Tanganku terus bergetar saat langkahku tiba di rumah Pak Darma, Kepala Desa. Dingin yang menyusup tak mampu menutupi ketakutanku. aku bahkan tak berani mengangkat wajah, sadar akan siapa saja yang duduk di ruang tamu itu.
Mata ini perlahan menangkap sosok-sosok yang sudah kukenal. Ada Pak Darma dan istrinya, Pak Imron yang terkenal sebagai pengurus masjid, dan Pak Budiman, kepala sekolah SDN Hamparan Bintang, tempatku mengajar. Tak ketinggalan Lala, yang duduk di sudut ruangan dengan ekspresi datar dan tatapan kosong.
Di tengah suasana yang terasa seperti sebuah sidang dadakan, aku mencuri pandang ke arah Pak Darma, berharap beliau segera membuka pertemuan yang jelas-jelas bukan undangan ramah tamah.
Sekilas, aku sempat menyesali keputusan untuk datang sendiri tanpa dukungan teman-teman. Kalau saja aku tahu akan dipojokkan begini, tentu aku tak akan datang sendirian. Setidaknya ada yang bisa menenangkan atau sekadar menjadi perisai.
Napas panjang kuembuskan, mencoba menenangkan emosi yang hampir tak bisa kubendung. Aku bisa menebak, jika sekali air mataku jatuh, maka semua kata yang ingin kusampaikan bisa berantakan tak berbentuk.
Pak Darma akhirnya berbicara, memecah sunyi yang mencekam, "Bu Nadine."
"Iya, Pak," jawabku pelan masih menunduk.
"Kami sengaja memanggilmu ke sini atas permintaan Dimas, anak saya." Suara beliau melembut, sesuatu yang tidak biasanya terdengar dari seorang Kepala Desa yang terbiasa tegas.
Aku menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Pasti, beliau akan segera menjelaskan tujuannya.
"Di depan para sesepuh desa ini, saya ingin bertanya lagi padamu, Bu Nadine. Saya harap kamu bisa menjawab dengan jujur dan tanpa tekanan."
Kutatap permukaan lantai, mencoba menghindari tatapan orang-orang yang menungguku memberi tanggapan. "Iya, Pak."
Pak Darma menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada berat, "Apa benar malam itu Bu Nadine pergi ke bukit?"
"Iya. Itu benar, Pak," jawabku singkat, menjaga agar suara tidak bergetar.
"Bersama seorang laki-laki?"
Sekali lagi, aku mengangguk kecil dan membenarkan.
Pak Darma mendesak, "Sekarang saya ingin tahu, dengan siapa kamu pergi malam itu?"
Aku menggigit bibir. Seakan semua keberanian yang sudah kukumpulkan menguap begitu saja. Rasanya jantung ini berdentam sangat kencang, bahkan detaknya saja bisa terdengar jelas di telingaku.
"Bu Nadine?" desak beliau lagi.
Aku bisa merasakan semua orang menunggu dengan tatapan tajam. Ingin sekali kuberitahu mereka yang sebenarnya, tapi suara itu tetap terhenti di tenggorokan. Hanya aku dan Dimas yang tahu apa yang terjadi malam itu.
Dimas duduk di sebelahku sekarang, diam namun tegas dalam sorot matanya. Tiba-tiba, ia berbisik pelan di telingaku, "Nadine, katakan saja pada mereka."
Aku menggeleng pelan, memohon lewat tatapan agar ia tidak memaksaku. Namun, Dimas tidak bergeming.
Lala yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara sinis, "Mana mungkin dia mau jujur. Ini semua adalah aibnya. Gadis seperti itu tak layak tinggal di desa ini. Usir saja dia!"
Dimas langsung memandang tajam ke arah Lala. "Jaga ucapanmu, Lala!" bentaknya tajam.
Lala mendelik kesal. "Kenapa kau bela dia, Dimas? Memangnya kamu tidak lihat bagaimana dia merusak nama baik desa kita?"
Dimas menantang balik. "Kalau kamu yang lihat sendiri, kenapa kamu tak berani bicara jujur di depan semua orang? Katakan pada mereka semua, bersama siapa Bu Nadine malam itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita & Bintang [END]
ChickLitDimas mengulurkan tangan. "Nama saya Dimas, Guru Matematika di sini." Aku mengangguk, tersenyum kikuk sambil menjabat tangannya yang terasa hangat dan kuat. "Saya Nadine." Dimas melirik benda yang kupegang sejak tadi. "Buat apa kamu bawa handphone?"...
![Kita & Bintang [END]](https://img.wattpad.com/cover/307234779-64-k316980.jpg)