Hai semuanya!!
Langsung baca aja silahkan..
***
"Lo masih berani gangguin alysa?!" Tanya Daniel mengintrogasi. "Berapa kali gue bilang jangan gangguin alysa!" Bentak Daniel. Daniel menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan. "Lo bisa nggak sih, nggak usah gangguin hidupnya alysa?" Tanyanya lagi.
"Bisa," lintang tersenyum miring. "Asal ada syarat nya. Lo jadi pacar gue alysa aman, tapi kalau lo lebih memilih alysa jadi pacar lo, gue bakal bikin alysa menderita." Lintang mendekatkan jaraknya dengan Daniel. "Bahkan kalau bisa gue bakal bunuh dia."
"Shit"
Daniel mengacak rambutnya kasar. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran lintang. Lintang yang tega membuat kehidupan orang lain sengsara hanya demi kebahagiaan nya sendiri.
"Andra, Arya, pokoknya kalian harus jagain alysa di manapun dia berada." Daniel menatap pandangan kosong ke depan. "Gue udah dapet anceman dari lintang, kalau gue nggak mau jadi pacarnya dia, alysa bakal menderita."
Mereka bertiga saat ini sedang berada di rooftop sekolahnya. "Terus lo jawab apa pas di ancem kayak gitu?" Tanya Andra.
"Gue nggak jawab," Daniel menghadapkan tubuhnya ke arah dua orang kakak beradik itu. "Gue harus gimana? Gue udah sayang banget sama alysa, dari dulu gue selalu nunggu kedatangan dia. Terus... pas dia udah datang apa gue harus ngejauhin dia gitu aja?" Daniel berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya, dadanya terasa sesak. Karena memang dari dulu Daniel selalu menanti kedatang alysa kedalam hidupnya setelah sekian lama tidak bersama.
"Gue tau perasaan lo," Andra menenangkan Daniel. "Lo tenang aja, alysa masih punya dua orang pelindung yang selalu ngejagain dia dari jarak jauh." Lanjut Arya yang menepuk bahu Daniel sebanyak dua kali.
Alysa saat ini sedang santai di kelasnya. Sembari mendengarkan semua cerita dari sahabatnya, Rania. Ternyata Rania adalah tipe orang yang suka menceritakan semua tentang hidupnya. Mulai dari kebahagiannya, kesedihannya, semua rahasianya dan bahkan kisah cintanya. Sedangkan Alysa, yang lebih memilih memendam semua masalahnya sendiri. Kecuali pada orang yang ia percayai. Misalnya pada sahabatnya. Tapi untuk kali ini alysa belum pernah bercerita sedikitpun pada Rania, karena ia belum merasa yakin bahwa Rania bisa menutupi rahasianya.
"Rania, kalau dilihat-lihat, kamu mirip sama sahabat aku dulu. Namanya Clara." Ujar alysa yang dari tadi memperhatikan wajah Rania.
"Owh, ya kah. Mungkin dia kembaran aku yang terpisah. Kamu pernah denger nggak kalau kita di dunia ini punya tujuh kembaran." Ucap Rania sambil memakan camilannya.
"Aku pernah denger, tapi aku nggak tau itu beneran atau nggak." Balas alysa.
Saat bel istirahat, alysa pergi ke kantin. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan kakak kelas yang menyukai dirinya. Darel, orang yang selalu mengejar-ngejar alysa. Walaupun alysa sudah menolaknya dengan berbagai cara, tapi Darel tetap memaksanya. Alysa menundukkan pandangannya berharap Darel tidak mengenalinya. Tapi itu semua nihil, Darel tetap bisa mengenali alysa.
"Alysa, Ikut gue ke taman belakang sekolah yuk." Ajak Darel yang menarik tangan alysa dengan penuh pemaksaan.
"Nggak ... Aku nggak mau..." Alysa berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Darel.
Saat itu juga, ada Daniel yang baru saja keluar dari kantin. Daniel yang melihat alysa yang dipaksa Darel untuk pergi ke taman itupun langsung bergegas menghampiri mereka.
"MAKSUD LO APAAN MASIH MAKSA-MAKSA ALYSA?!" bentak Daniel. Daniel pun menarik tangan Darel untuk ikut pergi bersamanya. Mereka pergi ke rooftop sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALYSA [On-Going]
Novela Juvenil"kisah seorang gadis yang selalu di bully serta mengalami panick attack dan tiga orang laki-laki yang selalu melindunginya." Alysa, si cuek tapi sekalinya akrab manjanya bukan main. Daniel, si wakil ketua geng sekaligus ketua basket. Andra, si ketua...
![ALYSA [On-Going]](https://img.wattpad.com/cover/303061382-64-k660205.jpg)