17 Tahun lamanya, ia menunggu waktu yang selama ini diimpikannya.
Loisa Medvio Remahaga, Gadis petekilan, dan tentunya Cantik, baik dan pintar, selalu membuat pusing dan sakit kepala seorang lelaki tampan yang dari dulu dijadikan sebagai incarannya...
Hari ini adalah hari Jumat. Hari dimana jam mengajar hanya sampai jam 1 untuk tingkat SMA, karna mengingat waktu Ibadah untuk Umat Muslim.
Dalam pikiran Loisa, Ia punya waktu lebih bersama Mexime di kantor nanti
Setelah bel pulang berbunyi, semua warga sekolah pun berlalu pulang.
"Kantor, Pak Bimo."
"Iya, Non." Pak Bimo pun menancapkan gas meninggalkan area Sekolah, setelah mendengar ucapannya Loisa.
Sesampainya di kantor, seperti biasa, Loisa di sambut hangat oleh Resepsionis dan juga Sekertarisnya Mexime.
Loisa pun langsung masuk ke dalam ruangannya Mexime, seperti biasa.
"Selamat siang, kak Mexime! Dan juga Om Markus. Hehehe." Salam Loisa saat melihat Mexime dan Markus sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing.
"Heh Gadis Manja! Gue bukan Om Loe. Ingat itu!" Markus pun sok tak mau di panggil Om lagi.
"Oke, Tete Markus!" Dengan santainya, Loisa pun mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Aisshh terserah Loe, Gadis Manja!" Pasrah Markus, tak bisa berkata-kata lagi.
Loisa pun juga tak ambil pusing. Udah kabal dengan Om-Om Girang seperti Markus dkk.
Sejenak Loisa mengatur kata-kata untuk menjelaskan perihal kejadian kemarin kepada Mexime nanti.
"Ehhm, Kak Mexime!" Panggil Loisa Ragu.
"Saya lagi kerja!"
"Ya udah, selesai kerja aja baru Loisa katakan."
"Lebih baik kamu pulang." Dengan nada mengusir, Mexime tetap dengan aura dinginnya.
"Loisa gak mau, kak. Lagian, Pak Bimo juga udah pulang, kok. Loisa takut naik Taxi sendirian." Balas Loisa.
"Idih, Dasar Gadis Manja!" Cibir Markus sok tak suka.
"Kalau Loisa takut yah, mau apa coba? Kalo Om Markus gak ngerti, ya diam aja."
"Terserah Loe, Gadis Manja."
"Ya ialah terserah Loisa!" Membenarkan perkataan Markus.
"Loisa Medvio Remahaga! Diam!" Tekan Mexime dengan aura dingin yang terlihat berbeda.
"Iya, Loisa diam Kok, kak." Dengan santainya, Loisa mengiyakan perkataan Mexime. Loisa tak ambil pusing dengan kegeraman dari Mexime. Baginya, semuanya itu sudah menjadi makanan hari-harinya, sudah kabal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markus hanya menggeleng kepalanya, hilang akal jika bersama Loisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.