Hari kedua tanpa kehadiran Dimas di desa ini. Semangatku benar-benar lenyap. Rasanya aku ingin pulang ke kota, menghadap dosen, dan minta dipindahkan ke lokasi KKN yang lain. Di mana saja, asalkan bukan di Desa Hamparan Bintang ini. Aku belum siap menghadapi tatapan sinis dan gosip yang terus menyebar tentang sesuatu yang tidak pernah kulakukan.
Bayangan malam itu kembali berputar di kepalaku. Aku dan Dimas hanya duduk di atas bukit, menatap bintang-bintang, saling berbagi cerita sambil berpegangan tangan. Itu saja. Tidak ada yang lebih. Tapi apa yang disebarkan Lala si gadis bermulut ember itu terlalu berlebihan. Tentu saja warga lebih mempercayai dia. Lala gadis desa dari keluarga terhormat, sementara aku gadis kota yang cuma numpang lewat.
Saat sarapan bersama teman-teman di dapur, aku tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan rasa frustasiku. Dengan suara pelan aku bertanya, "Boleh nggak gue absen hari ini?"
"Kalau lo nggak enak badan, lo bisa di rumah aja. Kita juga bisa kasih tahu kepala sekolah, biar lo nggak perlu ngajar hari ini." Fiqih menatapku dengan penuh pengertian.
Aku tersenyum kecil. "Iya ... gue nggak ke sekolah dulu, ya."
Mereka semua menatapku dengan pandangan prihatin. Aku tahu mereka memahami situasi yang sedang kualami. Tapi di tengah keheningan itu, tiba-tiba Mita berseru, "Rasanya gue pengin nyambelin mulut si Lala tuh!"
Fiqih langsung menimpali dengan penuh semangat. "Sambelnya pakai cabe rawit lima ratus biji! Biar pedes banget, tuh!"
"Dan jangan lupa terasinya, ya! Biar mulut embernya itu jadi bau!" Sobara menambahkan seraya tertawa geli.
"Gue yang ikat tangan si Lala biar nggak bisa lari-lari nyebarin gosip lagi!" ujar Adri, tak mau ketinggalan.
Aku tidak bisa menahan senyum. Walaupun mataku sembab, setidaknya mereka berhasil membuatku tertawa. Rasanya seperti ada yang memelukku dengan kehangatan yang tulus. Aku merasa tidak sendirian, ada mereka yang siap mendukung dan menghiburku.
"Terima kasih, ya," kataku tulus sambil melihat mereka satu per satu.
"Semangat, Nad!" ujar Fiqih dengan senyuman penuh semangat.
"Jangan sampai lo kalah sama gosip kampungan kayak gitu, Nad," kata Sobara seraya mengacungkan jempolnya.
Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang kelabu, tapi entah bagaimana teman-temanku berhasil mengubahnya. Mereka telah memberi keberanian yang tadinya hilang entah ke mana. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diriku. Buat apa aku takut menghadapi mereka yang sudah menilaiku dengan salah? Tujuanku di sini adalah mengajar anak-anak desa ini, memberikan ilmu. Bukan untuk berdiam diri dan membiarkan gosip menghancurkan semangatku.
Aku bangkit dari kursi dan mengumumkan dengan mantap, "Gue ke sekolah hari ini."
Mereka semua menatapku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar serius.
"Nah, gitu dong!" Mita tersenyum lebar melihat semangatku yang kembali lagi.
Aku tersenyum, mencoba meyakinkan mereka sekaligus diriku sendiri. "Gue nggak akan biarkan mulut ember kayak Lala menghentikan langkah gue di sini. Anak-anak di sekolah nggak salah apa-apa. Gue nggak mau ngecewain mereka."
"Gitu dong, Nad! Gue bangga banget sama lo!" ujar Adri sambil mengepalkan tangan penuh semangat.
"Kita semua di belakang lo, Nad," tambah Fiqih sambil tersenyum.
***
Sesampainya di sekolah, seperti yang sudah aku takutkan, tatapan sinis langsung menyambutku. Guru-guru yang biasa tersenyum ramah kini hanya melirik dengan pandangan tak nyaman. Saat aku mencoba menyapa, mereka membalas dengan senyum terpaksa, tanpa sedikit pun ada sapaan balik. Aku menarik napas panjang, menenangkan diri. Ini hanya sementara, aku bisa melewati ini.
Teman-temanku yang tahu betul kejadian sebenarnya jelas tak terima. Mita bahkan hampir saja melontarkan klarifikasi di ruang guru tadi, tapi aku buru-buru menahan tangannya. "Nggak usah, Mit. Kita bukan warga sini, nggak usah pusingin gosip."
Mita menggerutu, "Tapi gue kesel, Nad! Orang-orang di sini gampang banget percaya omongan murahan kayak gitu."
Aku tersenyum pahit, menggenggam tangan Mita yang kesal. "Sudahlah, ini cuma sementara. Toh, kita bakalan pergi dari sini juga sebentar lagi."
Fiqih mendengus, wajahnya tampak tidak setuju, tetapi ia mencoba menahan diri. "Iya, tapi tetep aja, gue pengen banget ngerasain waktu dipercepat biar besok kita balik ke kota!"
Aku hanya mengangguk kecil, senyumku getir. Di lubuk hatiku, aku ingin sekali ini semua cepat berlalu.
"Gue nggak nyangka deh, ternyata orang sini gampang banget percaya sama gosip receh kayak gini," gumam Mita lagi, kali ini lebih untuk dirinya sendiri.
"Namanya juga desa, Mit," jawab Fiqih sambil melahap roti yang dibawanya dari rumah. "Gosip selalu berkembang lebih cepat."
Aku menatap mereka semua dan berkata pelan, "Mungkin seharusnya gue lebih hati-hati dari awal."
Fiqih dan Mita hanya diam, tetapi mereka mendekat, merangkulku sambil menepuk punggungku, seolah memberikan kekuatan.
***
Jam pelajaran berlalu seperti biasa, setidaknya di dalam kelas aku merasa normal. Anak-anak tak terpengaruh gosip, mereka tetap menghormatiku sebagai guru. Rasanya seperti ada tempat aman di sekolah, jauh dari tatapan sinis orang dewasa. Dan begitu jam pelajaran selesai, aku buru-buru pulang tak ingin lagi berkeliaran di luar rumah.
Begitu tiba di depan rumah, tubuhku tegang. Lala berdiri di sana dengan tangan bersedekap, ekspresinya penuh kemenangan. Senyum sinisnya membuatku ingin sekali meneriakinya. Mita, yang berjalan di sampingku, langsung memasang wajah galak. Sementara Fiqih, Sobara, dan Adri berdiri di belakangku, seperti bodyguard siap siaga.
"Ada apa?" tanyaku berusaha tetap tenang.
Lala melangkah mendekat, pandangannya merendahkan. "Gimana hari-harimu sebagai gadis nakal dari kota?" Nada suaranya penuh ejekan.
Aku menghela napas panjang, enggan meladeni mulut pedasnya. Mataku beralih, melihat ke arah lain berusaha tidak terpancing.
Lala menyeringai dan melanjutkan, "Aku cuma mau tanya satu hal. Buat apa sih kamu bela-belain Dimas? Apa kamu cari perhatian darinya? Kamu mau jadi pahlawan? Itu tidak membuatku terkesan sama sekali!"
Aku tersenyum sinis, menatapnya dengan tatapan dingin. "Sayangnya, gue emang nggak niat bikin lo terkesan," jawabku pelan namun penuh penekanan.
Lala terdiam sejenak, ekspresinya berubah. Aku tahu dia tidak menyangka jawabanku setenang itu.
"Tapi ... kalau gue bilang memang benar gue mau cari perhatian Dimas, gimana?," lanjutku, dengan nada sengaja mengejek, "Kira-kira kalau Dimas tahu kelakuan bocah lo ini, dia bakal gimana ya?"
Wajah Lala menegang, ekspresi percaya dirinya memudar.
Aku menyeringai, memutar bola mata dengan malas. "Kalau lo punya otak, pikirin deh. Apa dengan cara lo jelek-jelekin gue di depan semua orang lo bakal terlihat lebih baik? Gue jamin, lo bakal dibenci Dimas saat dia tahu kelakuan lo yang kekanak-kanakan ini."
Matanya membulat, tampak terkejut dan panik. Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki kendali atas situasi ini.
"Lo kira gue diam berarti gue lemah? Salah besar. Gue cuma mau lihat gimana akhirnya lo sendiri yang bakal jatuh karena omongan lo," bisikku seraya tersenyum sinis.
Lala membuka mulut, tampak ingin membalas. Tapi, tidak ada satu pun kata yang keluar. Aku tersenyum kecil, menatapnya seolah dia hanya bayangan masa lalu yang tak penting.
"Sudah gue duga. Cewek bego kayak lo nggak akan pernah berpikir panjang!" decihku, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah diikuti teman-temanku. Pintu rumah tertutup, menyisakan Lala yang berdiri membeku di teras. Sepertinya apa yang sudah kuucapkan, telah menyadarkannya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapatkan masalah besar karena ulahnya sendiri.
*
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita & Bintang [END]
Chick-LitDimas mengulurkan tangan. "Nama saya Dimas, Guru Matematika di sini." Aku mengangguk, tersenyum kikuk sambil menjabat tangannya yang terasa hangat dan kuat. "Saya Nadine." Dimas melirik benda yang kupegang sejak tadi. "Buat apa kamu bawa handphone?"...
![Kita & Bintang [END]](https://img.wattpad.com/cover/307234779-64-k316980.jpg)