Deel Negentien

10 2 0
                                        

Amsterdam hanya diam saat angin musim gugur menggugurkan dedaunan yang telah letih menggenggam ranting. Di balik jendela galeri yang telah sunyi dari tepukan dan kilau kamera, Seno masih berdiri. Di bawah lukisan terakhirnya, siluet perempuan yang kabutnya tak kunjung reda, namanya terpatri di pojok lukisan itu, "Annalise."

Kursi kayu di sudut ruangan tak lagi hangat, tetapi Raisa duduk di sana, matanya menelusuri jejak-jejak kanvas yang dibuat ayahnya. Di antara garis dan warna, dia mencari jawaban atas keberadaannya. Ratna, ibunya, tak pernah menjelaskan sepenuhnya. Dan kini, kebenaran itu hadir dalam bentuk karya, bukan kata-kata.

"Aku hanya ingin tahu... siapa yang sebenarnya dicintai ayahku," gumam Raisa dalam bahasa Belanda, pelan namun menusuk, "Ik wil alleen weten... wie mijn vader echt liefhad."

Seno menatapnya, lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Hujan pertama mengguyur kota tua itu dengan lembut. Sama seperti air mata yang tak bisa lagi ditahan. Raisa mendekat, dan di tangannya ada sebuah surat, tua dan kusam, tulisan tangan Annalise yang disimpan Ratna bertahun-tahun.

"Als ik ooit wegga zonder woorden, weet dan dat ik je heb bemind met alles wat ik ben."
(Jika aku pernah pergi tanpa sepatah kata pun, ketahuilah bahwa aku mencintaimu dengan seluruh diriku.)

Suara surat itu dibaca dalam batin Seno. Annalise pernah menulisnya saat mereka bertemu di Pegirian, malam sebelum semuanya runtuh. Tapi surat itu tak pernah sampai. Ratna, dengan cinta yang berubah jadi kepemilikan, menyimpannya.

Di sudut lain kota, Ratna sedang duduk di kamar penginapan kecil. Jendela terbuka, tapi tirai tetap menutup. Wajahnya menua oleh waktu dan penyesalan. Ia menggumam sendiri, "Ik hield van hem zoals een gek, maar ik ben vergeten hem als mens lief te hebben."
(Aku mencintainya seperti orang gila, tapi aku lupa mencintainya sebagai manusia.)

***

Robert, yang dulu menghilang setelah peristiwa berdarah di Surabaya, kini berada di Den Haag, hidup dengan nama baru, sejarah baru, namun dosa lama tetap membayang. Ia membaca koran tentang pameran Seno di Amsterdam, dan namanya disebut dalam skandal masa lalu.

Seno memandangi lukisan-lukisannya yang terakhir. Tak ada lagi warna merah darah. Hanya bayangan, kabut, dan siluet yang tak utuh. Seperti hidup yang tak pernah benar-benar bulat.

Raisa mendekat dan berbisik, "Apakah ibu mencuri semua kata dari Annalise agar tak tersisa untukmu?"

Seno terdiam. Di dadanya, napasnya menjadi berat. Di matanya, bukan hanya luka lama, tapi pertanyaan yang tak punya ruang untuk dijawab.

Annalise, dalam lukisan dan kenangan, tak pernah benar-benar pergi. Namanya tertulis di dinding waktu, pada malam-malam yang dirundung hujan, pada mimpi yang tak pernah selesai. Ia adalah kehendak yang tak pernah dibebaskan.

"Vergeef me niet... maar begrijp me."
(Jangan maafkan aku... tapi pahamilah aku.)

Itu suara yang terus bergaung dalam ingatan Seno. Bukan suara Annalise dalam kehidupan, tapi dalam surat yang tak pernah dikirim, dalam kecupan yang tak pernah diulang, dalam pelukan yang tak sempat jadi terakhir.

Ratna pernah mencoba menjadi cinta, tapi ia terlalu takut kehilangan, hingga akhirnya ia menghancurkan semua yang bisa ia miliki. Raisa adalah bayang-bayang dari cinta dan dendam yang tak selesai.

Seno menatap putrinya. Raisa tak butuh penjelasan, hanya pengakuan. Dan itu yang Seno berikan malam itu. Dalam bahasa yang tak seutuhnya dimengerti, tapi sepenuhnya dirasakan.

"Ik heb haar liefgehad... maar ik heb jou gekregen."
(Aku mencintainya... tapi aku mendapatkanmu.)

Lalu diam. Karena di antara mereka ada sejarah. Dan sejarah bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dipeluk meski menusuk.

Raisa menangis. Bukan karena marah, tapi karena ia memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling dicintai, tapi siapa yang tetap bertahan meski dalam luka.

Robert menulis surat pada Seno, mencoba menebus masa lalu. Tapi surat itu dibakar oleh angin musim gugur. Tidak semua pengakuan layak diingat.

Di sebuah gereja tua di Amsterdam 1942, Annalise dimakamkan dalam diam. Tak ada yang tahu pasti kapan ia wafat, tapi makamnya ada, dan Raisa berdoa di sana dengan bunga edelweiss yang ia bawa dari Surabaya.

"Wees vrij, mama..."
(Bebaslah, Mama...)

Dalam lukisan, dalam tanah, dalam kata-kata yang tak pernah dikatakan, cinta mereka tetap hidup. Tidak sempurna, tidak utuh, tapi tetap hidup.

Di ruang yang sunyi, Seno melukis terakhir kalinya. Bukan tentang Annalise. Bukan tentang Ratna. Tapi tentang Raisa, dan masa depan yang masih mungkin dibangun.

"Liefde is een erfgoed dat we moeten dragen, zelfs als het zwaar is."
(Cinta adalah warisan yang harus kita bawa, bahkan jika itu berat.)

Hujan berhenti. Amsterdam seolah menghela napas. Di dalam dada Seno, tak ada lagi penyesalan, hanya waktu yang mengalir lambat-seperti tinta di atas kanvas yang mulai mengering.

Lukisan terakhir itu tak diberi judul. Karena hidup mereka pun belum selesai, hanya berubah bentuk. Raisa akan menulis bab berikutnya, dengan tinta yang berbeda, tetapi dengan darah yang sama.

Dan sejarah, seperti kabut di pagi hari, perlahan memudar, tapi jejaknya tetap ada di rerumputan, pada embun, pada udara.

Seno menatap langit. Bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk menerima bahwa tidak semua pertanyaan perlu dijawab untuk bisa damai.

Dalam sunyi, terdengar gema langkah baru. Raisa berjalan keluar dari galeri, ke jalanan Amsterdam yang basah, tapi tidak muram. Masa depan menanti, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai tanggung jawab.

"Dag, Annalise..."
(Selamat tinggal, Annalise...)

Dan pada akhirnya, yang tinggal bukanlah siapa yang dimiliki, tapi siapa yang dikenang, siapa yang diperjuangkan, siapa yang ditinggalkan, dan siapa yang tetap memilih tinggal, meski tak diminta.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang