BAB 23 - DIVONIS KANKER

315 51 11
                                        

"Enggak! Lo pasti bohong, Val!" Feby tak percaya apa yang dikatakan oleh Revaldo mengenai Keenan yang mengidap penyakit kanker otak.

Revaldo menghapus air matanya dengan pelan. Ia masih tak ada tenaga untuk berbicara menjelaskan semuanya pada Feby dan Liam.

"Gak mungkin, Val. Keenan pasti baik-baik aja, Keenan sehat-sehat aja. Lo jangan bohong!" celah Liam.

Revaldo pun hendak berdiri, namun tubuhnya tak kuat menopang lagi. Akhirnya ia pun bangkit sekali lagi, dengan jalan yang setengah pincang mendekat ke arah Ruang IGD, tempat dimana Keenan berbaring. Revaldo menatap Keenan dari balik kaca jendela.

"Val, lo bohong kan?" tanya Feby memastikan. Namun, tak ada jawaban dari milut Revaldo.

"Revaldo, lo bohong kalau Keenan, kanker otak. Lo bohong kan?" Feby terus mendesak Revaldo agar terus berbicara, ia tak percaya, Revaldo pasti berbohong padanya.

"VAL JAWAB!!! LO PASTI BOHONGIN KITA?!!!" Emosi Feby meluap-meluap, hingga Revaldo bangkit dari duduknya lalu membalasnya dengan tegas.

"GUE GAK BOHONG, TAPI FAKTANYA KEENAN KANKER OTAK!!!" deru emosi kian memburu di dalam diri Revaldo.

"KEENAN DIVONIS KANKER OTAK," tegasnya. Air matanya terus berjatuhan dari pelupuk mata indah milik Revaldo. "Usianya udah Stadium 3, Feb." hiks ... hiks ... tangisnya.

Revaldo melemas, ia menyenderkan tubuhnya ke dinding. "Kita harus terima itu. Mau gak mau, takdirnya Keenan kayak gitu," balas Revaldo dengan diiringi air mata.

Liam menopang tubuh Feby agar ia tak jatuh karena saking kagetnya dengan berita tersebut. Liam juga sempat tak terima, namun semua itu sudah di atur oleh Tuhan Yang Kuasa. Ia mengelus pundak Feby, "Feb tenang dulu." ujarnya.

Tak lama setelah perdebatan itu, Revaldo mendekatkan dirinya ke arah ruangan tempat Keenan berbaring. Ia menatap Keenan dari balik jendela. Menatap sahabatnya dengan penuh kesedihan yang sebenarnya tak bisa ia terima tentang penyakit Keenan. Bukan karena Revaldo tak mau menjadi sahabat Keenan, melainkan Revaldo tak sanggup jika harus melihat Keenan merasakan sakitnya itu.

"Nan, meskipun dokter bilang lo kanker. Gue gak percaya, Nan ..." ujar Revaldo menatap nanar pada Keenan.

"Lo pasti baik-baik aja, Nan. Gue yakin itu!"

"Nan ..."

"Keenan ..." Lirih Revaldo.

"Nan, jangan sakit ... Gue masih pengen sahabatan sama lo. Gue masih pengen jagain lo, Nan."

Hikss ... Hiks ...

Feby memegangi kepalanya yang terasa sangat pening. Derai air matanya berjatuhan mendengar hal itu.

Mengapa harus Keenan yang merasakan sakit itu?
Orang sebaik Keenan, harus mengidap penyakit berbahaya itu?

Feby dan Liam menghampiri Revaldo yang tengah menatap Keenan. Keduanya memeluk tubuh Revaldo yang melemah itu. Mereka sama-sama merasakan sakit, mereka sama-sama merasa enggan, tapi takdirnya seperti itu.

"Nan, yang kuat ya ..." ujar ketiganya.

"Kita sahabat selamanya, Nan. Lo harus sembuh,"

●●●

"Mereka kemana sih, kok gak dateng-dateng ya?" Satzy menanyakan kebaradaan sahabat-sahabatnya. Padahal Roy sudah mengabari Revaldo agar segera mengunjungi Satzy yang baru saja siuman dari tidur panjangnya.

Satzy juga ikut khawatir, karena Revaldo mengabari bahwa Keenan di rumah sakit tanpa menjelaskan alasan Keenan di rumah sakit karena hal apa.

KEENAN & MONOKROMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang