Pukul lima sore, mobil kami meluncur perlahan memasuki Desa Hamparan Bintang. Angin sore yang berhembus lembut mengusik rambutku, menambah semangatku untuk kembali ke tempat yang nyaman ini. Namun, kami tidak langsung menuju rumah sementara kami. Sebaliknya, kami mampir ke rumah Pak Darma, kepala desa.
Sebelum turun dari mobil, aku melirik ke spion. Dengan cepat, aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan dan membasahi bibirku yang mulai kering. Alasan utamaku melakukan ini tentu saja adalah karena aku akan bertemu Dimas. Ah, sepertinya aku sudah terlanjur merasa ingin merebutnya dari Lala.
Setelah menyapa Pak Darma dan istrinya, Bu Darma, kami dipersilakan duduk di ruang tamu yang hangat. Sementara Bu Darma kembali ke dapur untuk menyiapkan minuman, aku merencanakan cara untuk menyelinap ke dalam dan mencari tahu lebih banyak tentang Dimas. Dengan alasan ingin ke kamar kecil, aku melangkah menuju lorong, mataku melirik pintu kamar Dimas yang tertutup rapat. Hati ini mendadak terasa sepi, mengetahui bahwa dia tidak ada di rumah.
"Nak Nadine." Suara lembut Bu Darma memanggilku saat aku keluar dari kamar kecil.
"Iya, Bu?" tanyaku, mendekat sambil melihat beliau membawa teh manis yang mengepul.
"Bisa bantu Ibu membawa ini ke ruang tamu? Dimas tidak ada, dia lagi di masjid," ujarnya sambil tersenyum.
"Di masjid? Sholat ya, Bu?" tanyaku, berusaha menyembunyikan rasa kecewa sambil mengangkat nampan berwarna cokelat tua yang ditawarkan.
"Bukan. Setiap Selasa dan Kamis, dia mengajari anak-anak belajar mengaji," jawab Bu Darma, berjalan di sisiku.
Aku hanya mengangguk, namun imajinasiku mulai melayang. Bayang-bayang Dimas dalam baju koko dan sarung terlintas di benakku. Seolah dia adalah suami idaman yang akan menjadi imam saat kami shalat berjamaah. Mendadak, wajahku memerah, tersipu dengan angan-angan yang menyenangkan itu.
"Nak Nadine?" Bu Darma menyadari senyumku yang tak bisa kutahan.
"Eh, i–iya, Bu?" Suaraku sedikit tercekat. Aku segera beranjak menuju ruang tamu, berusaha meredakan rasa malu yang melanda.
Kunjungan kami ke rumah Pak Darma adalah untuk memberikan donasi dari uang pribadiku dan Fiqih untuk membeli dinding dan atap sekolah yang sudah tidak layak pakai. Saat Pak Darma menerima dengan senang hati, ucapan terima kasih dan doa-doa baik mengalir dari bibirnya. Senang rasanya bisa membantu sesama, membuat hatiku yang tadinya gundah kembali terasa lega. Kebaikan ini terasa seperti sinar matahari di hati.
Setelah berpamitan pada Pak Darma dan Bu Darma yang tidak pernah berhenti tersenyum, aku menantikan saat bisa merebahkan diri di atas tempat tidur kecil dan sederhana. Punggungku terasa pegal setelah seharian duduk dan berjalan.
Namun, saat Mita membuka pintu rumah, dia mendapati sebuah amplop putih bertuliskan "Untuk Nadine."
"Nad, ada surat buat lo," katanya mengulurkan amplop itu padaku.
Dengan cepat, aku meraih amplop dari tangannya dan membaca tulisan di depannya. Beruntung saat itu hanya ada aku dan Mita karena Fiqih, Sobara, dan Adri masih sibuk menurunkan barang-barang belanjaan dari mobil.
"Ng ... Mit, gue ke kamar duluan, ya." Aku pamit pada Mita yang hanya mengangguk, memahami keinginanku untuk membuka surat tersebut.
Di dalam kamar, aku membuka amplop putih itu dengan penuh semangat. Di dalamnya terdapat selembar kertas bertuliskan, "Pukul 19.30 kutunggu di gapura."
Senyumku langsung merekah, membuatku merasa seperti melayang. Aku tahu surat ini dari siapa. Malam ini, akhirnya aku bisa jalan-jalan berdua saja dengan Dimas! Dalam hati, aku bersyukur pada semesta yang telah memberi kesempatan ini. Tidak sabar rasanya untuk memilih pakaian yang tepat dari lemari kayuku. Dengan semangat, aku melangkah menuju lemari, berencana untuk mempersiapkan diriku sebaik mungkin. Cuaca cerah di luar seolah mendukung rencanaku, dan aku merasa semua akan berjalan sempurna.
-Bersambung-
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita & Bintang [END]
Romanzi rosa / ChickLitDimas mengulurkan tangan. "Nama saya Dimas, Guru Matematika di sini." Aku mengangguk, tersenyum kikuk sambil menjabat tangannya yang terasa hangat dan kuat. "Saya Nadine." Dimas melirik benda yang kupegang sejak tadi. "Buat apa kamu bawa handphone?"...
![Kita & Bintang [END]](https://img.wattpad.com/cover/307234779-64-k316980.jpg)