tadinya mau pake ojek online biar di antar sama dia, tapi setelah kakak bilang kalau makan sama kak Rendra, ya udah gak apa-apa."
"Terlalu boros kalau pake jasa antar barang," ujar Galaksi. "Kan saya sudah sarapan di rumah, kamu tinggal tunggu saya pulang aja."
Kaluna mengangguk. "Kak, kalau ada tentang kakak yang penting, tolong bilang, ya. Biar Kaluna belajar, Kaluna takut salah."
Galaksi tersenyum, dia mengecup kening Kaluna. "Iya, Kaluna."
Keduanya terdiam menatap televisi, sampai Galaksi kembali bersuara.
"Kaluna."
"Iya, kak?"
"Saya alergi kerang hijau," ujar Galaksi.
"Untung Kaluna gak suka makan kerang," ujar Kaluna tersenyum.
"Punya alergi?" tanya Galaksi.
Kaluna menggeleng. "Enggak punya," jawabnya.
"Penyakit?" tanya Galaksi. "Maag atau anemia?"
"Asam lambung," jawab Kaluna. "Sesak juga. Kalau sekarang lebih sering sesak napas, kemungkinan karena perutnya semakin besar."
"Sering-sering minum vitamin, makan yang sehat dan teratur," ujar Galaksi.
"Kalau kakak?"
Galaksi menggeleng. "Saya sakit kalau mau aja," jawab Galaksi membuat Kaluna tertawa kecil.
"Kakak kenapa selalu ngomong saya? Kenapa gak aku aja?"
"Sudah terbiasa, Kaluna," jawab Galaksi. "Dari kecil saya sudah di atur untuk menjadi seorang pewaris, memiliki tata krama yang baik, hidup penuh aturan dan semua yang saya lakukan harus di awasi."
"Pasti gak asik," cetus Kaluna. "Kakak jadi gak bisa bergaul dengan sekitar."
Galaksi akui itu, dia saja tidak punya teman dekat. Di sekolah dan di kampus saja, dia hanya sekedar kenal pada teman-temannya. Tidak ada teman dekat yang bisa menjadi tempat cerita Galaksi, ini juga alasan mengapa Galaksi menolak ayahnya saat dia ingin mengganti Rendra untuk mengawalnya. Dia sudah nyaman dengan Rendra, merasa memiliki sosok teman dan kakak yang baik untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Seventeen [END]
Fiksi RemajaKaluna Wastu Kencana, gadis cantik nan anggun yang baru saja memasuki umur 17 tahun. Tapi bagaimana jika semuanya hancur dalam satu malam? Kaluna harus kehilangan ayah dan ibunya tepat di malam ulang tahunnya, bahkan lebih parahnya, dia harus kehil...
![Bad Seventeen [END]](https://img.wattpad.com/cover/303273495-64-k95622.jpg)