"Jadi beneran Jemian itu mantan Shea?" tanya Ryu begitu Lia dan Jemian berlalu dengan motor. Ryu rupanya belum terbiasa mengobrol bersama Shea dengan bahasa lebih santai.
Shea mengangguk saja jalan berdua sampai keluar gerbang menuju halte sana, mengingat betapa kikuknya semua orang saat istirahat di depan Lia.
"Kok Lia tega sih jadian sama Jemian, sahabat yang baik tuh harusnya gak boleh pacarin mantan sahabatnya, begitu juga Jemian harusnya gak boleh gebet sahabat si mantan. Kayak gak ada cewek lain aja."
"Ryu, apaan sih! Gue sama Jemian cuman sebulan doang, Jemian aja bilangnya gak berasa gue mantan dia." Shea menyikut Ryu agak kesal.
"Shea percaya gitu aja sama Jemian? Ryu tuh lihat, tatapan Jemian tuh tadi ke Shea bukan ke Lia, Ryu yakin Jemian ada perasaan sama Shea," gerutu Ryu tak keruan.
Sampai akhirnya sebuah motor menghampiri mereka. Siapa lagi kalau bukan Theo, cowok yang berstatus pacar untuk Shea.
"Siapa?" bisik Ryu melihat Theo membuka helmnya dan seketika itu Ryu terpana melihat ketampanan seorang Theodore.
"Oh?" Shea gugup sendiri. "Kak, kenalin ini temen SD Shea sekarang pindah ke sini."
Mata Ryu memicing mendengar ucapan Shea yang sama diri sendiri itu manggil Shea. Iya, itu Shea yang dia kenal semasa SD.
"Hai, gue Theo, cowoknya Shea." Theo mengulurkan tangan.
Ryu yang terkejut mendengar kata cowoknya Shea langsung membulatkan mata dan menjabat tangan itu masih penuh keterkejutan.
"Ryu Shafa," ujarnya.
"Ryu, gapapa lo gue tinggal? Ojolnya bentar lagi datang kan?" Shea sedikit merasa tidak enak.
"Iya, gapapa, pulang aja duluan," ujar Ryu sedikit kikuk.
Entahlah, ia merasa sedikit tidak mendukung hubungan Shea dengan Theo, entah karena apa sebabnya.
"Kita jalan dulu ya, She, bentar." Theo menggenggam tangan Shea dan memasuki mall.
Lemahnya Shea dan kekurangannya Shea di sini. Dia gak bisa tegas buat menolak seseorang berada di kehidupannya, karena itu juga dia dengan gampangnya mendapatkan pacar baru selama ini.
Shea masih sadar tentang status mereka itu sebenarnya apa dan bagaimana. Membiarkan Theo menggenggam tangannya sepanjang perjalanan juga jelas salah, apalagi seperti sekarang ini, membiarkan Theo memeluk dirinya saat berada di photo booth, dan juga ... skinship-skinship lainnya.
Haruskah Shea menjalaninya saja dengan apa adanya? Tanpa mengutamakan sebuah rasa? Dan berharap bahwa akhirnya hatinya jatuh untuk pria itu?
"Wah wah wah siapa ini?" Seseorang entah siapa tiba-tiba berpapasan dengan mereka berdua.
Yang membuat Shea heran adalah Theo dengan cepat menghalangi tubuhnya seolah orang di depannya itu berbahaya.
"Kenapa diumpetin?" tanya laki-laki itu menampilkan smirk.
"Ah anak SMA, ya?" lanjutnya setelah melihat rok dan sepatu Shea. "Seriusan lo sekarang sukanya sama ABG? Pengen yang masih setelan ya?"
"Yuda, lo jangan macem-macem, ya?" Theo menggeram.
Laki-laki yang dipanggil Yuda itu tertawa kecil. "Lumayan sih kayaknya, kalo udah bosen boleh bagi ke gue, ya?"
Theo tak lagi bisa menahan amarahnya, ia langsung menghampiri laki-laki itu dan memukulnya. Namun, Shea tak tinggal diam langsung menjerit dan menahan Theo sebisa mungkin.
"Nggak, Kak. Jangan. Jangan lanjutin, Shea mohon." Gadis itu memohon dan setengah menangis.
Yuda semakin tertarik setelah melihat Shea memohon dan kelihatan hampir menangis. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dan tersenyum miring dengan pandangan tak lepas dari gadis itu.
"Ayo kita pulang sekarang." Shea menggenggam tangan Theo dan menariknya untuk keluar.
Diam-diam Shea meneteskan air matanya, ucapan Yuda tadi cukup menyakiti dirinya tentunya meski Shea tak mau ambil hati. Ucapan Yuda melecehkan dirinya, dan Shea sangat sensitif tentang masalah seperti itu.
"Kakak gak malu jalan sama Shea?" lirihnya begitu keluar dari mall itu.
"Kenapa malu?" tanya Theo yang sebenarnya dalam suasana tidak baik.
"Umur kita jauh, cowok tadi aja ngatain Kakak, kan? Pasti orang-orang nganggapnya kita ini cuman kakak adik."
Harusnya Shea tak bicara seperti itu, karena itu hanya membuat Theo semakin geram dengan diam-diam rahangnya mengeras.
"Paling kamu yang malu jalan sama aku," balas Theo terdengar dingin.
Shea tak terbiasa dengan nada bicara Theo yang seperti itu, membuatnya sedikit meringis tak enak hati dan takut.
Langkah Shea dan Theo tiba-tiba terhenti karena dua orang di depannya.
Jeffano, dan seorang perempuan!
Entahlah, setelah kejadian itu, dimana Jeff hampir merusaknya mereka tak pernah bertemu lagi. Shea juga tak pernah mendengar kata maaf dari mulut Jeff tentang permasalahan itu.
Dan tentu ada sedikit trauma dalam diri Shea bertemu dengan Jeff, ia merapatkan tubuhnya pada Theo seperti takut. Kontan Theo pun langsung merangkul Shea dan tatapannya tajam pada Jeff.
Si perempuan di samping Jeff tiba-tiba bersuara, "Gak main-main nih cewek bocah, selalu sama yang lebih dewasa. Biar apa coba?" ujarnya tertawa kecil.
Ah Shea ingat sekarang, perempuan itu adalah perempuan yang pernah ngelabrak Shea waktu pacaran sama Jeff dulu, perempuan selingkuhan Jeff. Ternyata Jeff masih berhubungan dengan perempuan itu, Shea tak habis pikir.
"Karena yang lebih dewasa lebih hot, kan? Lebih berpengalaman dan lebih bisa memuaskan?"
"Anjing! Bacot lo! Kalo cowok udah gue tonjok lo!" Theo maju dan mendorong kasar bahu cewek berambut blonde itu.
Seketika itu Jeff menahan tangan Theo, gak terima ceweknya didorong kasar.
"Urusin tuh jalang lo!"
Shea terperangah melihat apa yang dilakukan Theo saat ini untuk pertama kalinya. Theo yang biasanya lemah lembut sekarang tampak begitu sangar dan menyeramkan di mata gadis itu.
"Kak, gak usah diladenin." Shea menarik Theo dan diam-diam tatapannya bertemu dengan Jeff dan seketika itu juga Shea membuang tatapannya.
"Jeni! Apa kabarnya dia?" suara perempuan yang bersama Jeff kontan membuat langkah Theo berhenti.
Siapa Jeni? Kenapa membuat langkah Theo berhenti?
Shea memberanikan diri melirik Theo dan ia bisa melihat ekspresi pria itu semakin tampak kemarahannya, hatinya memang tengah tidak baik-baik saja saat ini. Tangan pria itu menarik tangan Shea sangat erat berjalan menuju motor.
"Dasar jalang kelas tri, kasihan banget sih haha!"
Shea sangat tahu perkataan itu ditujukan padanya, tapi ia tak mau meladeninya sedikit pun, biarkan perempuan itu merasa menang karena Jeff berada di sisinya dan tampak lebih memilihnya.
Shea sangat ingin bertanya siapa itu Jeni, tapi melihat Theo yang masih seperti itu membuatnya urung.
"Sekarang ke apartemen aku, ya?" ujar Theo tanpa persetujuan dan langsung berlalu meninggalkan area mall.
Sebenarnya ... Shea sudah sangat sering keluar masuk apartemen Theo. Bukan apa-apa dan tidak aneh-aneh, paling memasak bersama, makan dan Shea yang selalu merapikan tempat tinggal Theo itu. Selayaknya sepasang kekasih pada umumnya.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
