Baris Terakhir (De Laatste Regel)

13 3 0
                                        

Langit di atas Amsterdam tak sedang bersedih. Ia hanya diam. Seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu lama, hingga tak lagi tahu bagaimana caranya menangis. Pohon-pohon menggigil pelan, seperti tubuh tua yang tak ingin meranggas, tapi harus. Angin membawa bau kertas tua, dan aroma tipis bunga melati yang entah dari mana datangnya. Mungkin dari halaman yang belum sempat tertulis.

Raisa duduk di lantai kamar yang dulu dihuni Annalise. Jendela sedikit terbuka. Tirai putih berkibar malas. Di pangkuannya, sebuah jurnal tua, kulitnya telah merekah, seperti bibir seseorang yang terlalu sering mencium kenangan. Di dalamnya, bukan puisi. Bukan pula prosa. Hanya baris-baris pengakuan yang ditulis dengan darah yang dibalut tinta.

Seno tak lagi melukis. Tangannya gemetar. Bukan karena usia, tapi karena rasa yang tertinggal di sela-sela jemarinya. Ia pernah memeluk Annalise dengan tangan itu. Ia pernah kehilangan Annalise dengan tangan yang sama.

Dalam jurnal itu, Raisa membaca cerita yang tidak pernah diceritakan. Tentang malam-malam di Amsterdam yang dingin, tentang jari-jari Robert yang terlalu asing namun terlalu dekat. Tentang suara tangis yang harus dibungkam karena dunia tak mengizinkan perempuan untuk luka.

Tapi di sela itu, ada halaman yang berhenti di tengah kalimat. Sebuah jeda. Bukan karena tinta habis, bukan karena kertas robek. Tapi karena waktu memang tak memberi Annalise cukup ruang untuk menyelesaikannya.

"Jika aku tak sempat menuliskan akhir, tolong kau yang melanjutkan."

Itu baris terakhirnya.

Dan Raisa mematung. Karena ia tahu, ini bukan sekadar permintaan. Ini wasiat. Ini cara Annalise menyampaikan cinta yang tak bisa dikirim lewat surat pos.

Seno mengetuk pintu kamar itu. Pelan, seperti dulu ia mengetuk pintu hati Annalise. Tapi kali ini, tidak ada yang membukakan.

"Aku tak tahu bagaimana menutup sesuatu yang tak ingin ditutup," katanya.

Raisa menjawab dengan suara pelan, "Barangkali, kita tak perlu menutupnya. Hanya perlu membacanya perlahan."

Malam itu, di Vrije Woord—tempat sunyi para penyair yang tak pernah dipeluk oleh sejarah—Raisa berdiri di depan podium kecil. Di tangannya, secarik kertas dari jurnal Annalise.

“Aku bukan ibu yang sempurna. Bukan perempuan yang kuat. Tapi aku pernah mencintaimu dalam sunyi yang tak terbantahkan.”

Tak ada tepuk tangan. Hanya sepasang mata tua yang meneteskan air mata. Hanya lantai kayu yang merintih karena langkah kehilangan.

Seno menatap dari belakang ruangan. Ia ingat malam itu di Pegirian, saat Annalise mengenakan gaun putih dan menyanyikan lagu dari masa kecilnya. Ia tak tahu bahwa saat itu adalah terakhir kalinya ia melihat mata Annalise tanpa kabut.

Di Amsterdam, kabut datang tanpa permisi. Seperti kenangan. Seperti rasa bersalah.

Di rumah tua peninggalan Belanda itu, Raisa tidur dengan jurnal di bawah bantalnya. Ia ingin mendengar suara ibunya dalam mimpi, tapi mimpi itu tak kunjung datang.

Pagi harinya, ia menulis. Bukan puisi. Tapi catatan kecil yang ia letakkan di halaman terakhir jurnal itu.

"Ibu, aku akan terus menulis... karena kau pernah percaya aku bisa."

Seno menemukan Raisa duduk di balkon, menatap langit. Tak menangis. Tapi matanya merah. Seperti seseorang yang baru saja merelakan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia genggam.

"Dia ingin kamu melanjutkan," kata Seno.

Raisa mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku takut."

"Tak apa takut," kata Seno. "Yang penting, jangan berhenti."

AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang