Alois ingat jelas, kata Elnathan, Edeth itu anak baik yang tidak suka macam-macam. Menggemaskan. Pendiam. Pintar. Rajin menabung. Tidak sombong. Serta, suka menolong. Tapi, jika dipikir-pikir lagi, standar anak baik menggemaskan yang suka menolong antara ia dan Elnathan, tentu berbeda jauh, mengingat pola pikir Elnathan yang agak diluar nalar.
'Krak!'
Itu bunyi kesekian, dari magic device yang ia simpan di ruangan ini. Untuk pujian pintar, Alois tidak akan mengelak. Edeth memang pintar. Dia juga tahu sudah sampai mana pendidikan anak itu. Apalagi, ditambah dengan rasa ingin tahunya yang menyebabkan alat-alat tadi pecah belah sebab penasaran. Tidak semua anak seumuran Edeth memiliki rasa ingin tahu tinggi seperti itu.
"Oh, ternyata memang kurang lebih sama dengan listrik dan energi lain. Penghantarnya juga. Hanya saja benda-benda ini butuh sedikit trigger dari luar agar bisa bekerja. Bukannya lebih enak kalau bisa on/off otomatis seperti barang-barang di dunia sana?"
Dari tadi, anak itu sibuk sendiri sambil bergumam sesuatu yang kadang membuat Alois bingung. Serpihan-serpihan benda yang ia buka paksa, berceceran di lantai.
"Tapi, sifat energinya berbeda. Mungkin, benda-benda di sini bisa didesain ulang. Diberi mana yang cukup di bawah tombol on, jadi tiap ditekan, bisa menjadi pengganti trigger dari manusia di luar. Mereka yang tidak bisa mengeluarkan mana pun jadi bisa ikut mengoperasikan kapan dan di mana saja."
Si Pangeran kedua itu bersedekap dada. Punggung menyandar. Memperhatikan Edeth yang tidak berhenti mengoceh di sofa sana. Perhatian teralih ketika pintu ruangannya diketuk lagi.
"Your Highness, ini Barley."
"Masuk."
Pintu dibuka. Seorang pria berusia pertengahan dua puluh tahun masuk. Satu tangan memegang alat komunikasi. Tubuh membungkuk hormat.
"May Nature continue to bless you and bring you peace."
Alois mengangguk, "Ada apa?"
"Pangeran Asgar menghubungi kami karena tidak bisa tersambung ke alat Anda."
"Ah," Manik biru itu melirik ke arah Edeth yang mulai beranjak dari duduknya, "Punyaku rusak. Kemari. Dia masih di sana?"
"Yes, Your Highness."
Alat itu diberikan. Edeth berdiri di samping Barley. Dua tangan kecil saling genggam di belakang tubuh. Ingin lihat bagaimana Alois mengoperasikan alat yang sudah dia bongkar sampai tak berbentuk tadi.
Sesuatu seperti aura berwarna biru keluar dari ujung jemari Alois. Ia tekan di sisi alat komunikasi, membuat sebuah sinar muncul dari atasnya. Membentuk lingkaran sihir dan membuka satu layar sedikit transparan. Menampilkan seseorang yang berada di sisi sambungan.
Edeth kembali berwow-wow dalam hati, "Seperti video call," gumamnya.
Benar-benar paduan antara sihir dan teknologi. Menarik.
"Edeth, kau masih mau berkeliling istana?" tanya Alois. Manik birunya melirik ke arah Edeth lagi.
"Hm?"
"Kalau masih ingin, Barley bisa menunjukkannya padamu," tunjuknya ke pria tadi, "Bisa, kan? Barley?"
"Ah, yes, Your Highness. Dengan senang hati."
Pria malang yang tidak tahu apa-apa itu, tersenyum sopan.
Alois membalas dengan senyum tak kalah lebar, "Syukurlah. Kalau begitu, Young Master Edeth akan jadi tanggung jawabmu. Pastikan dia tidak memegang apa-apa, okay?"

KAMU SEDANG MEMBACA
NEW LIFE
FantasyAku lahir kembali. Di dunia yang benar-benar berbeda dari dunia sebelumnya. Menerima nama baru. Keluarga baru. Takdir baru. Namun, dengan semua ingatan yang masih terekam jelas di kepala, tidakkah Mereka yang menghidupkan aku kembali melakukan kesal...