Shea 39

350 49 47
                                        

“Shea makan dulu, ya? Ryu udah masakin,” ujar gadis itu menyerahkan sepiring nasi goreng.

​“Makasih, ya?” balas Shea yang langsung menyantapnya.

​“Shea belepotan, tapi lucu.” Ryu mengusap nasi yang terdapat di bibir Shea langsung dengan jarinya tanpa jijik.

​Shea tertegun mendapat perlakuan Ryu yang menurutnya agak aneh itu, sebenernya gadis itu sudah menyadari ketika Ryu yang memeluknya erat ketika tidur bahkan mengendus rambutnya.

​Tak mau berpikiran aneh Shea melanjutkan makannya.

​“Lo gak makan?” tanya Shea.

​“Ryu jarang makan malam kalo gak lapar banget,” balasnya yang tak henti memerhatikan Shea dengan intens, terutama ke arah bibir tipis Shea yang terus mengunyah.

​“Shi, di saat kita berdua kita bicaranya kayak kita waktu SD aja dong, biar nyaman aja,” lirih Ryu mempoutkan bibirnya.

​Shea tertawa mendengar itu. “Nggak ah, gue gak biasa lagi. Kalo sama yang lebih tua bisa aja,” balasnya yang sudah selesai makan itu. Berlanjut minum dan di situ Ryu memerhatikan cara minum Shea.

​“Shea bisa anggap Ryu kakaknya Shea kok.”

​“Geli lah, Ryu. Kakak apanya, orang tuaan gue juga.”

​Ryu mendengus sekarang, ia melirik ponselnya yang ternyata Jemian terus spam chat.

​.

.

​“Maaf, Shi. Ryu mau nanya. Beneran Shea gak bakalan pernah pacaran lagi?” tanya Ryu yang kini mereka sama-sama di teras depan rumah.

​“Gue gak mau lagi kenal cowok manapun, gue juga kayaknya gak bakalan pernah nikah,” jawab Shea tersenyum sinis, baginya semua cowok itu brengsek dan pernikahan itu hanya omong kosong, dengan menikah belum tentu kita bahagia itu pikirnya apalagi mengingat kelakuan ayah dan ibunya.

​“Termasuk kalo cowok itu Jemian?”

​“Apaan bawa-bawa pacarnya Lia,” gerutu Shea meski sebenarnya hatinya masih mengakui perasaannya itu.

​Ryu tersenyum dan akhirnya mendekap Shea dengan erat. Shea menganggap pelukan itu adalah pelukan persahabatan tapi tidak dengan Ryu sendiri.

​Cup~

​Ryu mengecup pipi Shea dengan masih memeluknya, tentu Shea tersentak.

​“Gemes sama Shea, pengen ciumin,” lirihnya menenggelamkan wajahnya di tengkuk Shea.
​Shea yang awalnya terkejal kini menormalkan kembali ekspresinya, dan ikut tertawa ketika Ryu menggelitik perutnya.

​Jemian Navarro Sakti! Pemuda itu terkejut bukan main melihat kedekatan antara Shea dan Ryu yang di matanya itu tidak masuk akal untuk kedekatan seorang perempuan dengan perempuan lagi.

​“Shea! Pulang, yuk!” ujarnya secara langsung dan sangat tiba-tiba.

​“Jemian, kenapa lo bisa tau gue di sini?” Shea langsung berdiri dari pangkuan Ryu, ya baru saja Ryu mendudukan Shea di pangkuannya.

​“Ayo pulang,” ajaknya lagi.

​“Ryu, makasih mau nampung gue,” lanjutnya ke arah gadis berambut pendek itu, dan Ryu hanya mengangguk saja.

​“Tau dari mana gue di sini?” tanya Shea lagi.

​“Ya dari siapa lagi,” balas Jemian melirik Ryu. Shea yang mengerti hanya diam saja, tidak bisa apa-apa lagi.

​“Yuk pulang? Gue anterin ke kosan lo.” Jemian menarik tangan Shea dan menggenggamnya. “Lo udah terlalu sering bolos sekolah.”

​“Jem, gue ....” Entahlah Shea seperti ragu untuk bicara.

Hollow BlissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang