Shea 43

398 49 36
                                        

Sesampainya di rumah, Shea dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya yang tengah beradu mulut, bahkan mereka tak menyadari kepulangan Shea.

​Mama, Papa.

​Shea hanya bisa membatin dalam hati menatap orang tuanya bergantian, kalau boleh dibilang ini pertama kalinya dirinya melihat mama papanya beradu mulut seperti itu, karena ya selama ini orang tuanya tak pernah sekalipun Shea lihat cekcok, mereka selalu akur. Namun, siapa sangka diamnya mereka adalah tanda saling tidak peduli.

​“Aku begini juga karena kamu duluan selingkuh!” balas Airin berteriak dan menatap tajam.

​“Shea?” Chakra terkejut mendapati Shea ada di depannya.

​“Kebetulan kamu pulang, sini, kamu mau ikut papa atau mama kamu?” Pria itu melambaikan tangannya meminta anaknya menghampiri.

​Sudah Shea duga, mereka takkan pernah bertanya keadaannya dan kabarnya. Padahal setelah Shea ngekos juga ia tak pernah bertemu lagi dengan papanya itu.

​“Kamu udah 17 tahun, jadi soal hak asuh terserah kamu maunya ikut siapa,” ujar Chakra lagi perlahan duduk di sofa hingga berhadapan dengan Airin.

​“Kalian pergi aja dari sini cari kebahagiaan kalian masing-masing, Shea mau tinggal di sini sendiri,” balas Shea datar, matanya tak sedikitpun sudi melirik Airin karena mengingatkannya pada kejadian itu.

​“Karena itu, She. Rumah ini harus secepatnya dikosongin, udah ada yang mau beli, uangnya kita bagi tiga sama kamu,” jawab Chakra tanpa beban.

​Entah Shea harus berekspresi dan melampiaskannya seperti apa lagi. Saat ini hanyalah matanya yang berkaca-kaca dan perlahan menangis tanpa mengeluarkan suara.

​“Harusnya kalian dari awal gak pernah nikah sekalian, meskipun udah telanjur hamil harusnya setelah lahirin gue kalian buang gue biar gue diurusin sama orang tua yang benar-benar sayang dan peduli sama gue,” ujar Shea mati-matian menahan tangisnya dan berucap dengan nada datar.

​“Kamu tuh! Kalo ngomong!” bentak Chakra.

​“Gara-gara kamu, Airin, ngasih tau kalau dia itu anak di luar nikah.”

​Sedangkan Airin sedari tadi setelah hadirnya Shea hanya diam, rasa bersalahnya pada Shea begitu besar.

​“Kamu tinggal pilih, mau ikut sama papa atau sama mama kamu! Kalo ikut sama papa kamu harus mau tinggal sama istri baru papa.”

​Papa udah nikah lagi? Shea tertawa miris dan sangat sakit, setidak penting itu dirinya di mata orang tuanya.

​“Tapi kenapa rumah ini harus dijual? Shea gak punya tempat berlindung selain rumah ini,” gumam Shea pelan dan menunduk.

​“Dan rumah ini begitu banyak kenangan, tentang kita. Meskipun dengan waktu yang begitu singkat ketika itu, setidaknya kalian pernah menjadi tempat Shea bermanja dan berlindung,” lanjut gadis itu dengan suara parau, keluarganya yang bahagia sewaktu kecil kini berputar seperti roll film.

​“Kalian sudah berpisah, sekarang cuma rumah ini yang Shea punya.”

​“Aduh, She. Masalahnya rumah ini udah mau ada yang nempatin, malu kalo dibatalin. Papa kasih waktu kamu tiga hari buat beresin barang-barang kamu, Papa ke sini sekarang juga mau beresin barang-barang Papa.”

​Pertahanan Shea runtuh saat ini, akhirnya dirinya sesenggukan dengan bahu yang begitu bergetar. Dan tak ada satupun dari kedua orang tuanya itu yang memeluknya ataupun menenangkannya.

​Pada akhirnya Shea berjalan gontai menuju kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.

​“Shea mau balik ke kosan aja, sebagian besar barang-barang Shea juga di sana,” ujar Shea yang kini menyeret sebuah koper yang tak begitu besar.

​“Kamu yakin?” tanya Chakra dan Shea langsung mengangguk.

“Ya udah, kalau butuh uang bisa hubungin Papa.”

​Chakra melirik Airin karena sedari tadi diam. “Kamu! Bilang apa kek sama anak kamu! Dari tadi diam aja,” ujarnya yang mulai heran.

​“Shea, Mama minta maaf. Mama benar-benar gak tau,” ujar Airin takut-takut dan melirik Chakra. Yang dimaksud Airin adalah Theo, dia gak tau Theo pacar Shea.

​“Gak usah dibahas lagi,” balas Shea cepat.

​“Shea pergi, ya, Ma, Pa,” lirih gadis itu menatap orang tuanya satu per satu dengan suara parau menahan tangis.

​Shea sudah yakin kalau saat ini terakhir kalinya mereka bertiga bisa berkumpul meskipun dengan suasana yang menyedihkan.

​“Mau Papa antar?” tanya Chakra yang tak biasanya bersikap perhatian.

​Shea menggeleng lemah. “Ini terakhir kalinya kita sama-sama, kan? Boleh gak Shea minta dipeluk kalian berdua?”

​Keduanya diam dan saling melirik, dan akhirnya Chakra mengangguk.

​“Ya udah duduk di sini,” ujarnya menepuk sofa di sebelahnya.

​Dengan sedikit senyuman mulai tersungging di bibirnya Shea berjalan dan duduk di samping Chakra.

​“Sini, Rin!” panggil Chakra dan Airin pun dengan perasaan sesaknya ikut duduk di samping Shea hingga gadis itu kini berada di tengah- tengah orang tuanya.

​Mereka pun mulai memeluk Shea bersamaan.

​Tangisan Shea pecah saat itu juga, sudah sangat lama ia merindukan dan menantikan moment ini. Tangisannya semakin menjadi karena mengingat bahwa orang tuanya sudah bercerai dan papanya sudah menikah lagi.

​“Ma, Pa, Shea minta maaf, ya,” ucapnya di sela-sela tangisan itu.

​“Karena kehadiran Shea membuat hidup kalian kacau, Shea udah merenggut kebahagiaan dan masa muda kalian.”

​“Sekarang kalian bisa fokus melanjutkan kehidupan kalian masing-masing, mencari kebahagiaan kalian sendiri-sendiri.”

​“Tapi, kalau kalian udah menemukan kebahagiaan kalian, udah punya keluarga baru, jangan lupain Shea sebagai putri pertama kalian.”

​“Shea sayang banget sama kalian berdua, Shea gak punya siapa-siapa selain kalian.”

​“Maaf, Shea selalu menjadi beban. Sekarang Shea pamit, ya? Biar Shea yang duluan pergi dari rumah ini meski dengan berat hati.”

​“Shea doain kalian benar-benar menemukan kebahagiaan kalian meski tanpa Shea.”

​Setelah itu Shea mencium kedua pipi mama papanya lalu bangkit berdiri dan benar-benar melangkah keluar tanpa melirik sedikitpun ke belakang.

​Chakra kini hanya mematung dengan air mata yang sudah berlinang meski tanpa suara, sedangkan Airin sudah menangis sejadi-jadinya setelah Shea tak terlihat lagi.
​Shea kini semakin merasa hampa, ia benar-benar sendiri sekarang. Keluarga dan rumah yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang kini sudah tidak ada lagi.

​Ia berjalan gontai tanpa arah dan tujuan, Echan sahabatnya sudah meninggalkannya dan Shea tak berani lagi meski hanya menyebut nama Lia, ia sadar diri tak pantas disebut sebagai sahabat untuk Lia.

​Terbersit untuk menemui Ryu seperti sebagaimana permintaan gadis itu siang tadi, tapi ia urungkan karena itu bisa dengan mudahnya keberadaannya diketahui oleh Jemian.

​Keadaan Shea tentu tak baik-baik saja, fisik maupun batinnya. Pandangannya sudah buram dengan wajah lengket karena air mata.
​Secara perlahan gadis itu akhirnya ambruk tak sadarkan diri. Di malam hari, dan di jalanan yang sepi.

​tbc

Hollow BlissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang