Asap samar yang berasal dari sebuah rokok mengepul di udara bebas beberapa saat sebelum pada akhirnya menghilang diterpa angin yang berhembus.
Sosok yang dengan anteng duduk di dinding pembatas rooftop seraya menyesap rokok yang terselip diantara kedua bibirnya itu mengedarkan mata tajam nya ke sekeliling sekolah yang tampak terpampang jelas didepan matanya.
Sorot matanya tampak cerah dan hangat, namun siapa sangka jika kehangatan yang ditampilkan kedua mata itu nyata nya tidak se ramah yang terlihat.
Hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana gilanya mata itu jika berhasil menangkap sesuatu yang menarik penglihatan serta minatnya.
Orang itu mengambil rokok dimulutnya dan membuangnya begitu saja, beralih merogoh saku celana lalu mengeluarkan ponsel.
Ia mendongak, seulas senyum cerah terbit diwajahnya saat kedua matanya menatap langit berwarna biru cerah berawan.
Ia memfokuskan ponselnya, dan membidik pemandangan langit yang nampak indah itu menggunakan ponsel miliknya.
"Langitnya bagus." ucapnya seraya sedikit menyipitkan mata, menghalau sinar matahari.
Lalu tak lama mendengus. "Tapi sayang, mau sebagus apapun itu, gak bisa gue ambil."
Orang itu menoleh kebelakang, menatap seseorang yang saat ini tengah berbaring telentang diatas jajaran kursi yang disusun memanjang.
"Lo bisa tolong ambilin sesuatu yang mirip sama langit sialan itu gak Sam?" tanya nya sumringah.
"Jangan ganggu gue." timpal orang bernama Sam yang tengah berbaring menutup mata itu.
"Ck." orang itu berdecak seraya menatap Sam malas, ia kembali mengalihkan pandangan menatap lingkungan sekolah yang tampak hidup dari tempat duduk nya.
"Cewe yang kemaren dateng lagi." ucap Sam tanpa berniat membuka mata.
"Oh ya?"
"Lo mau gimana?"
"Yah, kayak biasa aja. Ini udah lebih dari tiga kali kan." timpal orang itu enteng seraya kembali menyalakan rokok nya.
Sam membuka matanya sedikit, ia terdiam sejenak sebelum bangkit dan duduk menatap lurus kearah orang yang tampak masih anteng duduk di tembok pembatas itu.
"Van."
"Hm?" cowo itu berbalik dengan rokok dimulutnya.
"Bulan ini udah tujuh orang." ucap Sam samar namun mampu membuat laki laki itu pahami.
Kekehan merdu merasuk ketelinga Sam terbawa bersamaan oleh angin yang berhembus.
"Trus kenapa? Bulan lalu malah ada sembilan orang." jawab orang itu sepele.
Alis Sam berkerut samar, ia tak mengerti jalan pikir orang didepannya ini.
Meski sudah terhitung sepuluh tahun sejak keduanya berteman, namun Sam tetap saja sulit memahami isi pikiran teman masa kecilnya itu.
Seperti misal, bagaimana bisa orang itu tetap diam dan tenang sedangkan diluaran sana para gadis atau mungkin bisa dikatakan para korban ke brengsekannya berbondong bondong mencarinya dengan wajah penuh air mata.
Meski sudah tahu kebiasaan orang itu yang senang membuang seseorang selayaknya barang sekali pakai, namun mau bagaimanapun Sam tetap saja tidak terbiasa.
Kesukaan temannya itu pada sesuatu yang tampak indah semakin parah dari waktu ke waktu, dan pada akhirnya. Dirinya lah yang harus membereskan kekacauan yang temannya itu perbuat, terlebih menjauhkan para wanita yang sudah terlanjur sakit hati itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXTRA'S
AcakON GOING - REVISI ____________________________________________ "Ini hidupku, entah itu suka maupun duka. Aku yang akan menentukan semuanya." _ Kaylie Bagaimana rasanya jika tubuh yang kamu mil...
