Sepasang kaki yang dibalut sepatu berwarna hitam bergaris merah itu berhenti tepat didepan sebuah gerbang sekolah bertuliskan SMA 13 GARDA MUDA.
Wajah Kaylie mendongak menatap plang besar itu sejenak, lalu beralih menatap orang orang yang juga terlihat berlalu lalang disekitarnya.
Tak sedikit diantara mereka ikut menoleh menatapnya lalu berbisik pelan, Kaylie bisa mengerti hal itu.
Kasus yang menimpanya tiga minggu lalu tentu saja akan membekas kepada beberapa murid lain, mengingat bagaimana mungkin kejadian seorang siswi kelas 12 yang jatuh dari tangga lantai dua dianggap kejadian yang lumrah dan sering terjadi.
Tentu itu akan tersebar diseluruh sekolah.
Peristiwa dimana Kaylie di dorong jatuh oleh para pembulinya tentu menyebar luas diseluruh sekolah besar ini, dilihat dari reaksi beberapa orang yang mengenal dan juga tahu siapa Kaylie.
Mengabaikan tatapan orang orang, Kaylie masuk dengan santai kearea dalam sekolah dengan acuh.
Ia sama sekali tak mengindahkan tatapan atau gunjingan orang orang padanya hingga kedua kakinya membawa nya kedepan sebuah kelas dengan plang bertuliskan 'Kelas 12 A2'.
Mengandalkan ingatan serta alur cerita didalam buku, Kaylie masuk tanpa ragu dan langsung saja diserbu tatapan teman teman sekelasnya.
Kaylie beberapa saat hanya terdiam sembari memindai ekspresi teman teman sekelasnya yang menampilkan raut wajah berbeda beda.
Mengacuhkan hal itu sepenuhnya, Kaylie kembali melangkahkan kaki menuju kearah bangku miliknya yang berada di sudut paling belakang bagian kelas.
Melihat tulisan tulisan dengan kata kata kasar yang terdapat di atas mejanya, Kaylie duduk begitu saja setelah menaruh tas miliknya diatas meja.
Ia merebahkan kepalanya diatas meja begitu saja, mengabaikan berbagai bisikan yang saat ini terdengar dikedua telinganya.
"Eh dia udah balik."
"Kasian sih anjir, tapi ya gimana."
"Cecil sama temen temennya emang udah keterlaluan sama dia."
"Hush, mulut lo. Kalo ada yang denger trus ngadu ke si Cecil gimana?"
"Udahlah biarin aja, gak ada kaitannya sama kita juga."
Kaylie mendengar semua bisikan dan gasak gusuk disekitarnya, namun ia lebih memilih diam tak menegur atau menggubrisnya.
Ia hanya berdecih pelan.
Pecundang.
Memejamkan mata beberapa saat, bel masuk pun berbunyi membuat seluruh murid mulai memasuki kelas masing masing, begitupun kelas Kaylie yang kini terlihat sudah penuh.
Kaylie membalikkan wajahnya ke sisi lain dengan malas, matanya sedikit menyipit saat mendadak mendapati seseorang kini duduk di bangku barisan sebelahnya.
Seorang gadis, dengan potongan rambut pendek dan wajah yang Kaylie akui tampak manis.
Gadis itu menatap kearah Kaylie dengan pandangan kosong dan terkesan polos, Kaylie yang ditatap sedemian rupa hanya bisa mengernyitkan alisnya bingung.
Gadis itu terlihat berkedip lalu seakan tersadar telah memandangi Kaylie terlalu lama, gadis itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.
Kaylie semakin dibuat heran, siapa sebenarnya gadis ini? Terlebih ia bersikap begitu santai kepadanya disaat teman teman sekelasnya yang lain menjauhinya.
"Salken oy." ucapnya tanpa suara kearah Kaylie.
Kernyitan di dahi Kaylie semakin mengetat.
"Nama gue Delia, inget! D.E.L.I.A." lanjutnya kini dengan sedikit berbisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXTRA'S
AcakON GOING - REVISI ____________________________________________ "Ini hidupku, entah itu suka maupun duka. Aku yang akan menentukan semuanya." _ Kaylie Bagaimana rasanya jika tubuh yang kamu mil...
