Deel Veertien

12 2 0
                                        

Malam menggantung tanpa suara. Selembar surat tua yang terlipat rapi, diselipkan dalam amplop berwarna gading, tiba-tiba muncul di bawah pintu kamar Seno. Tanpa nama pengirim, hanya aroma melati yang samar menyertai. Jantungnya berdetak tak beraturan saat merobek pinggiran amplop itu.

Surat itu bukan sekadar tulisan, ia adalah hujan yang jatuh setelah musim kemarau berkepanjangan. Annalise menulisnya dengan tinta air mata dan patah harapan. Di setiap lekuk hurufnya, tersimpan luka yang tak mampu dituturkan langsung.

Als je dit leest, weet dan dat ik nooit weg wilde gaan.
(Jika kau membaca ini, ketahuilah aku tak pernah ingin pergi.)

Seno menatap huruf-huruf itu lama. Terlalu lama. Seolah huruf-huruf itu hidup dan menggugatnya karena telah menyerah lebih dulu pada waktu.

Dalam suratnya, Annalise mengungkapkan bahwa ia dipaksa oleh Robert—kakaknya—untuk menikah dengan seorang pejabat Belanda demi menyelamatkan ibunya dari pengasingan. "Cinta adalah kemewahan yang harus aku tinggalkan, Seno," tulisnya. "Aku ingin melawan, tapi pada saat itu, kekuasaan dan patriarki lebih kejam dari segala bentuk peluru."

Ratna, yang selama ini setia mendengarkan keluh kesah Seno, ternyata menyimpan kunci dari seluruh pengkhianatan ini. Ia menemukan surat itu lebih dari setahun lalu dan menyembunyikannya. Bukan karena benci pada Annalise, tapi karena cinta yang terlalu getir pada Seno.

Ze is dood. Ik hoorde het van een reiziger.
(Dia sudah mati. Aku dengar dari seorang musafir.)
Begitu kata Ratna, dengan suara yang disamarkan oleh kecupan di dada Seno.

Seno membaca surat itu seperti membaca sisa hidupnya yang tertinggal. Ia menangis, bukan karena cinta yang kandas, melainkan karena waktu yang dicuri dan rasa yang dikhianati.

Ia teringat lukisan siluet Annalise yang belum selesai. Seketika ia bangkit, meraih kuas, dan menyapu kanvas dengan amarah yang berubah menjadi kesedihan yang tak bernama. Sebuah potret tanpa wajah, tapi penuh gejolak.

“Je liegt, Ratna.”
(Kau berbohong, Ratna.)
Suaranya dingin ketika mereka bertemu. Ratna hanya terdiam, seperti bumi yang ditikam gempa dan tak sempat menyelamatkan siapa-siapa.

“Aku mencintaimu, Seno. Bahkan saat kau mencintai hantu yang tak kembali.”
“Annalise bukan hantu. Dia hidup di setiap mimpi dan di setiap sudut lukisanku.”

Ratna menangis, tetapi tangisnya tak menemukan tempat untuk pulang. Ia mencintai seperti seorang anak kecil yang memeluk api. Seno tak lagi memeluknya. Dunia mereka telah retak, dan kepingannya tidak saling cocok.

Di stasiun tua, tempat terakhir Seno dan Annalise bicara, seorang pelayan tua menghampiri. “Tuan Seno... Nona Annalise menitipkan ini dua tahun lalu.” Sebuah liontin kecil. Di dalamnya foto mereka berdua. Di baliknya terukir:

Voor altijd. Met jou of zonder.
(Selamanya. Denganmu atau tanpamu.)

Hari itu, Seno menulis surat untuk Annalise. Ia tidak menulis permintaan atau harapan. Ia menulis luka. Dan ia bersumpah akan mencari gadis itu—jika masih bernapas.

Perjalanannya membawanya ke Bandung, tempat kabar terakhir tentang Annalise muncul. Tapi kota itu hanya memberi kabut, bukan kepastian. Sampai ia menemukan galeri seni kecil di pinggir kota.

Di sudut ruangan, tergantung sebuah lukisan kabur. Judulnya: De vrouw in de nevel (Perempuan dalam kabut). Seno menggigil. Itu potret Annalise. Wajahnya seperti kabut yang dipahat oleh rindu. Dan di pojok kiri bawah, ada coretan samar:

Je pense à toi.
(Aku memikirkanmu.)

Ia bertanya tentang pelukisnya. “Sudah lama pergi ke Belanda. Namanya Annette.”
Annette. Ann yang baru. Ia menciptakan hidup baru dari reruntuhan masa lalu.

Seno menitipkan suratnya pada kurator galeri. Ia menulis:
Je moet het weten. Ik ben nooit gestopt met wachten.
(Kau harus tahu. Aku tak pernah berhenti menunggu.)

Kepulangan Seno ke Surabaya bukan untuk melupakan. Ia mulai melukis kembali. Kali ini, lukisan-lukisannya lebih tenang, tapi lebih dalam. Ratna tak pernah kembali, hanya sesekali terlihat di kejauhan, seperti bayangan yang ragu untuk kembali menjadi manusia.

Annalise tak pernah membalas. Tapi tiap kali kabut turun di sore hari, Seno merasa ada seseorang yang menatap dari kejauhan. Mungkin cinta, mungkin ilusi. Tapi ia tidak lagi peduli. Ia hanya melukis.

Als jij nog ademt, ik zal schilderen.
(Selama kau masih bernapas, aku akan melukis.)

Lukisan-lukisannya tak dijual. Ia biarkan orang datang, menangis, dan pulang. Ia percaya, rasa tidak harus selalu memiliki nama atau alamat.

Pada hari ke-730 setelah surat itu ditemukan, seekor burung merpati hinggap di jendela. Di kakinya terselip gulungan kecil:

Seno, ik zag je werk. Je hebt me tot leven gebracht.
(Seno, aku melihat karyamu. Kau telah menghidupkanku kembali.)

Dan di atas kanvas terakhirnya, Seno menulis dengan ujung jari:

Voor liefde die overleeft, zelfs als de wereld ons tegenwerkt.
(Untuk cinta yang bertahan, meskipun dunia menentangnya.)

AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang