BAB 20 - LAPORAN

229 39 1
                                        

Keenan menunggangi motor ninja hitam kemerahan miliknya itu, tak lupa memakai helm dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hari ini, ia ingin menunggangi motor karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Meski ibunda awalnya melarang Keenan menaiki motor dengan alasan, takut anak bungsunya itu kena angin dingin atau hawa panas yang akan melemahkan tubuhnya, tapi Keenan coba meyakinkan kalau dirinya akan baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, ia pun sampai di sekolahnya SMA Cendekia. Ia memarkirkan motornya di are parkir. Wajahnya yang terlihat pucat, tapi tak sedikit pun melunturkan ketamapanannya. Lelaki itu masih menjadi idola sekolahnya. Siapa yang tak mau dengan Keenan? Sudah ganteng, anak baik-baik, sangat pintar pula? Ah, rasanya dekat dengan Keenan saja seperti mimpi. Kira-kira seperti itu batin kaum Hawa.

Namun, apakah mereka tahu rahasia terbesar mengenai Keenan? Apakah mereka tahu ada apa dibalik wajah pucat miliknya? Ya, tentu mereka tidak tahu. Hanya Keenan, keluarganya, dan Tuhan yang tahu, tentu saja.

"Akhir-akhir ini, nomor gue kena terror mulu," ucap Keenan pada ke-tiga nya sembari menaruh tas gendong miliknya di atas kursi.

Pandangan ke-tiga sahabatnya beralih, yang semula menatap buku-buku pelajaran Biologi yang sedang dibacanya, kini menatap Keenan dengan khawatir.

Feby menutup bukunya spontan. "Maksud lo, Nan?"

"Ini ..." Keenan mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia menunjukan pada sahabatnya tentang nomor yang terus mengganggu dirinya.

"Kok bisa sih ada yang kayak gitu?" tanya Liam yang ikut heran tentang terror itu.

"Yaudah nanti kita usut soal ini, kita cari tahu siapa pelakunya." ujar Revaldo.

Keenan ikut duduk di sebelah Revaldo. "Gak usah Val, gue bisa sendiri." ucapnya seraya menepuk pundak Revaldo.

"Masalah yang di selesaikan secara bersama-sama itu lebih baik, Nan." timpalnya hingga membuat Keenan makin khawatir.

Bukan Keenan tak mau mereka ikut campur, tapi Keenan takut kalau masalah yang menimpa dirinya, teman-temannya akan terseret juga seperti Satzy. Keenan juga belum menelusuri lebih jauh tentang kejadian Satzy beberapa waktu yang lalu.

"Gue yakin bisa nyelesain, gue cuma khawatir, gue gak mau buat kalian celaka," celah Keenan.

Tak lama kemudian, ketua kelas, Vidya, memamggil Keenan.

"Nan, ada yang nyari lo." teriaknya ke arah Keenan.

Keenan menatap ke arah ambang pintu, ia mendapati seseorang yang tengah berdiri di sana. Ia pun langsung menghampiri seseorang itu dan mengajaknya berbicara di luar kelas.

"Gal, kenapa nyari gue, ada apa?" tanya Keenan.

"Gini, Nan. Gue butuh bantuan lo buat laporan soal acara party night SMA Cendekia beberapa bulan yang lalu," jelasnya, membuat Keenan menaikkan sebelah alisnya.

"Lah, bukannya udah ya? Waktu itu kan gue udah kasih clue nya, terus gue juga bukan anggota OSIS gue gak tau menau soal ini," celak Keenan.

Galih, ketua OSIS itu menepuk bahu Keenan. Ia membalasnya, "Nan, gue mohon bantuin gue, sebenarnya itu belum selesai. Karena, pekerjaan gue masih banyak."

Keenan menggaruk kepalanya yang tak gatal, sejujurnya ia bingung apakah ia harus membantu Galih yang sebenarnya di luar tanggung jawab Keenan, atau menolaknya saja? Lagi pula, Keenan masih banyak urusan yang harus ia selesaikan. Tapi, ia benar-benar tak bisa menolak untuk menolong seseorang.

Keenan selalu ingat perkataan bundanya,

Kalau ada seseorang yang meminta tolong, alangkah baiknya kita membantunya. Karena, boleh jadi kita yang akan membutuhkan pertolongan nantinya.

KEENAN & MONOKROMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang