Senandika hari ini tak menampakkan dirinya, Ann. Ia tenggelam dalam derasnya hujan yang mengguyur kota Surabaya tanpa memerdulikan bagaimana nasib orang-orang yang ada di sana. Lucu memang, ketika ia harus berusaha hilang lalu dicari banyak orang, sedangkan saat ia ada malah dicampakkan dengan dalih, "hujan datanglah untuk menyejukkan gerah yang sedari tadi bersimbah di tubuh ini." Hahaha, aku hanya tertawa mendengar hal itu, tanpa kusadari aku juga menginginkan hal yang sama.
*1*
Tubuh proporsional dengan warna kulit sawo matang ditunjang oleh jenjang kaki yang panjang disertai dengan lesung pipi yang menawan. Ratna Tri Rahayu, tetangga sebelah rumah Seno yang menjadi kembang desa karena paras dan lekuk tubuhnya yang menjadi idaman setiap lelaki.
Banyak yang sudah menyatakan lamarannya kepada Ratna, tapi ditolak mentah-mentah. Meskipun baru seumuran dengan Seno, tapi dia sudah dipinang banyak lelaki, mulai dari pejabat desa, saudagar kaya, bahkan lelaki Belanda juga tertarik padanya. Tak bisa dibayangkan betapa luar biasanya Ratna di mata lelaki itu. Mungkin bisa digambarkan dengan rambut panjang lurus sepinggang, biasanya ia sibak di belakang telinga yang membuatnya semakin mempesona. Selanjutnya mata sedikit sayu dengan tatapan teduh yang membuat mitra bicaranya betah untuk berlama-lama berbincang dengannya. Bibirnya eksotis, bagian bibir bawah sedikit tebal dengan senyum yang dihiasi oleh lesung pipi yang menawan.
Sementara itu, Ratna dan Seno adalah teman semasa kanak-kanak. Mereka sudah akrab satu sama lain, dengan nama yang sudah melekat dipikiran masing-masing. Ada kalanya Ratna mengunjungi Seno hingga masuk ke dalam kamarnya. Karena memang tak ada seorang pun di rumah Seno kecuali ayahnya. Seno bercerita banyak hal tentang siapa itu Annalise, dan bagaimana sikap Annalise terhadapnya. Cerita itu diungkapkan seno dalam beberapa pertemuan intim, sehingga Seno akan menceritakan secara detail bagaimana dan apa saja yang sudah dia alami hingga saat ini.
*2*
Waktu semakin berlalu, dengan iringan gemercik hujan di luar kamar Seno. Ratna masih melanjutkan ritme yang sudah di bangun semasa mereka kecil. Tapi tidak seperti sekarang ini, pemuda dan pemudi yang saling mendengarkan tanpa harus berbicara, memahami tanpa harus berdiri, melakukan tanpa harus disuruh, mensiasati tanpa harus dilengkapi.
*3*
Senandika tak kunjung datang, hujan juga juga tak kunjung padam. "Apalah arti cinta yang sesungguhnya? Mungkin kita hanya tahu kata cinta tapi tak pernah bisa mendefinisikan apa itu." Kata Seno pada Ratna yang sedang memeluk tubuhnya. Ratna menjawab, "aku hanya bisa menguatkanmu dari sisi ini." Perkataannya lembut dengan mengusap dada kiri Seno.
"Bagaimana kabarmu, Rat? Apakah aku masih layak untuk mendapatkan cinta dari seorang perempuan?" Tanya Seno dengan melas.
"Kamu masih layak kok, Mas, mendapatkan cinta dari siapapun, termasuk aku." Bahkan suara Adele kalah lembut oleh suara Ratna yang sedang merajuk Seno.
Bergetar hebat hari-hari Seno yang kelam, ketika semua berubah seratus delapan puluh derajat. Tak disangka ternyata masih ada perempuan yang mencintai Seno dengan rasa yang serupa.
Perlahan nama Annalise sudah tertumpuk oleh perlakuan-perlakuan hebat seorang Ratna Tri Rahayu, sehingga Seno pun menganggap Annalise hanya masa lalu yang harusnya dilupakan.
*4*
Seperti kanigara, renjana pun ditegakkan. Tanpa penyesalan, sampai mana kita terus berada dalam kegelapan malam? Tanpa ada cahaya yang memudarkan gelapnya, serta bayang semu yang mengikuti ke mana kau akan bertemu.
Setitik jumpa, tak bisa kau tempuh, maka aku yang menuntunmu rindu, di pelataran kedai kopi bernuansa minimalis, Ganting 19 April 2022.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Short StoryAnnalise Dwight Rossevelt seorang perempuan tinggi semampai, bermata biru, berambut menyerupai bunga matahari, dan anting merah delima yang selalu ia kenakan menjadi saksi di pelipis matamu senja itu berlabuh.
