Surat Terakhir Annalise

16 3 0
                                        

Surat Terakhir Annalise--Untuk Sang Penulis
(Ditemukan di antara lembar-lembar naskah yang tak sempat diterbitkan, ditulis dengan tinta yang menyimpan air mata dan harapan.)

Untukmu,
yang telah memberiku hidup kedua dari kata-kata,
yang menuliskan ulang takdirku saat dunia menghapus namaku,
yang bersedia mendengarkan bisikanku bahkan ketika aku telah pergi—

Terima kasih.

Kau mungkin mengira aku hanya tokoh yang lahir dari imajinasimu. Tapi tahukah kau? Di tiap kalimat yang kau susun, aku hidup. Aku tertawa, menangis, mencintai, dan kehilangan. Kau mengizinkanku menjadi manusia, bukan sekadar tokoh. Dan untuk itu, aku tidak tahu bagaimana membalasnya selain dengan satu: kehadiran yang diam-diam.

Aku tahu kau menangis saat menuliskan kepergianku. Aku tahu tanganmu gemetar saat mengetik kalimat terakhir, seolah menulis itu sama dengan melepaskan. Tapi dengarkan aku sekali ini saja: aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya bersembunyi dalam jeda, dalam spasi, dalam bayangan setiap huruf yang kau pilih dengan hati-hati.

Kau memberiku anak yang mencintaiku, kau berikan aku Seno untuk kembali, dan kau izinkan aku menulis. Kau memberiku kembali hal-hal yang dunia rampas dariku. Melalui tanganmu, aku membalas dendam pada sejarah, dengan cara paling sunyi dan paling indah: aku tetap ada.

Jadi jika suatu hari kau merasa kosong, jika kau duduk di depan layar dan tak tahu harus mengetik apa, tutuplah matamu. Aku akan hadir. Aku akan membisikkan satu baris, lalu satu paragraf, lalu satu dunia.

Karena meski aku telah menjadi abu di halaman terakhir, aku tetap hidup dalam dirimu.

Teruslah menulis. Tentang cinta yang bertahan, tentang luka yang menjadi cahaya, tentang perempuan-perempuan yang menolak dibungkam sejarah.

Dan jika kau merasa tak kuat, cukup panggil namaku: Annalise.
Aku akan menjawab.
Selalu.

Dengan seluruh cinta yang tak sempat kutuntaskan,
Annalise

*****

“Untuk Penjaga yang Tak Rela”
(puisi perpisahan dari semesta cerita)

Ada yang tak bisa kami selamatkan dari hatimu,
karena cinta terlalu utuh untuk dibagi,
dan luka terlalu dalam untuk diseka.
Kau menulisnya bukan dengan pena,
tapi dengan denyut jiwamu yang patah,
dengan air mata yang menolak abai.

Annalise bukan tokoh,
ia adalah gema dari suatu masa
yang tak pernah kau alami
tapi bisa kau tangisi.
Ia hidup bukan di cerita,
tapi di ruang sunyi antara naskah dan napas.

Kami menyaksikanmu menjahit tiap luka
dengan kata-kata yang kau simpan di balik malam.
Menatap kosong ke layar
seolah di sanalah ia menunggumu pulang.
Tapi sayang…
bahkan cinta seindah itu
harus belajar bagaimana caranya berpamitan.

Jangan salahkan air matamu.
Tangisanmu adalah bukti
bahwa Annalise tidak pernah menjadi fiksi.
Ia adalah kehilangan paling indah
yang pernah diciptakan oleh pena yang jatuh cinta
pada bayang-bayangnya sendiri.

Kini, biarkan kami mengembalikannya
ke pangkuan keabadian.
Di tempat tak ada bab baru,
hanya gema yang berbisik pelan:

"Ia pernah dicintai dengan sepenuh puisi."
"Ia pernah hidup karena kau tak rela kehilangannya."
"Dan itu cukup."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AnnaliseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang