"Sayang."panggil dena dengan manja bersandar dibahu elgi disampingnya lalu menggandeng lengan elgi.
"Iya sayang, kenapa?"jawab Elga tanpa menoleh ke Dena.
"Gue boleh minta sesuatu gak?"tanya dena.
"Gue lagi sibuk sayang, bentar ya, setelah ini lu puas mau minta apa."jawab elgi memberi pemahaman ke dena, sebenarnya Elgi malas ngerjain tugas didekat dena, namun ekspetasi tak sesuai realita.
"Gue ... Pengen kayak temen-temen gue, udah ditunjukkan ke orangtua, biar orangtuanya tau, kan enak kayak gitu,"pinta dena manja.
Elgi langsung menghentikan aktifitasnya dilaptop, langsung minder dengan hidupnya yang berantakan, ia juga bimbang ingin menuruti perkataan Dena atau tidak, tapi ibunya tau elgi tidak pernah membawa pacar dan tak pernah mempertanyakan tentang pacar.
Dena melihat elgi yang termenung"Sayang, sayang!"panggil dena lalu menepuk pipi elgi.
Elgi langsung tersadar dan menoleh ke dena yang menatapnya sedari tadi.
"Eh iya sayang, emm besok ya, ntar bilang sama mama dulu ya? Biar tau,"
"Yeees gitu dong sayang, ya walaupun gue cuma dirumah aja, tapi pengen juga dikenalkan dengan keluarga, lalu kita menikah, kan udah 3 bulan, gini-gini gak terasa lo bentar lagi lahir,"ujar dena semangat menjadi mengeluh dengan kandungannya, walaupun elgi bukan ayahnya, tetapi elgi tetap menyuruh dena jangan digugurkan walaupun elgi bukan ayahnya, dan anak itu tak berdosa atas perbuatan orangtuanya.
"Iya sayang, besok yaaa,"bujuk elgi ke dena yang mengeluh menjadi tersenyum melihat elga yang membujuknya.
"Iya sayang, jangan lupa ya,"balas dena memeluk elgi.
Tepat jam 11 malam, elgi pelan-pelan bangun, beranjak dari kasur meninggalkan dena yang sudah terlelap, elgi menyerbak selimut lalu bergegas pergi keluar, tak lupa mengambil hpnya lalu pergi ke tempat aman.
Sampai diteras samping, elgi celingak-celingukan melihat sekitar sudah aman atau belum, elgi langsung menghidupkan hpnya, menghidupkan jaringan selulernya lalu menelpon ibunya.
Dirumah pak pratama, hp Sartina berbunyi bertanda ada yang menelpon, pak pratama dan sartina sadar tetapi mereka hanya diam.
Sartina menoleh ke nakasnya, tertera nama putra tunggalnya yang menelponnya, sartina langsung beringsut mengambil hpnya lalu bangkit melihat dilayarnya, ternyata putranya, sartina langsung menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Halo nak, ada apa malam-malam gini nelpon?"tanya sartina.
"Emm ma, elgi mau bicara sama mama, tapi ... Mama udah tidur? Jadi nganggi rasanya.'tanya elga memastikan.
Sartina menarik nafasnya lembut"Enggak sayang, memangnya elgi mau ngomong apa?"
"Besok, elgi pulang, tapi ... Sekalian bawa pacar elgi juga, katanya dia mau ketemu sama calon mertuanya, kan gak mungkin kan udah lama pacaran tapi gak ketemu-ketemu dengan calon mertua? Ya walaupun elgi gak teringat mau bilang, tapi elgi minta maaf ya ma, soalnya elgi sibuk, jadi wajar aja,"perjelas elgi dengan ragu, takut ibunya akan marah atau menolak.
Sartina menghundus nafasnya pelan lalu tersenyum"Ya udah gak apa-apa, bawa aja, ibu juga salah gak teringat mau bilang sama elgi suruh bawa kerumah. Eh tapi sekarang kamu di mana? Kok jarang pulang?"ujar sartina menenangkan putranya menjadi bertanya.
"Elgi di rumah tuan refarka ma,"jawab elga santai.
Deg!
Jantung sartina seperti berhenti sejenak lalu menyangka tak percaya apa yang dikatakan elgi barusan, karena sartina tau siapa tuan refarka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elga Aulia
Mystery / ThrillerPerjodohan itu memang biasa, tapi jika bisa, jangan sampai aku jatuh hati padanya -Auliana Maharani Soal hati mana ada yang tahu, tapi yang terpenting bagaimana kita bijak dalam mengendalikan suatu rasa -Elga Yudhawira Pratama Copyright 2021 Salam...
