05. Satu Foto💩

26 2 0
                                    

***SELAMAT MEMBACA***

🦴
🦴
🦴

Orang Tua Loisa sudah tiba di Indonesia. Kini, mereka telah berkumpul dengan keluarga Reagavta dan juga Loisa. Loisa semalam telah di pulangkan dari rumah sakit, setelah mengetahui kondisinya sudah membaik.

Pagi ini, mereka semua berkumpul di ruang keluarga setelah menikmati sarapan pagi. Hari ini, Loisa masih di beri izin, Istirahat sehari untuk memulihkan penuh tubuhnya yang sakit. Mexime pun belum pergi ke kantor, mungkin siang nanti. CEO mah bebas! Tapi gak boleh lebih lah!

"Sayang, jangan terlalu memaksa kondisi tubuh kamu yah? Kalau lelah, istirahat. Mama gak sanggup liat kamu sakit begini. Apalagi kamu jauh dari kami, sayang. Dan juga kamu harus menuruti Mami Alentia dan papi Alexan, mereka itu orang tua kamu di sini. Sifat keras kepala-mu coba perlahan di kikis. Yah, sayang?" Nasihat Mama Neivi, sambil membelai lembut rambutnya Loisa.

"Iya, maaf yah, Ma. Loisa akan berusaha mengindahkan perkataan Mama." Loisa pun memeluk erat Mama Neivi. "Maaf yah, Mi, Pi, Loisa sudah merepotkan kalian." Lanjutnya mengarah ke Mama Alentia dan Papa Alexan.

"Sayang, kamu gak repotin Mami kok. Mami senang kalo ada kamu. Hari-hari Mami semakin berwarna sejak kamu hadir di rumah ini." Mama Alentia pun terharu dengan perkataan beliau sendiri.

"Ehhmm, Alexan, Alentia, trima Kasih yah, sudah menjaga anak-ku selama setahun ini. Rencana kedatangan kami ke sini juga ingin memindahkan Loisa ke Paris, ikut kami. Tapi itu juga jika Loisa setuju. Jika dia merasa nyaman dengan kalian yah, kami tidak bisa memaksa." Ucap Papa Very.

"Iya, Ver." Balas Papa Alexan.

"Gimana sayang, mau ikut Mama atau tetap di sini?" Pertanyaan yang begitu sulit untuk di jawab ketimbang menjawab soal Hitung-hitung.

Loisa tampak berpikir, belum bisa menjawab dengan pasti. Di lain sisi, dia ingin pergi ikut Orang Tuanya agar hidup bersama mereka. Di sisi lain, Ia juga nyaman dengan keluarga Reagavta, apalagi tujuan mendapatkan Mexime belum tercapai. Dilema!

"Loisa pikir-pikir dulu yah, Ma, Pa." Balas Loisa sambil melirik Mexime. Namun, Mexime tetap kokoh dengan sikap dinginnya sembari berpacaran dengan ponselnya.

"Ma, Begini saja, Loisa kan udah kelas 12, alangkah baiknya Loisa selesaikan pendidikan Loisa yang tinggal beberapa bulan ini. Gak lama juga Loisa udah lulus, ya kan. Nanti setelah lulus, Loisa pasti ikut Papa dan Mama."

Setelah dipikir-pikir, benar juga apa kata Loisa. Lagian, dia sudah kelas 12, kelas persiapan Ujian. Jadi lebih baik, dia selesaikan dulu pendidikan ini. Toh, cuma tinggal beberapa bulan saja. Pikir mereka seperti itu.

"Baiklah, sayang.  Benar juga apa kata-mu. Jadi l, kamu tidak boleh lagi membuat ulah dan keras kepala terhadap Papi dan Mami, oke?" Balas Papa Very.

Loisa tersenyum, waktu bersama Mexime masih beberapa bulan lagi. Yah, di sinilah Titik terakhir Loisa. Jika sampai dia lulus dan tidak ada tanggapan dari Mexime, maka  Tinggallah sudah sebagai kenangan.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
17 Tahun Penantian [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang