19. Pelukan Menenangkan🤗

13 1 0
                                    

***SELAMAT MEMBACA***

🦴
🦴
🦴

Pagi ini, Loisa sudah siap untuk ke sekolah.

"Kak Mexime!" Loisa berlari kecil ke arah Mexime.

"Hm."

"Loisa bareng kak Mexime aja yah, ke sekolah? Kan kak Mexime mau ke kantor, jadi sekalian kan?"

"Tidak!" Mexime terus berjalan ke arah Garasi.

"Pak Bimo lagi sakit, kak. Gak bisa anterin Loisa."

"Pak Deny." Mexime rekomed Pak Deny, Sopir Pribadinya Mama Alentia.

"Gak ah, kak. Loisa malu bilangan Pak Deny."

"Jalan kaki." Ucap Mexime Sambil membuka pintu mobilnya.

Loisa buru-buru memegang lengan kemeja milik Mexime. "Loisa udah telat ini loh, kak. Mau, yah?"

"Hm." Deheman tanda setuju.

Loisa pun menyunggingkan senyum manisnya sambil berjalan ke arah belakang.

"Mau kemana?" Tanya Mexime dengan cepat saat Loisa ke arah pintu belakang.

"Mau masuk mobil, kak. Emangnya mau apa lagi?" Saat Loisa sudah berada di depan pintu mobil bagian belakang.

"Saya bukan sopir kamu." Loisa pun mematung di tempat.

Mexime pun langsung menekan tombol untuk pintu bagian depan mobil terbuka.

"Masuk!" Loisa pun langsung berjalan memutar mobil untuk duduk di bagian depan bersama Mexime. Kesempatan dalam kesempitan untuk Loisa.

Mexime pun menancapkan gas meninggalkan area Mension Reagavta ini.

Dalam perjalanan, Loisa hanya memperhatikan wajah tampan bak Dewa Yunani di samping ini terus-menerus. Baginya, tidak ada kebosanan dalam hal melihat wajah Mexime, dan juga tubuh atletis milik Mexime ini.

Mexime pun tak risih dan tak peduli dengan tatapan damba dari Loisa, baginya sudah kabal dengan hal ini.

Saat senyam-senyum, Loisa merasa sesuatu keluar dari hidungnya. Kepalanya sudah mulai sakit. Loisa perlahan menyentuh sesuatu yang sedang keluar itu.

*Darah?* Batin Loisa.

Loisa pun dengan tenang mengambil tisu dari dalam tasnya. Ia dengan sengaja memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, Ia tidak mau di ketahui oleh Mexime. Perlahan ia menghapus darah tersebut, sebelum mengalir jauh dan tumpah mengena pakaiannya. Buru-buru Ia membungkus tisu tersebut dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.

"Huhh!" Loisa menghembuskan nafasnya sesaat, kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi duduknya.

**Aisshh, ni kepala kok pusing sih?** Batin Loisa sambil memejamkan matanya.

"Kamu kenapa?" Mexime pun langsung menghentikan mobilnya saat melihat raut wajah Loisa yang seperti menahan sakit.

Loisa pun membuka matanya, "Eh, Loisa Gak apapa kok, kak. Loisa cuma pusing saja. Mungkin belum bisa beradaptasi dengan pewangi mobil yang kak Mexime Pake." Ucap Loisa sambil menampilkan senyum manisnya, dengan menahan sakit pada kepalanya.

"Hm."

**Ya Tuhan, sakit banget!** Batin Loisa menjerit.

Mexime kembali melajukan mobilnya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, "Kak Mexime gak boleh nakal-nakal, yah? Loisa masih terus incar kak Mexime loh. Ingat itu!" Peringat Loisa saat hendak keluar mobil. Mexime hanya menyimak.

17 Tahun Penantian [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang