***SELAMAT MEMBACA***
🦴
🦴
🦴"Loisa!" Panggil Mexime membangunkan Loisa dari tidurnya.
"Hmm."
"Bangun!"
"Kak Mexime." Sambil membuka perlahan matanya.
"Mau saya tinggalin, hm?" Sambil berjalan ke arah pintu.
Sontak membuat kesadaran Loisa terkumpul penuh. "Gak boleh lah, kak." Sambil duduk di sudut bibir tempat tidur.
Loisa buru-buru merapikan pakaiannya, menggunakan sepatunya dan mengambil tasnya. Baru satu langkah, tiba-tiba
Bukk!
"Aissshh!" Ringis Loisa. Karna terlalu buru-buru ingin mengikuti Mexime, kaki sebelah kirinya secara refleks menyenggol kaki kanannya sehingga membuatnya jatuh ke depan. Jadi beginilah, ia meringis karna lututnya menghantam keras lantai kamar.
Melihat hal tersebut, "Merepotkan!" Sambil menggendong Loisa ala bride style.
"Sakit, kak Mexime. Huaaa!"
"Dasar Bocah Besar! Di larang nangis."
Bukkk!
Loisa memukul lumayan kuat, dada bidang milik Mexime. Namun, pukulan tangan mungil seperti Loisa tak ada pengaruhnya. Kekar kan tuh badan!
Mexime pun mendudukkan Loisa di atas tempat tidur. Kemudian ia berjalan mengambil obat P3K.
"Obati!" Sambil meletakkan obat tersebut di samping Loisa.
"Iya, makasih, kak." Loisa pun perlahan membersihkan lututnya yang memar, hampir mengeluarkan darah.
"Cepat, Loisa!" Dengan tatapan datarnya, Mexime berdiri seperti orang sedang menagih pajak, menunggu Loisa mengobati lututnya.

"Sabar dong, kak. Sakit tau gak!" Ternyata sangat sakit lututnya. Hampir-hampir, Loisa menumpahkan air matanya yang sudah bendung. Loisa berusaha kuat.

Hingga beberapa menit berlalu, melihat Loisa sudah membereskan kotak obat tersebut, Mexime pun mengambil barang tersebut dan menyimpannya kembali.
Setelah itu, Mexime langsung menuju ke arah pintu kamar.
"Kak Mexime! Hikss hikss!" Karena tak kuat lagi menahan air matanya, Loisa pun menangis, membuat Mexime semakin bingung dan heran. Ada apa lagi si Bosar? Pikirnya.
"Siapa yang nyuruh nangis?"
"Loisa sendiri."
"Loisa Medvio Remahaga! Kamu ingin apa, hm?" Mexime sudah mulai geram, melihat tingkah Loisa seperti ini.
"Sakit, kak!" Perlahan menghentikan tangisnya.
"Tidak usah Manja!" Ketus Mexime.
"Loisa gak bohong, kak." Setelah berucap, Loisa berusaha turun dari Tempat tidur. Terlihat tubuhnya sedikit membungkuk, karna lututnya yang terasa perih, sedikit kram juga.
"Terakhir kali kamu datang ke kantor ini." Peringat Mexime sambil mengangkat tubuh Loisa seraya menggendongnya ala bride style.
Mendengar pernyataan Mexime, "Iya, tapi Loisa gak janji." Pasrah Loisa sebentar. Mana ada Loisa tidak ke kantor lagi? Loisa tidak menyerah begitu saja.
Mexime tak menanggapi perkataan Loisa, Ia pun keluar dari kamar dengan Loisa dalam gendongannya.
"Lama amat dah di dalam! Cepak cepok yah kalian? Udah lumutan ni kami tunggu." Cerocos Hery setelah Mexime dan Loisa keluar dari dalam kamar.

KAMU SEDANG MEMBACA
17 Tahun Penantian [END]
Teen Fiction17 Tahun lamanya, ia menunggu waktu yang selama ini diimpikannya. Loisa Medvio Remahaga, Gadis petekilan, dan tentunya Cantik, baik dan pintar, selalu membuat pusing dan sakit kepala seorang lelaki tampan yang dari dulu dijadikan sebagai incarannya...