28

2.5K 115 6
                                        

Sepulang sekolah, Bu Fina memintaku menemani Dimas berkeliling untuk mengenalkan setiap sudut Wisdom Primary School. Dimas berjalan di belakangku saat kami menyusuri koridor yang sepi.Saat seperti ini terasa aneh, terutama karena murid-murid sudah pulang dan hanya kami berdua yang tersisa di gedung sekolah ini.

"Ini kolam renang sekolah," ujarku menunjuk kolam besar yang tampak tenang di ujung lorong. "Dipakai setiap hari, tapi hanya saat jam pelajaran. Setelahnya, pintunya selalu dikunci. Anak-anak masih SD, jadi belum ada kegiatan ekskul yang berlangsung sepulang sekolah, kecuali hari sabtu."

Dimas mengangguk, matanya mengikuti arah pandangku. Sejak tadi, ia belum bicara banyak—hanya mendengarkan dan memberikan senyuman tipis. Ada sedikit kesal, sebenarnya. Kejutan tanpa kabar itu tak enak rasanya. Bayangkan saja setelah enam bulan tak ada kabar sama sekali, tiba-tiba dia menjadi guru di sekolah yang sama dengan tempatku mengajar.

"Kalau nggak ada yang ingin ditanyakan lagi, kita bisa pulang," lanjutku pura-pura acuh siap membalikkan badan.

"Nadine, tunggu," panggil Dimas tiba-tiba.

Aku berhenti dan menoleh, menatapnya dengan alis terangkat, "Ada apa?"

"Apa kabar?" tanyanya lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih serius.

Aku menghela napas, mencoba menahan perasaan yang mulai bercampur aduk, "Lo udah tanya tadi pagi, Dimas." Akhirnya aku tidak bisa menjaga profesionalisme-ku lagi.

Dimas tertawa pelan melihatku yang kembali menjadi diriku sendiri. "Kamu nggak mau nanya apa-apa ke aku?"

"Hah ... banyak yang pengen gue tanyain, sebenarnya. Tapi, gue pikir lo pasti sadar pertanyaan apa yang bakalan gue kasih."

Dia mengangguk pelan, memberikan kesempatan. "Silakan tanya aja, aku akan jawab."

Aku menarik napas, menatapnya sejenak sebelum akhirnya menumpahkan semua pertanyaan yang menggangguku.

"Kenapa lo tiba-tiba ada di sini? Kenapa nggak ngasih tahu kalau mau jadi guru di Wisdom? Enam bulan terakhir, lo kemana aja? Kenapa nggak sekalipun lo hubungin gue? Terus, lo tinggal di mana sekarang? Sama siapa? Sekolah di Hamparan Bintang gimana? Lo tinggalin mereka begitu aja? Dan ... kenapa lo nggak rindu sama gue, Dim?"

Dimas mendengarkanku dengan sabar, tapi senyum tipis di wajahnya perlahan memudar saat dia melihat mataku mulai berkaca-kaca. Pertanyaan terakhir yang kulontarkan adalah pertanyaan yang setiap hari ada di dalam isi kepalaku.

Dimas menarikku pelan ke dalam pelukannya. Aku menghela napas panjang, perasaan rindu yang selama ini kupendam akhirnya meledak.

"Maafkan aku," bisiknya pelan, tangannya mengusap lembut punggungku.

"Gue benci sama lo," gumamku di tengah isak tangis, meski tak benar-benar bermaksud demikian.

"Iya, aku tahu." Dia tetap memelukku erat.

"Kenapa nggak pernah ngabarin gue?"

Dimas menarik diri sedikit, menatap wajahku yang berlinang air mata. Tangannya mengusap pipiku, dan aku biarkan dia melihat betapa rapuhnya aku sekarang. "Maaf. Aku terlalu fokus bekerja," katanya.

"Bekerja?" Aku mengernyit, menunggu penjelasannya.

Dia mengangguk. "Saya mengajar les dari desa ke desa lain. Nabung untuk pembangunan sekolah," ujarnya lembut.

"Kenapa nggak bilang?" tanyaku lirih. "Gue dan Fiqih bisa bantu. Atau setidaknya, kasih kabar."

Dimas menggeleng pelan. "Mana mungkin aku mau merepotkan kalian lagi."

Kita & Bintang [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang